Search
Close this search box.

Ketegangan Regional Meningkat, Suriah Kerahkan Ribuan Pasukan dan Roket ke Perbatasan Lebanon

Warga Suriah yang tinggal di Lebanon menunggu di Departemen Imigrasi dan Paspor Kementerian Dalam Negeri, di perbatasan Suriah-Lebanon, saat mereka kembali ke Suriah karena permusuhan yang sedang berlangsung antara Hizbullah dan pasukan Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Jdaydet Yabous, Suriah, 3 Maret 2026./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Pemerintah Suriah mengirim ribuan tentara dan unit peluncur roket ke wilayah perbatasan dengan Lebanon, di tengah meluasnya konflik kawasan yang juga melibatkan Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Informasi ini disampaikan oleh delapan sumber keamanan dan militer dari Suriah serta Lebanon kepada Reuters, Selasa (3/3).

Sumber tersebut terdiri dari lima perwira militer Suriah, satu pejabat keamanan Suriah, dan dua pejabat keamanan Lebanon yang berbicara dengan syarat anonim. Mereka menyebut pengerahan pasukan sebenarnya telah dimulai sejak Februari, namun dalam beberapa hari terakhir pergerakannya dipercepat seiring meningkatnya ketegangan regional.

Sejumlah perwira Suriah mengatakan langkah ini bertujuan memperketat pengawasan perbatasan untuk mencegah penyelundupan senjata dan narkotika, sekaligus menghalangi infiltrasi militan, termasuk dari kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Hizbullah diketahui memiliki hubungan erat dengan pemerintahan lama Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad.

Seorang perwira Suriah menyebut formasi militer dari beberapa divisi, termasuk Divisi ke-52 dan ke-84, telah memperluas kehadiran mereka di wilayah pedesaan Homs bagian barat serta selatan Tartus. Pengerahan tersebut melibatkan unit infanteri, kendaraan lapis baja, serta peluncur roket jarak pendek jenis Grad dan Katyusha.

Meski demikian, seorang pejabat keamanan Suriah menegaskan bahwa Damaskus tidak memiliki rencana untuk melakukan aksi militer terhadap negara tetangga mana pun.

“Suriah tidak memiliki rencana untuk melakukan tindakan militer terhadap negara tetangga. Namun Suriah siap menghadapi setiap ancaman keamanan terhadap dirinya atau mitra-mitranya,” ujarnya.

Langkah ini memicu kekhawatiran sejumlah pejabat Eropa dan Lebanon terkait kemungkinan terjadinya operasi lintas batas. Namun para perwira Suriah dengan tegas membantah adanya rencana invasi, dan menyatakan bahwa Damaskus justru menginginkan hubungan yang seimbang dengan Beirut setelah puluhan tahun relasi yang diwarnai ketegangan.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Senin 6 April 2026

Suriah diketahui pernah menempatkan pasukannya di Lebanon sejak 1976 hingga 2005, termasuk selama perang saudara Lebanon yang berakhir pada 1990. Kehadiran militer Suriah saat itu menjadi bagian dari dinamika politik dan keamanan yang kompleks antara kedua negara.

Situasi kawasan kembali memanas setelah Hizbullah melanjutkan serangan roket ke wilayah Israel pada Senin (2/3), lebih dari setahun setelah tercapainya gencatan senjata dalam perang berkepanjangan pada 2024. Sejak kesepakatan tersebut, Israel tetap melancarkan serangan hampir setiap hari ke sejumlah target di Lebanon.

Pekan ini, Israel memerintahkan evakuasi besar-besaran di sebagian wilayah Lebanon selatan, menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi. Serangan udara Israel di Lebanon selatan dan kawasan Beirut bagian selatan dilaporkan menewaskan puluhan orang dan mendorong ribuan lainnya melarikan diri menuju wilayah Suriah.

Seorang pejabat keamanan senior Lebanon menyatakan bahwa otoritas Suriah telah memberi tahu Beirut bahwa penempatan peluncur roket di pegunungan perbatasan timur Lebanon merupakan “langkah defensif terhadap setiap tindakan atau serangan yang mungkin dilancarkan Hizbullah terhadap Suriah.”

Dengan eskalasi yang terus berkembang, pengerahan militer Suriah di perbatasan Lebanon menambah daftar panjang dinamika keamanan yang berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :