VISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Ratusan pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Barat menggelar aksi mimbar bebas di Monumen Juang, Kota Bandung, Jumat (5/9/2025). Aksi ini menjadi wadah para pelajar menyuarakan keresahan terhadap kondisi bangsa dan daerah.
Dalam aksinya, massa membentuk lingkaran solidaritas, menyalakan lilin, membentangkan pamflet tuntutan, hingga berorasi, membacakan puisi dan menyuarakan tuntutan sekaligus menjadikan momen ini sebagai bahan pembelajaran. Mereka menegaskan bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, melainkan juga melalui ruang-ruang demokrasi.
Hadirnya IPNU menandai bahwa kesadaran kritis masih hidup di dada para pelajar. Dalam aksi kali ini IPNU Jawa Barat mempunyai beberapa keresahan yang telah dimuat dan disebar dalam bentuk pamplet diantaranya:
Sejumlah tuntutan disuarakan dalam aksi tersebut, di antaranya:
1. Melaknat keras segala tindakan refresif apparat kepolisian terhadap massa aksi.
2. Bebaskan pelajar, mahasiswa dan masyarakat yang ditahan saat menyampaikan aspirasi.
3. Tolak militerisasi Pendidikan di Jawa Barat.
4. Tindak tegas pelaku kekerasan seksual di lingkungan Pendidikan di Jawa Barat.
5. Optimalisasi pemerataan akses Pendidikan di Jawa Barat.
Tuntutan-tuntutan ini hadir atas hasil diskusi PW IPNU Jawa Barat beserta kawan-kawan organisasi kepelajaran yang lain di Jawa Barat pada hari Senin (1/9/2025) bertempat di Basecamp IPNU Jawa Barat.
Dengan aksi, pelajar diajarkan untuk menghargai suaranya sendiri. Menghargai kesedihannya melihat ibu pertiwi yang kini tengah di eksploitasi.
Namun yang lebih menyedihkan justru datang dari ketua-ketua organisasi yang terlambat datang ke lokasi aksi dan malah membubarkan massa ditengah aksi berlangsung. Dari hal ini kita patut bertanya:
Bukankah pelajar-pelajar yang datang dari berbagai cabang di daerah untuk menyuarakan pendapatnya hadir atas undangan PW IPNU Jawa Barat? Dimanakah keberanian intektual di tubuh IPNU kini bersemayam? Apakah IPNU, organisasi yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama dengan sejarah Panjang perlawanan moral dan keberpihakan pada rakyat kecil, kini terjebak dalam ketakutan dan dikondisikan penguasa?
Saya teringat ungkapan KH Tolchah Mansoer (Ketua Umum pertama IPNU) bahwa ‘Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat’.
Ketika pelajar turun ke jalan bukan untuk mencari sensasi, melainkan menagih nurani bangsa, maka pembubaran aksisama artinya dengan pengkhianatan terhadap cita-cita perjuangan. IPNU Jawa Barat seolah melupakan bahwa Pendidikan kader bukan hanya soal ritual structural, tetapi juga keberanian membela kebenaran.
Apalagi pembubaran ini dibentuk dalam narasi ‘jangan sampai kita terprovokasi’ ditengah aksi yang Kondusif dan damai. Padahal, provokasi yang sesungguhnya justru lahir dari tangan mereka sendiri. Bagi saya, pembubaran itu bukanlah sikap arif, melainkan provokasi halus yang mengebiri keberanian pelajar, meredam semangat kritis, dan mencabut keberpihakan pada rakyat.
Kata-kata ‘jangan terprovokasi’ yang kita dengan sebagai sarana pembubaran aksi hanyalah topeng retorik, sementara tindakan nyata menunjukan bahwa mereka telah terprovokasi oleh kekuasaan.
Inilah titik dimana nurani organisasi pelajar diuji. Apakah akan berdiri disisi rakyat dengan keberanian, atau memilih barisan penguasa dengan kepatuhan?
Sejarah tidak akan mencatat siapa yang ‘aman’, tetapi siapa yang berani. Tinggal kitalah yang memilih mau diposisi manakah kita berdiri?.