VISI.NEWS | BANDUNG – Kematian gembong narkoba paling dicari di Meksiko, Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes, tak serta-merta menghadirkan ketenangan. Sebaliknya, tewasnya pemimpin Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG) itu justru memicu gelombang kekerasan yang meluas ke 20 negara bagian, menewaskan puluhan aparat dan anggota kelompok kriminal dalam hitungan jam setelah operasi militer diumumkan.
El Mencho, yang dikenal sebagai pemimpin lama Jalisco New Generation Cartel, tewas dalam operasi militer terarah di Tapalpa, negara bagian Jalisco, Minggu (22/2/2026). Ia dilaporkan mengalami luka parah akibat baku tembak antara pengawal pribadinya dan pasukan komando yang dikerahkan untuk menangkapnya. Dalam proses evakuasi menuju Mexico City, nyawanya tak tertolong.
Kementerian Pertahanan Meksiko menyebut sedikitnya enam pengawal El Mencho tewas dalam operasi tersebut, sementara tiga personel militer mengalami luka-luka. Namun, dampak paling besar justru terjadi setelah kabar kematiannya menyebar luas.
Sekretaris Keamanan Meksiko, Omar García Harfuch, mengungkapkan bahwa sedikitnya 25 tentara tewas dalam rangkaian kekerasan lanjutan di Jalisco. Selain korban dari pihak militer, seorang sipir penjara dan satu anggota kantor kejaksaan negara bagian juga dilaporkan meninggal dunia. Dalam bentrokan dengan aparat, sebanyak 30 anggota organisasi kriminal yang berafiliasi dengan El Mencho turut tewas.
Hanya beberapa jam setelah pengumuman resmi, kelompok bersenjata yang diduga bagian dari CJNG melancarkan aksi balasan berupa narcobloqueos—blokade jalan oleh kelompok kriminal. Bus dan truk dibajak lalu dibakar di tengah jalan, paku serta benda tajam disebar di aspal untuk melumpuhkan kendaraan, sementara sejumlah bank dan usaha lokal dirusak atau dibakar.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, memuji keberhasilan operasi militer tersebut dan menegaskan pemerintah tetap memegang kendali situasi.
“Situasinya tenang, ada pemerintahan, ada angkatan bersenjata, dan ada banyak koordinasi,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Ia juga menyampaikan bahwa penghalang jalan telah disingkirkan pada Senin pagi, meski dampak kerusakan masih terlihat di berbagai kota.
Meski pemerintah menyatakan situasi terkendali, gambaran di lapangan menunjukkan ketegangan tinggi. Di kota wisata Puerto Vallarta, rekaman video yang beredar memperlihatkan helikopter militer terbang rendah di atas kawasan hotel, sementara asap hitam membubung dari sejumlah bangunan. Beberapa wisatawan menggambarkan suasana tersebut sebagai “zona perang” ketika menyaksikan kobaran api dari kejauhan.
Kondisi keamanan yang memburuk turut berdampak pada aktivitas sipil. Sejumlah maskapai internasional seperti Air Canada, United Airlines, Aeroméxico, dan American Airlines menangguhkan penerbangan ke wilayah terdampak. Sekolah-sekolah di berbagai daerah membatalkan kegiatan belajar, sementara sejumlah pertandingan sepak bola ditunda demi alasan keamanan.
Kematian El Mencho, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuatan dan ekspansi agresif CJNG, kini membuka babak baru konflik antara negara dan jaringan kartel. Pemerintah berupaya menunjukkan supremasi hukum melalui operasi militer terarah, namun respons brutal kelompok kriminal menandakan bahwa kekosongan kepemimpinan di tubuh kartel berpotensi memicu eskalasi lanjutan.
Alih-alih menjadi akhir dari kekerasan, tumbangnya sosok yang paling dicari itu justru menjadi pemicu babak baru ketidakstabilan, memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan keamanan di tengah perang panjang melawan kartel narkoba di Meksiko. @kanaya