Kenaikan Harga Bahan Pokok Apakah Berdampak pada Usaha Cafe dan Restoran? Ini Kata Dede Farhan

Editor Dr. Ir. H. Dede Farhan Aulawi, sebagai narasumber seminar "Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok Terhadap Pengusaha Cafe Dan Restoran" di Hotel Jayakarta Bandung pada Selasa (20/6/ 2023). /visi.news/ist
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Selaku Analis Intelijen Ekonomi, Dr. Ir. H. Dede Farhan Aulawi, diundang sebagai narasumber seminar “Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok Terhadap Pengusaha Cafe Dan Restoran” yang berlangsung di Hotel Jayakarta Bandung pada Selasa (20/6/ 2023).

Pada kesempatan ini, Dede Farhan, menguraikan terkait dengan antisipasi imbas dari resesi global, Perang Rusia vs Ukraina, Ketegangan China vs Taiwan, dan Dampak El Nino terhadap kondisi lingkungan yang kering dan berkurangnya curah hujan terhadap hasil komoditi pertanian serta implikasinya terhadap kenaikan harga – harga bahan pokok yang mulai merangkak mengalami kenaikan.

“Dimana ketegangan geopolitik yang terjadi akan berimbas pada disrupsi rantai pasok global yang berpotensi pada perekonomian nasional, regional bahkan internasional. Disamping tantangan geopolitik dan resesi ekonomi, ada juga tantangan perubahan iklim yang akan sangat mempengaruhi keuangan negara, perekonomian, dan kesejahteraan rakyat, ” ujarnya kepada VISI.NEWS, Rabu (21/6/2023).

Implikasi terhadap Indonesia, kata Dede Farhan, sampai saat ini masih relatif kecil dan terkendali karena beberapa faktor, seperti :

  • Fundamental aneka produk pertanian, hewan ternak dan perikanan relatif masih kuat
  • Hubungan internasional dengan banyak negara masih sangat baik, sehingga bisa saling membantu dalam kerjasama perdagangan produk – produk bahan pokok
  • Basis ekonomi nasional relatif kuat karena jumlah UMKM sangat banyak & serapan tenaga kerja cukup tinggi, serta ketergantungan terhadap dollar relatif kecil

Sementara dampak dari kondisi tersebut, ujarnya lebih lanjut, untuk pengusaha Cafe dan Restauran bisa ditinjau dari 2 perspektif, yaitu perspektif konsumen akan mengalami penurunan daya beli relatif dan pespektif produsen akan dihadapkan pada ambiguitas kenaikan harga jual, penurunan omset, penurunan keuntungan, dan antisipasi resiko beban biata operasi karena depresiasi rupiah (jika ada bahan baku berbasis import).

Baca Juga :  Wisata Minat Khusus: Welora, The Forgotten Island di Ujung Maluku Barat Daya

“Sepanjang fundamental pertanian (bahan pokok) masih relatif kuat, maka daya beli kalangan menengah (Konsumen Cafe & Resto) dalam batas tertentu masih bisa menyesuaikan. Dampak kenaikan harga bahan pokok terhadap ‘bijakan strategis bisnis’ cafe & resto sampai saat ini masih terjangkau oleh konsumen menengah. Semua tergantung pada besaran nominal kenaikan dan jangka waktu kenaikan harga, ” tandasnya.

Dalam situasi seperti ini, kata Dede Farhan, tindakan yang perlu dilakukan oleh Pemerintah adalah :

  • Solusi Jangka Pendek : Intervensi Pemerintah melalui berbagai kebijakan stabilisasi harga bahan pokok
  • Solusi Jangka Panjang : Stabilisasi pasokan dan harga menuju kedaulatan pangan.

Oleh karena itu, Dede Farhan mengatakan, kegiatan sumbang saran publik, sebagai manifestasi konkrit dari atensi dan tanggung jawab Pemerintah sangat diperlukan. “Baik karena pertimbangan kenaikan harga bahan pokok yang disebabkan oleh potensi resesi global, ataupun kenaikan harga bahan pokok yang disebabkan karena mendekati hari raya Iedul Adha. Apalagi jika merujuk pada amanat UU NO.18 tentang Pangan, yang berkaitan dengan stabilisasi pasokan dan Stabilisasi Harga di tingkat produsen dan konsumen,”  ungkapnya.

Pasal 55 Ayat 1 UU tersebut, kata Dede Farhan, Pemerintah berkewajiban melakukan stabilisasi pasokan dan harga Pangan Pokok di tingkat produsen dan konsumen.

Sedangkan pada Pasal 55 Ayat 2, katanya, Stabilisasi pasokan dan harga Pangan Pokok dilakukan untuk melindungi pendapatan dan daya beli Petani, Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Pelaku Usaha Pangan mikro dan kecil, serta menjaga keterjangkauan konsumen terhadap Pangan Pokok.

“Stabilisasi pasokan pangan pokok adalah upaya yang dilakukan Pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan pokok, misal cadangan pangan pemerintah. Sedangkan stabilisasi harga pangan pokok adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjaga kestabilan harga Pangan Pokok, misal OP, kebijakan tarif, kuota impor, Bantuan Pangan, dan/atau distribusi pangan bersubsidi untuk kelompok masyarakat tertentu, ” ujar Dede Farhan.

Baca Juga :  Mutasi di Polda Jatim Kembali Bergulir, Perwira Pertama hingga Menengah Dirotasi

Terkait dengan hal tersebut, katanya, ada beberapa langkah strategis yang harus terus dilakukan, yaitu swasembada padi, jagung, dan kedelai, serta peningkatan produksi gula dan daging pengembangan populasi ternak unggas dan aneka ternak.

“Inovasi teknologi budi daya perikanan. peningkatan diversifikasi dan ketahanan pangan masyarakat. Penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi. mendorong substitusi/ alternatif bahan pokok, dan lain – lain, ” pungkasnya. @mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sojern Mengumumkan Peningkatan Platform untuk AI-powered Audiences

Rab Jun 21 , 2023
Silahkan bagikan  VISI.NEWS | SAN FRANCISCO – Sojern, platform pemasaran digital terkemuka untuk industri perjalanan, mengumumkan versi terbaru Sojern Travel Marketing Platform dengan audiens yang didukung Artificial Intelligence (AI) yang disempurnakan. Sojern telah memanfaatkan kemampuan AI-nya yang sudah lama ada untuk menyediakan dukungan yang lebih luas bagi lebih dari 10.000 […]