Search
Close this search box.

Kang DS, “Ud’uni astajib lakum!”

Bupati Bandung, Dadang Supriatna melaksanakan agenda Jumat Keliling atau Jumling di Masjid Al Jumhuriah Kampung Pasar Baru RT 05/RW 03 Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, Jumat (6/3/2026).

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Di rumah dinas Bupati Bandung di Soreang, Sabtu (8/3/2026) sore itu, suasananya tidak sepenuhnya seperti forum resmi pemerintah. Hampir 100 wartawan duduk santai. Mereka menunggu pernyataan penting dari Bupati HM Dadang Supriatna—yang lebih populer dipanggil Kang DS—soal isu hangat belakangan ini, terutama soal nasib guru PPPK, ditengah ketatnya penghematan anggaran dari pusat. Di sela penjelasannya, ia melempar satu kalimat yang terdengar seperti doa sekaligus pegangan hidupnya.“Ud’uni astajib lakum!”

Ayat itu artinya sederhana: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Tapi di tangan Kang DS, kalimat itu seperti menjadi filosofi kerja. Antara program pembangunan, agenda sosial, dan—tentu saja—politik yang tidak pernah benar-benar jauh dari seorang kepala daerah.

Kang DS dikenal sebagai bupati yang rajin bekerja. Sebagian staf menyebutnya workaholic. Agenda harian padat, rapat sering panjang, dan kunjungan lapangan hampir rutin. Tapi yang membuatnya agak berbeda dari banyak kepala daerah lain, di tengah serangan politik yang terus diarahkan kepadanya adalah cara ia merawat sisi spiritualitasnya.

Baca juga

Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H, Kang DS: Nilai Agamis Pondasi Utama Kebijakan Pemkab Bandung

Kang DS Gelar Gerakan Pangan Murah dan Santuni 1.063 Anak Yatim di Sapan Desa Tegalluar

Bupati Bandung Gelar Jumling di Majalaya, Salurkan Santunan Anak Yatim dan Bantuan Masjid

Puasa Senin-Kamis masih dijaga. Pengajian malam Jumat jarang absen. Silaturahmi dengan para ulama dilakukan seperti agenda resmi yang tak tertulis di kalender pemerintah.

Kalau ngobrol soal agama, kata beberapa orang dekatnya, waktunya bisa lebih panjang dari pembahasan proyek jalan kabupaten.

Di depan wartawan, ia juga menyelipkan pesan yang terdengar sederhana tapi sebenarnya cukup politis: verifikasi. Jangan mudah menyimpulkan. Jangan gampang su’udzon. “Positive thinking dulu,” katanya.

Baca Juga :  Pagi Cerah, Sore Diguyur! Cuaca Bandung Hari Ini Bikin Warga Harus Siaga

Nasihat yang mungkin relevan di era media sosial, ketika kabar kadang berlari lebih cepat daripada akal sehat.

Namun reputasi religius Kang DS tidak berhenti di meja obrolan. Ia punya kebiasaan yang cukup tidak lazim bagi seorang politisi: membagikan kain kafan.

Tradisi itu bermula jauh sebelum ia menjadi bupati. Saat masih menjabat Kepala Desa Tegalluar, ia pernah menyaksikan keluarga yang kesulitan memulasara jenazah karena tidak punya perlengkapan. Sejak itu ia mulai menyediakan kain kafan untuk warga yang membutuhkan.

Sekarang, setelah kursi bupati didudukinya, program itu meluas. Desa-desa menerima bantuan perlengkapan pemulasaraan jenazah. Sebagian orang memuji kepedulian sosialnya. Sebagian lain berkelakar: mungkin ini satu-satunya program politik yang benar-benar dipakai sampai akhir hayat.

Tapi kain kafan hanyalah satu cerita.

Kang DS juga cukup rajin menyantuni anak yatim. Dalam berbagai kegiatan, santunan menjadi agenda tetap. Bahkan ia pernah mendapat julukan “Abul Yatama”, bapaknya anak-anak yatim.

Ramadan menjadi musim paling sibuk. Ribuan paket sembako dibagikan. Rumah tidak layak huni diperbaiki. Lansia dibantu. Bahkan ada program yang cukup jarang dilakukan kepala daerah: memberangkatkan marbot masjid untuk umrah.

Di daerah dengan kultur religius kuat seperti Kabupaten Bandung, kombinasi amal sosial dan simbol spiritual tentu bukan resep yang buruk.

Dalam politik lokal, pendekatan seperti itu sering jauh lebih efektif daripada baliho besar di pinggir jalan.

Kang DS sendiri sering mengaitkan perjalanan hidupnya dengan doa seorang ibu. Ia kerap bercerita bahwa karier politiknya—dari kepala desa, anggota dewan, hingga bupati—tidak lepas dari doa ibunya.

Sejak muda, ibunya menjadi prioritas utama. “Kalau saya dapat sesuatu, itu karena doa ibu,” katanya suatu kali.

Baca Juga :  Revitalisasi SMPN SATAP 1 Pugung Tanggamus, Ruby Chairani: Hadirkan Harapan Baru bagi Siswa Tanggamus, Lampung –

Sejak 2014, bahkan ada ritual keluarga yang konsisten: setiap Ramadan berusaha menunaikan umrah. Tahun ini pun rencananya sama. Pagi ini, ia dijadwalkan terbang dengan Saudi Airlines ke Jeddah bersama keluarga, dan kembali ngantor pada Rabu (18/3/2026). “Umrah di Ramadan itu menjadi ritualitas penting bagi saya. Saya merasa semua do’a yang dipanjatkan di sana dikabulkan Alloh SWT,” tandasnya.

Ketika disinggung kondisi Timur Tengah yang sedang tidak stabil akibat ketegangan geopolitik, jawabannya terdengar sederhana—dan sedikit fatalistik.

“Meninggal itu bisa di mana saja. Di rumah juga bisa. Kita serahkan saja takdir kepada Allah.”

Kalimat itu mungkin bukan analisis geopolitik. Tapi cukup menggambarkan cara pandangnya terhadap hidup—dan mungkin juga terhadap politik.

Sebab di balik semua aktivitas sosial dan spiritual itu, ada satu percakapan yang mulai sering terdengar di Jawa Barat: nama Kang DS dalam peta Pilkada provinsi.

Beberapa kalangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat bahkan pernah menyebutnya layak maju, entah sebagai calon gubernur atau wakil gubernur.

Tentu saja, politik Indonesia jarang berjalan sesederhana doa yang langsung dikabulkan. Ada partai yang harus dihitung, koalisi yang harus dirajut, dan elektabilitas yang harus dirawat.

Tapi bagi Kang DS, rumusnya tampaknya tetap sama sejak dulu: bekerja, berbagi, menjaga hubungan dengan ulama—dan berdoa.

Karena dalam keyakinannya, politik boleh saja dirancang dengan strategi.

Namun keputusan terakhir, seperti yang ia katakan sore itu di rumah dinasnya, tetap milik langit.

“Ud’uni astajib lakum.”

Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.

@aepsa

Baca Berita Menarik Lainnya :