Search
Close this search box.

Jejak Pesawat di Lereng Bulusaraung

Ilustrasi. /visi.news/artificial intellegence

Bagikan :

VISI.NEWS | MAKASAR – Pagi di lereng Gunung Bulusaraung mendadak tak lagi sunyi. Sejumlah pendaki yang tengah menapaki jalur pendakian dikejutkan oleh temuan tak biasa: serpihan putih berserakan, sebagian menyerupai dinding pesawat. Kabar itu cepat menyebar, menuntun tim SAR gabungan ke titik yang kini menjadi pusat perhatian.

Sekretaris BPBD Pangkep, Muhammad Arsyad, membenarkan temuan tersebut. Ia menyebut ada sekitar enam serpihan yang pertama kali ditemukan pendaki dan langsung dievakuasi. “Kayaknya ada enam,” ujarnya, Minggu (18/1/2026). Serpihan itu kemudian dibawa ke Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci.

Menurut Arsyad, bentuk serpihan yang ditemukan menguatkan dugaan bahwa benda tersebut berasal dari badan pesawat. Bahkan, di antara puing-puing itu ditemukan buku pilot. “Paling dinding luarnya. Serpihan pesawat, sama ada buku pilot,” katanya.

Evakuasi dilakukan secara bertahap. Sebagian serpihan diamankan di Balocci, sebagian lainnya di Tompobulu, dan ada pula yang ditempatkan di posko pendakian. Tim SAR gabungan mendirikan posko untuk memudahkan koordinasi di tengah medan yang tak bersahabat.

Kepala Desa Tompobulu, Kadir, menuturkan temuan itu memang berawal dari laporan para pendaki. Selain kepingan pesawat, mereka juga menemukan potongan kertas dan dokumen. Bahkan ada logo lambang garuda yang ikut terbawa ke pos registrasi. “Ini masih dugaan, tapi temuan itu memang ada,” katanya.

Pesawat yang diduga terkait dengan temuan ini adalah ATR 42-500 yang sebelumnya dinyatakan hilang kontak saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sabtu (17/1/2026). Pesawat buatan tahun 2000 itu terbang dari Yogyakarta menuju Makassar sebelum komunikasi dengan ATC terputus dalam fase pendekatan.

Dirjen Perhubungan Udara menjelaskan, pesawat sempat tidak berada di jalur pendekatan yang seharusnya. ATC Makassar telah memberikan sejumlah arahan koreksi, namun setelah instruksi terakhir, komunikasi mendadak hilang. Kondisi itu membuat ATC menetapkan fase darurat DETRESFA.

Baca Juga :  Guru SMK Disulap Jadi Duta Finansial, FIFGROUP Nyalakan Perubahan

Pencarian pun diperluas. Basarnas mengonfirmasi penemuan badan dan ekor pesawat di salah satu ceruk dekat puncak Gunung Bulusaraung. Helikopter telah dikerahkan, meski angin kencang dan kabut tebal masih menjadi penghalang utama proses evakuasi udara.

Di darat, medan terjal menuntut kehati-hatian ekstra. Jalur pendakian dipilih sebagai akses utama karena relatif lebih aman, meski memakan waktu. Hampir 500 personel gabungan kini berkumpul, berpacu dengan cuaca dan medan, mengikuti jejak-jejak terakhir pesawat yang berakhir di pelukan gunung.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :