Ketika Padang Arafah tanpa Jemaah Melimpah dan Cerita dua WNI yang Terpilih Berhaji Saat Pandemi

Ilustrasi/bbc news indonesia/ist.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Kondisi Jabal Rahmah di Padang Arafah pada puncak ibadah haji Kamis (30/7) disebut Dewan Masjidilharam dan Nabawi sebagai “historis dan tidak pernah terjadi sebelumnya, tanpa jemaah, mungkin selama berabad-abad pada musim haji.”

“Pemandangan bersejarah di Arafah hari ini (Kamis, 30 Juli) dengan jalan-jalan kosong dan hanya beberapa ribu jemaah berada di Masjid Namirah,” kata Haramain Sharifain, Dewan Pimpinan Pusat Masjidilharam dan Masjid Nabawi, lembaga setingkat kementerian di Arab Saudi melalui akun Twitter.

Di antara 10.000 jemaah tahun ini, dua warga negara Indonesia – Ata Yahra, dan Irma Tazkiyya – yang terpilih menyebut pengalaman mereka sebagai ‘berkah dan panggilan Allah’.

Ata Yahra mengatakan saat melakukan tawaf bahwa, “Saya terpilih mengikuti haji khusus karena berkah Allah sebelum meninggalkan Saudi”. WNI yang tinggal di Saudi ini akan selesai bertugas di negara kerajaan ini.

“Allah menyayangi saya, menyanyangi keluarga saya,” kata Ata berlinang sambil menyeka airmatanya saat melakukan tawaf pada Rabu (29/7), seperti dilansir BBC News Indonesia.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Arab Saudi melarang jemaah haji internasional di tengah pandemi Covid-19, dengan jumlah yang ikut tahun ini dibatasi hanya 10.000 orang, sementara tahun lalu sekitar 2,5 juta.

Dari 10.000 calon jemaah, 70% di antaranya adalah warga dari 160 negara yang bermukim di Saudi dan mereka perlu mendaftarkan diri secara online, disaring oleh Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi.

Sementara 30% lainnya adalah warga Saudi sendiri dan diutamakan adalah tenaga kesehatan dan keamanan yang bekerja menangani pandemi Covid-19.

Jemaah yang mengikuti haji tahun ini sudah melakukan tawaf di Masjidilharam Rabu (29/7) dengan protokol kesehatan menjaga jarak, menurut Haramain Sharifain, akun resmi yang melaporkan ibadah di Mekah dan Medinah.

Kasus positif virus corona di Arab Saudi tercatat sebesar lebih dari 270.000 dengan pasien meninggal hampir 3.000, salah satu negara dengan kasus tertinggi di Timur Tengah.

WNI lain yang terpilih adalah Irma Tazkiyya.
Seperti jemaah lainnya, ia mengikuti masa karantina empat hari di hotel di Mekah, yang ditetapkan oleh Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi, bersama dengan warga dari 160 negara yang terpilih melalui sistem pendaftaran daring.

“Saya bersyukur banget, bisa diterima di haji tahun ini. Masyaallah, segala fasilitas, servis selama karantina, bagus banget. Kita ditempatkan di satu kamar satu orang, makanan selalu diantar, kalau butuh sesuatu tinggal telepon,” kata Irma melalui suaminya Afnan Firdaus Selasa (28/7).

“Ada tenaga medis di bawah yang stand-by bantu kita untuk masalah kesehatan. Tinggal telepon, tenaga medis akan datang. Masya Allah tabarakallah. Selama karantina di hotel, Alhamdulilah semua sangat memuaskan,” tambahnya.

Ia menambahkan mereka dibagi per 20 orang yang terdiri dari beberapa negara.

Arab Saudi mengumumkan mereka yang terpilih untuk mengikuti ibadah haji yang sangat terbatas ini pada 22 Juli lalu, tanpa ada penjelasan mengapa dipilih ataupun ditolak.

Menurut keterangan dari KBRI ada lagi seorang WNI yang terpilih untuk beribadah haji, seorang guru sekolah Indonesia di Riyadh.

“Berkah dan panggilan Allah SWT”

Bagi Irma – yang baru pertama kali ini melakukan ibadah haji – saat diumumkan terpilih sempat “berlinang” karena sama sekali tidak mengira.

“Ini semua berkah dan panggilan Allah SWT pada saat pandemi virus corona,” kata Irma melalui suaminya Afnan.

“Istri saya terus terang matanya berlinang menceritakan bahwa dirinya terpilih jadi calon haji tahun ini, sambil berharap saya mengizinkan untuk ikut dan membayar biaya yang dikenakan, yang sebenarnya dari awal sudah saya infokan kalau biayanya terlampau tinggi, saya tidak siap mengingat kondisi keuangan yang lagi timpang,” kata Afnan.

“Yang bikin lebih terharu lagi buat saya khususnya karena ternyata haji kali ini gratis, padahal dari awal sempat tersiar info bahwa kisaran biaya antara 7.000 riyal sampai 13.000 riyal (Rp27 juta sampai Rp50 juta), tergantung pada fasilitas yang dipilih,” tambah Afnan yang bekerja di Konsulat Jendral Indonesia di Jeddah.

“Dan ternyata tidak dipungut biaya apa pun, bahkan tes swab pun tidak dipungut biaya.” @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hindari Mengolah Daging Kurban Jadi Satai, Ini Alasannya

Jum Jul 31 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Iduladha telah tiba. Mungkin Anda sudah merencanakan menu masakan tertentu untuk mengolah daging kambing atau sapi hasil kurban. Dari tahun ke tahun, banyak orang memilih mengolah daging kurban menjadi menu satai. Namun ternyata, hal itu tidak disarankan. Apa sebabnya? Executive Chef Aprez Catering by Amuz Group […]