Search
Close this search box.

Kertajati Percepat Transformasi, Bangkit atau Tenggelam?

Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati. /visi.news/bijb

Bagikan :

VISI.NEWS | MAJALENGKA – PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat mempercepat transformasi Bandara Kertajati menjadi pusat ekonomi baru berbasis kedirgantaraan. Langkah ini diambil sebagai respons atas rendahnya tingkat keterisian penumpang dan tekanan finansial yang terus membebani kinerja perusahaan pengelola bandara tersebut.

Dalam rencana pemulihan bisnis 2026, BIJB menyiapkan tiga pilar utama, yakni optimalisasi penerbangan Haji, Umrah, dan rute reguler, penyelesaian kewajiban utang melalui restrukturisasi dan konversi saham, serta pengembangan kawasan Aerospace Park sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Upaya tersebut diperkuat dengan penyusunan naskah kebijakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat. Policy brief ini diarahkan untuk menciptakan peningkatan jumlah penumpang secara berkelanjutan, sekaligus memastikan keberlangsungan bisnis Bandara Kertajati dalam jangka panjang.

Program transformasi Kertajati melibatkan sinergi lintas institusi, mulai dari PT BIJB (Perseroda), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dukungan kebijakan juga datang dari kementerian terkait, seperti Kementerian Perhubungan dan Kementerian Agama, terutama dalam penguatan konektivitas udara dan penerbangan keagamaan.

Pengembangan kawasan terpusat di Bandara Internasional Kertajati, Majalengka, yang diproyeksikan menjadi simpul utama dalam kawasan Rebana Metropolitan. Lokasi ini diintegrasikan dengan akses strategis menuju Pelabuhan Patimban dan wilayah Cirebon melalui jaringan Tol Cisumdawu dan Cipali.

Tahun 2026 ditetapkan sebagai titik balik implementasi utama. Penerbangan Umrah reguler dijadwalkan kembali beroperasi pada 6 Februari 2026, disusul penambahan rute domestik baru pada Maret 2026. Sementara itu, Oktober 2026 ditargetkan sebagai momentum transaksi perdana bisnis MRO atau Maintenance, Repair, and Overhaul.

Saat ini, Bandara Kertajati masih menghadapi ketimpangan ekosistem permintaan atau demand ecosystem mismatch. Pendapatan usaha belum mampu menutup biaya operasional, dengan liabilitas jangka pendek mencapai Rp 474 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp 1,5 triliun per Desember 2025.

Baca Juga :  Jemaah Haji Jawa Barat yang akan Berangkat Tahun 2026 (No. Urut 18.701 – 19.000)

Kondisi tersebut diperberat oleh penurunan populasi pesawat yang beroperasi di Indonesia pascapandemi. Situasi ini mendorong BIJB untuk melakukan diversifikasi bisnis ke sektor MRO dan logistik guna menjaga keberlangsungan usaha di tengah melemahnya bisnis penerbangan penumpang.

Sejumlah langkah strategis pun disiapkan, mulai dari pembangunan Aerospace Park seluas 84,2 hektare untuk menangkap peluang pasar perawatan pesawat—yang 46 persen di antaranya masih dilakukan di luar negeri—hingga usulan kebijakan Multi Airport System melalui pengalihan sebagian slot penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Kertajati. Restrukturisasi keuangan melalui konversi utang menjadi modal serta penguatan konektivitas darat dari Bandung Raya, Cirebon, hingga Jawa Tengah menjadi bagian dari pertaruhan besar agar Kertajati tidak sekadar bertahan, tetapi bangkit sebagai pusat ekonomi baru.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :