Kampung Tukang Bakso Ini Punya Cita-cita Bisa Mendunia

Editor :
Instagram @jogjafoodhunter./via tribunjogja.com

Silahkan bagikan

– “Hasil penjualan disisihkan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, pos ronda, rumah ibadah, dan sebagainya.”

VISI.NEWS – Sebuah kampung di Gunungkidul, DI Yogyakarta, mendapat julukan sebagai kampungnya tukang bakso. Kenapa? Usut punya usut, ribuan warga di kampung tersebut ternyata penjual bakso.

Kalurahan Bejiharjo di Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, kerap diidentikkan dengan Wisata Gua Pindul yang tersohor. Namun, ada sisi lain dari desa wisata ini yang menarik untuk dikulik.

Rupanya, ada begitu banyak warga di kalurahan ini yang berprofesi sebagai pedagang dan pembuat bakso. Hal itu pun dibenarkan oleh Lurah Bejiharjo, Yanto.

“Saya tidak tahu berapa jumlah persisnya, tapi yang pasti banyak,” ungkap Yanto melalui pesan singkat, Kamis (19/11/2020), seperti dilansir tribunjogja.com.

Beberapa waktu lalu, Tribun Jogja berkesempatan bertemu dengan Supanto (63). Salah satu pengurus Paguyuban Bakso Bejiharjo pun menceritakan bagaimana awal kisah keunikan tersebut.

Menurutnya, ada sejumlah warga yang menjadi pioner dari usaha bakso. Salah satunya berawal dari almarhum Tris Tukiran di era 1940-an yang saat itu ia masih bekerja di Yogyakarta.

“Tukiran yang asli Bejiharjo dulu bekerja di bidang pengolahan daging, salah satunya pembuatan bakso itu,” tutur Supanto ditemui di kediamannya.

Lantaran sudah mendapat cukup ilmu, Tukiran lantas memutuskan keluar dan memulai usaha bakso sendiri di kampung halamannya. Langkah tersebut kemudian diikuti warga lain.

Beberapa dekade kemudian, jumlah pengusaha bakso asal Bejiharjo bertambah kian banyak hingga ribuan sampai saat ini. Kebanyakan di antaranya merantau hingga ke pulau seberang.

Terkuaknya warga Bejiharjo yang merantau sebagai pedagang bakso itu pun cukup menarik. Supanto menuturkan, pernah ada pertemuan skala nasional berkaitan dengan wirausaha bidang pangan.

“Ternyata peserta yang hadir banyak berasal dari Gunungkidul, dan semuanya berprofesi sebagai pedagang bakso,” ungkapnya sembari terkekeh.

Kepiawaian warga Bejiharjo dalam membuat bakso pun menarik perhatian pemerintah pusat. Wilayah ini dijadikan sasaran program Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur, untuk pengembangan produk bakso.

Salah satu produk yang saat ini tengah dikembangkan adalah bakso goreng (basreng). Penganan ini dikonsep dengan pembuatan, pengemasan dan penjualan secara modern.

Supanto menuturkan, berdagang bakso bagi warga Bejiharjo bukan sekadar mata pencaharian. Tapi juga untuk membangun kampung halaman mereka agar lebih berkembang dan maju.

“Hasil penjualan disisihkan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, pos ronda, rumah ibadah, dan sebagainya,” kata Manajer Budaya G2R Tetrapreneur Bejiharjo ini.

Ia pun berkeyakinan usaha bakso yang sudah dirintis akan tahan terhadap terpaan krisis. Sebab, terbukti saat krisis moneter 1998, ia mengklaim penjualan bakso nyaris tak berpengaruh.

Itu sebabnya, ia berharap usaha bakso warga Bejiharjo ini bisa diteruskan ke generasi berikutnya. Sebab usaha ini seakan sudah menjadi ikon dari desa wisata tersebut.

“Kalau bisa usaha dan pemasarannya bisa menembus hingga mancanegara,” kata Supanto. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Refocusing Anggaran 11 Kali, Tapi Tidak Maksimal Menangani Covid 19

Sen Nov 23 , 2020
Silahkan bagikan VISI.NEWS — Sudah sebelas kali melalukan refocusing anggaran yang diperuntukkan untuk menanggulangi masalah Covid 19, dikatakan Ketua Fraksi NasDem DPRD Kab. Bandung, Toni Permana, tetapi tidak menghasilkan kinerja yang benar apalagi tepat sasaran. Apalagi saat ini, Toni mengemukakan, Kabupaten Bandung sudah menjadi zona merah, artinya kinerja Satuan Gugus […]