VISI.NEWS | KARAWANG – Festival Aspirasi BAM DPR RI kembali digelar, kali ini di Kabupaten Karawang, Senin (8/12/2025).
Ketua BAM DPR RI Komisi II, Ahmad Heryawan (Aher), menegaskan bahwa kegiatan yang mengusung tema ‘Kemandirian Pangan, Diversifikasi dan Inovasi Pertanian yang Inklusif untuk Masyarakat Karawang’.
Ini merupakan langkah strategis untuk menyerap aspirasi para petani dan nelayan. Menurutnya, penguatan kebijakan pangan daerah adalah fondasi penting menuju kedaulatan pangan nasional yang berkelanjutan.
Aher menyatakan bahwa ketahanan dan kedaulatan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan, tetapi juga kemandirian.
“Ketahanan pangan itu ada, tetapi dari mana asalnya? Siapa yang mengelola? Kedaulatan pangan artinya kita mampu berdiri sendiri. Sebagai negara merdeka, sangat wajar bila Indonesia tak bergantung pada pihak lain,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Aher menjelaskan bahwa Kabupaten Karawang memiliki peran historis sebagai salah satu produsen padi terbesar di Pulau Jawa dan Indonesia. Dengan lahan sawah yang luas dan subur, wilayah ini telah menjadi tulang punggung pangan nasional sejak era kolonial Belanda hingga masa kemerdekaan. Bahkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, menetapkan Karawang sebagai lumbung pangan nasional.
Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, sementara sebagian masyarakat pesisir bergantung pada sektor perikanan.
Potensi besar tersebut ditopang oleh sarana irigasi seperti Bendungan Walahar peninggalan Belanda. Pada era Orde Baru, Karawang menerima perhatian intensif melalui program bibit unggul, pestisida, dan pengembangan irigasi, menghasilkan produksi padi nasional yang melimpah pada 1984 dengan capaian 25,8 juta ton.
Saat ini, Karawang memiliki 101.143,4 hektare lahan baku sawah yang tersebar di 30 kecamatan. Dari jumlah ini, 85.339 hektare telah ditetapkan sebagai LP2B, didukung cadangan 1.914,1 hektare, sehingga total mencapai 87.253,2 hektare. Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) bahkan mencapai 95.667 hektare. Pada 2024, Karawang memproduksi 1.386.470 ton Gabah Kering Panen (GKP) dan menjadi produsen padi terbesar kedua di Jawa Barat setelah Indramayu.
Selain pertanian, wilayah pesisir utara Karawang memiliki sumber daya perikanan yang signifikan, mulai dari perikanan tangkap, budidaya, hingga wisata bahari. Politeknik KP Karawang turut berperan dalam mengembangkan inovasi alat tangkap dan sistem pengelolaan perikanan.
Data Dinas Perikanan Karawang mencatat hasil tangkapan laut pada 2024 mencapai 9.403,51 ton, sedikit di bawah target akibat cuaca ekstrem, alat tangkap tradisional, serta penggunaan kapal kecil oleh mayoritas nelayan. Optimalisasi sektor ini dinilai penting agar sejalan dengan kebijakan Blue Economy KKP.
Upaya pemerintah lainnya adalah mendorong budidaya ikan nila salin di BLUPPB Karawang untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Selain padi dan perikanan, Karawang juga memiliki komoditas hortikultura unggulan seperti kembang kol, kencur, lengkuas, serai, jambu air, jambu biji, mangga, dan pisang. Potensi jamur merang serta pengembangan kopi robusta juga mulai dikembangkan.
Namun, Aher menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian Karawang. Mulai dari ketergantungan pupuk kimia, penurunan kualitas tanah, alih fungsi lahan untuk industri, perubahan iklim ekstrem, hingga dinamika pasar pangan. Kondisi ini menuntut pendekatan pembangunan yang adaptif, inovatif, dan inklusif.
Aher menekankan bahwa kegiatan ini sejalan dengan fokus utama pemerintahan Presiden RI Jenderal Prabowo Subianto dalam memperkuat kedaulatan pangan. Pemerintah tengah mendorong peningkatan produksi dalam negeri, diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal, revitalisasi irigasi, serta teknologi pertanian modern. Selain itu, pemberdayaan petani dan kelompok rentan menjadi prioritas agar mereka memiliki akses pada lahan, modal, inovasi, dan pasar.
“Petani adalah garda terdepan di tengah ketidakpastian global perang dagang, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga keterbatasan lahan,” ujar Aher.
Melalui Festival Aspirasi BAM DPR RI, pemerintah berharap dapat memperdalam pemahaman terhadap kondisi faktual di lapangan sekaligus mengintegrasikan aspirasi masyarakat ke dalam perencanaan pembangunan daerah dan nasional. Fokus utama meliputi diversifikasi pangan, penguatan kelembagaan petani, pemanfaatan teknologi digital, hingga skema kemitraan yang adil.
Aher menutup kegiatan dengan harapan bahwa forum tatap muka ini mampu menyerap aspirasi masyarakat secara akurat.
“Aspirasi masyarakat Karawang sebagai daerah sentra pangan adalah instrumen penting agar kebijakan nasional benar-benar menjawab kebutuhan nyata. Dari sinilah kita dapat merumuskan rekomendasi kebijakan yang selaras dengan prioritas nasional dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.”
Dalam sambutannya, Anggota dewan RI Komisi IX, Cellica, menekankan bahwa tema besar Festival Aspirasi tahun ini adalah kedaulatan pangan. Ia menyampaikan bahwa Karawang tetap berkomitmen mempertahankan sektor pertanian meski berada di tengah arus industrialisasi yang pesat.
“Karawang merupakan kabupaten yang berkomitmen mempertahankan pertanian. Di tengah gempuran industrialisasi, kami ingin Karawang menjadi pusat ketahanan pangan nasional,” ujar Cellica.
Ia juga menyoroti capaian Karawang di sektor kelautan dan perikanan melalui Project Ikan Nilasari, yang saat ini menjadi proyek unggulan tingkat nasional dan berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. @Ihda












