Kang DS : Terpilih Bupati Bandung, akan Banyak Perubahan yang Dilakukan

Editor :
Kang DS dan Ketua DPC PKS Kabupaten Bandung Jajang Rohana

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Salah satu kandidat kuat kontestasi Pilkada Kabupaten Bandung, Bakal Calon (Balon) Bupati Bandung dari Partai Golkar HM. Dadang Supriatna, M.Si. mengungkapkan bahwa beberapa ketimpangan yang masih terjadi di Kabupaten Bandung menjadi fokus perhatiannya. Dari mulai masalah pendidikan, kesehatan, daya beli masyarakat, hingga masalah lingkungan yang mengakibatkan banjir tidak pernah bisa tertangani.

“Di Kabupaten Bandung masih ada fasilitas yang belum merata seperti sarana sekolah baik tingkat SMTP maupun SMTA, sarana kesehatan, sampai masalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Di samping masalah klasik yang ada di Kabupaten Bandung yaitu masalah banjir yang rutin terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Bandung,” ungkapnya belum lama ini.

Dari “blusukan” yang rajin ia lakukan, Kang DS, sapaan akrab politisi tersebut, menangkap kesan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung banyak yang menginginkan perubahan sehingga kehadirannya dalam kontestasi Pilkada dianggap sebagai figur harapan yang dapat membawa perubahan masyarakat Kabupaten Bandung lebih sejahtera lagi.

Ada tiga fokus perhatiannya dalam melakukan perubahan di Kabupaten Bandung kalau ia terpilih jadi bupati.

Pertama, masalah banjir. Kabupaten Bandung itu, katanya, banjirnya tidak bisa dihindari. Karena berdasarkan sejarah, tahun 1918 Kabupaten Bandung yang dilintasi Sungai Citarum ini  sudah banjir besar. Di Kabupaten Bandung itu ada siklus banjir 50 tahunan, ada 20 tahunan, dan ada banjir rutin tahunan.

“Nah, saya sudah plotting di daerah mana saja yang harus diberikan intervensi. Secara analisa sekarang misalkan, ada sembilan strategi bagaimana mengurangi banjir di Kabupaten Bandung. Walaupun strategi ini bukan berarti seluruhnya bebas banjir. Tapi kalau misalkan 9 langkah-langkah strategis yang dilakukan ini bisa berjalan, itu hanya menyisakan 489 hektar wilayah Kabupaten Bandung yang masih kebanjiran,” ungkapnya.

Pihaknya sudah diskusi dengan semua pakar-pakar lingkungan dan pakar lainnya, bagaimana cara mengantisipasi banjir. Diantaranya, kata Dadang, mau tidak mau harus bikin embung atau danau buatan di masing-masing kecamatan yang notabene kecamatan itu rawan bencana banjir.

Harus ada embung atau danau buatan di sekitar Terowongan Air Nanjung di Kecamatan Margaasih. Kenapa? Karena nggak bisa muat limpahan air dari Sungai Citarum ke Bendungan Saguling, ini bisa tumpah. Kalau Saguling itu jebol, dampaknya ke Karawang.

Jadi, katanya, banjir bisa saja selesai di Kabupaten Bandung dengan adanya Terowongan Nanjung, tapi belum tentu selesai di Karawang. Nah, katanya lagi, ini kan harus sinergi harus terintegrasi, bagaimana ini bisa berjalan sesuai dengan harapan. “Kalau saya tadi menggunakan 9 strategi bagaimana cara mengatasi banjir, itu baru mensisakan 489 hektar yang saat ini masih 4.800 hektar yang masih jadi langganan banjir,” ungkap Dadang.

Kedua, isu sampah, ia sepakat dengan Pak Gubernur Jawa Barat yang akan membangun PLTSa. Ini salah satu solusi yang sangat bagus. Kita, katanya, bisa berkaca ke Singapura atau negara-negara maju lainnya, bagaimana sampah ini sebagai bahan baku energi.

Ketiga, isu daya beli. Kita, kata Dadang, harus mampu memfungsikan pengusaha-pengusaha lokal. Mereka tidak boleh didiamkan. Kita bisa membangkitkan pengusaha-pengusaha baru di masing-masing desa.

Intervensi anggarannya seperti apa? Ya, Kube. “Kita bikin aja minimal satu desa 10 Kelompok Usaha Bersama (Kube) jadi bisa mengangkat ekonomi baru. Kalau saat ini di satu kecamatan ada 20 pengusaha lokal yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan, proyek itu diberikan kepada pengusaha yang ada di kecamatan masing-masing. Insya Allah, secara ekonomi makronya, kalau ini bisa digulirkan di masing-masing kecamatan, akan terjadi multiplayer effect secara ekonomi, dan insya Allah akan meningkatkan daya beli masyarakat, termasuk penyerapan tenaga kerja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Wali Kota Solo Berikan Bantuan 31.070 Paket Sembako untuk Warga yang Belum Pernah Dapat Bansos

Honorarium Ustadz Rp 500 Ribu/Bulan

Insya Allah, kata Dadang, kalau ia mendapat ijin Allah jadi Bupati Bandung, maka program pertama itu bagaimana bisa memberikan honorarium, istilahnya basyaroh,sebesar Rp 500 ribu per bulan, termasuk iuran BPJS gratis. “Karena kita harus memperhatikan juga kesehatannya ustadz, dengan membayar iuran preminya setiap bulan dari APBD,” ungkapnya.

Lebih dari itu, katanya lebih lanjut, para ustadz/ustadzah itu kita rencanakan nanti jadi bisa mengajar anak-anak sekolah SD dan SMP. Misalkan nanti dilihat kapasitas ustadz/ustadzahnya. Kalau misalkan mengajar di SD kelas 1, 2, 3 itu mengajar iqro, oh brarti ustadznya yang ini. “Yang tahu masalah kapasitas kualitas ustadz itu kan MUI desa,” katanya.

Kemudian untuk kelas 4, 5, 6 itu sudah mulai anak-anak sekolah itu menghafal Al Quran. Jadi minimal sehari itu dua baris kelas 6 itu selesai. Insya Allah hafidz quran walaupun satu juz. Karena sekarang ini pendidikan moral jadi utama.

Hilangnya Pendidikan P4

Kenapa saya memprogramkan ini? Pertama, kata Dadang, bahwa dengan hilangnya pendidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) ini kan sudah mulai kelihatan anak-anak kita itu pas mau remaja-remaja itu banyak tindakan kenakalan remaja.

“Ya, mudah-mudah dengan pendidikan moral agama ini bisa membantu minimal meningkatkan pendidikan moralnya dan mendorong supaya anak-anak kita ini sholeh dan sholehah. Bisa membantu dan menghargai kedua orangtuanya. Jangan sampai ada kejadian ada anak-anak yang membangkang orang tuanya,” ungkapnya.

Kedua, katanya, kita perhatian dengan RT/RW. “Saya langsung menyaksikan contoh kejadian pendataan, semua masyarakat pasti menyalahkan RT/RW manakala ada bantuan yang tidak sesuai atau masyarakat yang belum bisa dibantu,” ungkapnya. Maka, kata dia, dengan meningkatnya pelayanan publik kita juga harus memperhatikan untuk penambahan honorarium RT dan RW, plus juga dikasih BPJS gratis

Insentif Naik, Bank Emok Hilang

Mengingat betapa strategisnya peran RT dan RW, Dadang menjanjikan bahwa insentif RT dan RW akan naik 100 persen. “Sekarang RT insentifnya Rp 125 ribu, berarti jadi Rp 250 ribu, plus BPJS gratis. Insentif RW sekarang Rp 150 ribu menjadi Rp 300 ribu plus BPJS gratis. Sekarang kita perhatikan guru honor cuma Rp 300 ribu per bulan, kita upayakan bagaimana supaya per bulannya bisa Rp 1 juta,” tandasnya.

Tidak hanya itu, Dadang juga mengungkapkan, kalau ia terpilih sebagai Bupati Bandung, insentif Linmas akan naik 100% dan BPJS gratis. Usaha kecil dengan bantuan modal untuk Kelompok Usaha Bersama (Kube) per desa Rp 1 miliar.

Bantuan modal tersebut, katanya, diberikan tanpa bunga dan harus berputar di desa itu. Sehingga ke depan tidak ada lagi yang namanya Bank Emok. Karena di tiap desa, di samping ada modal usaha kecil melalui program Kube, ada juga Bumdes yang berpihak untuk modal usaha dan adanya program UMKM dan Kemenko Perekonomian sekitar Rp 123 triliun.

Baca Juga :  Asosiasi Masih Menunggu Kepastian Izin Haji dan Umrah

APBD Kabupaten Bandung katanya Rp 6 triliun, dan PAD-nya Rp 1 triliun. Bila dihitung kalau penambahan insentif bagi guru-guru, ustad ustadazah dan sebagainya kurang lebih anggarannya menelan Rp 200 miliar. “Kita geser aja PAD yang Rp 1 triliun sebanyak Rp 100 miliar untuk kegiatan yang tadi, bisa itu menurut pemikiran saya. Saya 10 tahun jadi anggota Badan Anggaran (Banggar) di DPRD Kabupaten Bandung. Saya tahu persis bagaimana pola pengarahan anggaran,” ungkap Dadang.

Siapa Kang DS?

Ketokohan Kang DS ­­­­­­­­­­­­­­­­yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Bandung selama dua periode dan saat ini menjadi anggota DPRD Jawa Barat dari Dapil Kabupaten Bandung, dianggap masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan serta pengalaman yang mumpuni untuk menjadi Bupati Bandung periode 2021-2026.

Kang DS menjadi salah seorang kader Partai Golkar yang meraih suara terbanyak di Pileg 2019. Berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat II meliputi wilayah Kabupaten, ia mengantongi 46.653 suara dan mengantarnya ke kursi DPRD Jabar.

Keberhasilan pria kelahiran Bandung 7 Agustus 1971 ini melenggang ke DPRD Jabar dengan raihan suara terbanyak dalam Pileg 2019, tak terlepas dari kiprahnya selama ini sebagai politisi Parta Golkar di daerahnya.

 “Awal saya terjun ke dunia politik karena berangkat dari desa. Saya mulai aktif di lingkungan RT dan RW, kemudian aktif di kegiatan kepemudaan di desa seperti Karang Taruna, sampai saya akhirnya jadi kader Golkar dan menjadi Kepala Desa Tegalluar, ” tutur Dadang.

Dadang juga dikenal sebagai figur yang peduli kepada anak yatim, ponpes, kaum dhuafa. Tak jarang ia terlihat menyantuni anak yatim, kaum dhuafa, dan sowan ke tokoh-tokoh kiai yang ada di pesantren-pesantren di Kabupaten Bandung.

Biasa Ngaji & Puasa

“Kebiasaan yang saya lakukan sejak dulu sampai sekarang. Saya semenjak kelas dua SD sudah melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini mengaji, punten, puasa sunah Senin Kamis. Kebisaan itu terus saya lakukan sampai saya jadi pengusaha semenjak kelas 1 SMA.

Apalagi pada waktu jadi Kepada Desa Tegalluar, alhamdulillah waktu itu terus kita kembangkan perhatian kepada ustadz ustadzah. Mulai diperhatikan ada honorium dari dana desa, walaupun dulu tidak ada anggaran untuk itu seperti sekarang,” tuturnya.

Jadi, kata Dadang, sejak ia jadi kepala desa tahun 1998 selama hampir 10 tahun kebiasaan itu  sudah dilaksanakan. Bahkan sampai sekarang ini alokasi anggaran dana desa untuk ustad ustadzah tetap ada di Tegalluar. “Saya berangkat dari desa dan tentunya kenapa saya perhatikan para ustadz karena jujur, waktu masih kecil saya merasa pernah dididik oleh ustadz dan ustadzah atau ajengan,” ungkap Dadang.

Tahun-tahun sebelumnya, katanya, ia juga perhatikan hampir 1.800 yatim piatu dan jompo. Jadi sekarang kalau ia fokus ke anak yatim piatu dulu untuk tahun ini, karena jomponya sudah dapat bantuan pemerintah. “Alhamdulillah, belum lama ini saya memperjuangkan di provinsi dari awalnya 20 ribu kepala keluarga di Kabupaten Bandung yang mendapatkan bantuan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, sekarang menjadi sekitar 136 ribu KK yang mendapatkan bansos Pemprov Jabar,” ungkap Dadang.

Baca Juga :  Polisi Usut Dugaan Pungli Insentif Petugas Pemakaman Covid-19 di Malang

Disinggung mengenai program, ia menyampaikan bahwa program itu tergantung segmennya. Ya, kalau kita ketemu dengan ustadz-ustadzah, katanya, harus menyampaikan kepedulian bahwa dia itu beritikad mengangkat harkat derajat ustadz dan ustadzah yang saat ini dirasakan memang belum semuanya diperhatikan. “Memang Kabupaten Bandung ketinggalan dengan kabupaten/kota lainnya,” tandasnya.

Dalan kontestasi Pilkada Kabupaten Bandung ini Kang DS menggunakan tagline “Bedas” dalam mengimplementasikan programnya nanti. Bedas, kata Dadang, dalam bahasa Sunda artinya kuat, tenaga besar. “Kalau Bedas diakronimkan itu ada lima huruf. Huruf B, artinya Bangkit. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Huruf E-nya edukatif, kita harus mendidik. Usia lama sekolah kita harus meningkat dong, jangan hanya sampai usia 8,8 tahun. Minimal sampai 12 tahun sampai SMA,” ujarnya.

Edukasi itu, katanya,  juga termasuk masyarakat perlu pendampingan atau advokasi untuk bisa lebih memahami tentang program-program pemerintah secara utuh. Karena itu ke depan harus ada satu orang dijadikan advokasi untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat bahwa ini lho program-program pemerintah sebenarnya.

“Huruf yang ketiga itu D, dinamis. Karena kita persaingan ketat, baik skala lokal, regional, nasional, internasional. Jangan sampai kita vakum. Huruf keempat, A, agamis, makanya itu saya memperbanyak program keagamaan

,” kata Dadang.Kalau kita sudah berkeinginan dan semangat kita untuk Bangkit, Edukasi meningkat, Dinamis dalam persaingan ekonomi dan sebagainya, Agamisnya ada, maka saya yakin kelima yaitu S akan tercapai Sejahtera. Jadi, Bedas itu Bangkit, Edukatif, Dinamis dan Sejahtera. Bedas juga diartikan Bersama Dadang Supriatna,” katanya.

Hasil Polling Tertinggi

Dilihat dari hasil polling yang sering menempatkan namanya diurutan atas, Dadang mengatakan, bahwa itu merupakan kepercayaan publik. “Saya dengan niat lillahi ta’ala, tulus bahwa apapun yang saya lakukan saat ini harus bermanfaat bagi umat,” katanya.

Pertama, katanya ia dianggap sudah berpengalaman menjadi kepala desa dua periode dan  sudah bisa membentuk bagaimana daerah ini supaya bisa lebih maju. Kedua, ia pernah jadi anggota DPRD Kabupaten Bandung dua periode. Ia sudah berkiprah membuat sekolah. “Itu kita dorong hampir 15 sekolah baru di Kabupaten Bandung terutama Dapil 3 waktu itu,” katanya.

Sekarang sebagai anggota DPRD Jawa Barat, Dadang mendorong 16 kecamatan di Kabupaten Bandung kita bikin sekolah SLTA. Alhamdulillah, katanya, saat ini sudah dibahas. Satu sekolah diantaranya sedang dalam progres. Karena sekarang ini terkendala Covid-19. progres yang lainnya tertunda. “Insya Allah tahun 2021 dan apalagi kalau saya jadi bupati, maka tak ada alasan lagi saya harus merevitalisasi infrastruktur pendidikan,” ungkap Dadang.

Soal popularitas, kata Dadang, mungkin dari setiap pertemuan, sering silaturahmi dengan masyarakat. Ia juga tidak pernah mengembel-embeli hal-hal yang aneh-aneh. Yang jelas ia hanya ingin bagaimana kebijakan pemerintah ini bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

“Nah, mungkin berangkat dari itu yang menjadi salah satu penilaian masyarakat sehingga saya pun sangat menghargai kepercayaan publik ini. Mudah-mudahan trennya terus naik, tidak turun lagi, sehingga hasil survei internal Golkar selanjutnya bisa terus meningkat,” katanya.@mpa/timesindonesia.com

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dukung Ketahanan Pangan, Kapolres Banjar Bersama Forkopimda Tanam Pohon di Lahan Lapas

Rab Jul 8 , 2020
Silahkan bagikanmoreVISI.NEWS – Acara penanaman beragam jenis bibit pohon di Lapas Kelas II B Kota Banjar yang disponsori oleh Kapolres Banjar bersama Forkopimda dihadiri Wali Kota Banjar serta unsur Muspida Banjar, Jawa Barat, Selasa (7/7). Selain Wali Kota, DR. Hj. Ade Uu Sukaesih, M.Si. juga turut hadir Ketua Pengadilan Negeri […]