Search
Close this search box.

Iran Sendirian Hadapi Tekanan AS, Rusia dan China Pilih Menepi

Rudal Iran dipajang di Museum Angkatan Antariksa Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) di Teheran, Iran, 12 November 2025. Majid Asgaripour/WANA (Kantor Berita Asia Barat)./visi.news/source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya. Namun di tengah eskalasi tersebut, Teheran justru terlihat semakin terisolasi, karena dua mitra strategisnya, Rusia dan China, memilih tidak terlibat langsung dalam konflik.

Serangan yang dilancarkan Iran meluas hingga melampaui kawasan Timur Tengah. Rudal dan drone yang ditembakkan dilaporkan mencapai wilayah Siprus, Azerbaijan, Turki hingga sejumlah negara Teluk. Targetnya mencakup fasilitas energi, kilang minyak, jalur pasokan utama, serta pangkalan militer Amerika Serikat.

Dampak serangan tersebut langsung terasa pada pasar energi global. Gangguan terhadap fasilitas minyak dan gas serta terhentinya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur yang membawa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—memicu lonjakan harga energi dan mengguncang pasar internasional.

Di tengah situasi tersebut, Rusia dan China hanya memberikan respons berupa kecaman diplomatik dan seruan untuk menahan diri. Para analis menilai sikap tersebut mencerminkan perhitungan strategis yang sangat hati-hati dari kedua kekuatan besar itu.

Pakar Rusia dari Washington Institute, Anna Borshchevskaya, mengatakan Moskow tidak memiliki kepentingan untuk terlibat langsung dalam konfrontasi militer dengan Amerika Serikat.

“Putin memiliki prioritas lain, dan yang paling utama adalah Ukraina. Akan sangat tidak bijak bagi Rusia untuk masuk ke dalam konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat,” ujarnya.

Seorang sumber senior Rusia bahkan menyebut eskalasi di Iran justru menguntungkan Moskow secara strategis. Menurutnya, perhatian dunia kini mulai teralihkan dari perang di Ukraina.

“Eskalasi di sekitar Iran dan Teluk sudah mengalihkan perhatian dari perang di Ukraina. Itu fakta. Selebihnya hanya emosi tentang ‘sekutu yang jatuh’,” kata sumber tersebut.

Baca Juga :  #NgobroldiMeta: Sinergi AMSI dan Meta, Jurnalisme Berkualitas Jadi Prioritas

Selama ini Rusia dan China memang membantu Iran membangun kemampuan militernya, termasuk melalui pasokan rudal, sistem pertahanan udara, dan teknologi militer. Bantuan itu dirancang untuk meningkatkan kemampuan Iran dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Namun dukungan tersebut tampaknya memiliki batas yang jelas.

Situasi ini memunculkan paradoks dalam hubungan ketiganya. Iran tetap dipandang penting bagi Rusia dan China sebagai bagian dari poros penyeimbang terhadap Barat, tetapi tidak cukup penting untuk membuat mereka terlibat dalam perang terbuka.

Bagi Rusia, konflik di Ukraina telah menguras sumber daya militer, diplomatik, dan ekonominya. Presiden Vladimir Putin juga berusaha menjaga hubungan dengan negara-negara Teluk yang kaya minyak.

“Jika Rusia mendukung Iran secara langsung, itu akan mengasingkan negara-negara Teluk dan Israel. Itu bukan yang diinginkan Putin,” kata Borshchevskaya.

Sementara itu, China memiliki pendekatan berbeda dalam membangun aliansi global. Beijing cenderung mengutamakan hubungan berbasis perdagangan dan investasi, bukan perjanjian pertahanan militer seperti yang dimiliki Amerika Serikat.

Menurut analis dari Carnegie Endowment for International Peace, Evan A. Feigenbaum, strategi tersebut membuat China menghindari keterlibatan dalam konflik yang jauh dari kepentingan inti mereka.

Analis dari Washington Institute, Henry Tugendhat, menilai prioritas utama China tetap berada di kawasan Asia Timur.

“Jika Beijing ingin melakukan lebih banyak, mereka tidak akan mengalihkan perhatian strategis atau aset militernya dari kepentingan utama. Yang mereka perhatikan adalah Taiwan, Laut China Selatan, serta ancaman yang mereka rasakan dari AS dan Jepang,” ujarnya.

Meski demikian, krisis ini juga memberi keuntungan tertentu bagi Rusia dan China. Harga minyak yang meningkat memperkuat ekonomi perang Rusia, sementara China dapat mengamati operasi militer Amerika Serikat dari kejauhan tanpa harus terlibat langsung.

Baca Juga :  Kebakaran Gudang Plastik di Margaasih, Empat Bangunan Hangus

Selain itu, kedua negara juga mulai memposisikan diri sebagai mediator diplomatik. Menteri Luar Negeri China Wang Yi dilaporkan telah berbicara dengan sejumlah menteri dari negara Eropa dan Arab untuk mendorong dialog, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan komunikasi serupa dengan para pemimpin Teluk dan pejabat Iran.

Bagi Moskow, mempertahankan fleksibilitas tampaknya menjadi strategi utama. Rusia tidak menginginkan runtuhnya pemerintahan Iran, tetapi juga tidak ingin menggantungkan nasibnya sepenuhnya pada Teheran.

Borshchevskaya menilai Moskow akan tetap menjaga hubungan dengan pihak mana pun yang berkuasa di Iran di masa depan.

“Rusia sedang melakukan lindung nilai. Mereka menjaga fleksibilitas, apa pun hasil konflik ini,” katanya. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :