VISI.NEWS | BANDUNG – Perang Rusia dan Ukraina yang telah berlangsung sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022 tidak hanya menjadi konflik militer biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, perang tersebut berkembang menjadi medan uji teknologi militer paling mutakhir di dunia. Jika sebelumnya langit Ukraina dipenuhi drone pengintai dan drone tempur, kini medan perang di darat mulai dipenuhi robot bersenjata yang beroperasi tanpa awak.
Perkembangan ini menandai fase baru dalam strategi tempur modern. Ukraina mulai mengerahkan uncrewed ground vehicles (UGV) atau kendaraan tempur darat tanpa awak dalam jumlah besar untuk menghadapi pasukan Rusia. Robot-robot ini dirancang untuk menjalankan berbagai tugas berbahaya, mulai dari menyerang posisi musuh hingga mengevakuasi korban luka.
Menurut Oleksandr Afanasiev dari Brigade K2 Angkatan Darat Ukraina, unitnya bahkan telah membentuk batalion khusus robot darat yang disebut sebagai yang pertama di dunia. Ia mengatakan teknologi tersebut memberikan keunggulan taktis karena mampu menggantikan manusia di medan yang sangat berbahaya.
“Perang robot sebenarnya sudah terjadi sekarang.” kata Afanasiev.
Ia menjelaskan bahwa robot-robot tersebut sering dipersenjatai dengan senapan mesin Kalashnikov yang dipasang di bagian atas kendaraan kecil beroda atau berantai. Dengan konfigurasi itu, robot dapat menyerang target di area yang terlalu berisiko bagi tentara manusia.
“Robot bisa membuka tembakan di medan tempur yang bahkan membuat prajurit infanteri takut untuk datang. Robot tidak ragu mengambil risiko hancur selama misi berhasil,” ujarnya.
Selain digunakan sebagai platform senjata, beberapa UGV Ukraina juga berfungsi sebagai “kamikaze” darat. Robot ini membawa bahan peledak dan dikendalikan menuju posisi musuh sebelum diledakkan. Berbeda dengan drone udara yang sering menimbulkan suara berdengung, robot darat bergerak hampir tanpa suara sehingga sulit dideteksi oleh pasukan lawan.
Sejumlah laporan di garis depan bahkan menyebutkan robot-robot tersebut pernah berhasil menghalau serangan Rusia dan membantu menangkap tentara lawan. Dalam beberapa situasi ekstrem, robot milik Ukraina dan Rusia juga disebut-sebut pernah berhadapan langsung tanpa kehadiran manusia di lokasi pertempuran.
Komandan wakil batalion tank dari Brigade Mekanis ke-33 Ukraina yang menggunakan nama panggilan Afghan menceritakan salah satu insiden ketika robot bersenjata berhasil menyergap kendaraan pengangkut personel Rusia. Ia mengatakan robot tersebut bahkan mampu mempertahankan posisi Ukraina selama berminggu-minggu.
Namun Afghan menegaskan bahwa teknologi ini tetap memiliki batasan, terutama terkait etika perang dan hukum humaniter internasional.
“Robot tempur modern sebenarnya hanya sebagian yang otonom. Mereka bisa bergerak sendiri, mengamati, dan mendeteksi musuh. Tetapi keputusan untuk membuka tembakan tetap dibuat oleh manusia, yaitu operatornya,” kata Afghan.
Menurutnya, keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia karena risiko kesalahan sangat besar jika sepenuhnya diserahkan pada mesin.
“Robot bisa saja salah mengidentifikasi target atau bahkan menyerang warga sipil. Karena itu keputusan terakhir harus tetap diambil oleh operator manusia,” tambahnya.
Karena alasan tersebut, sebagian besar robot tempur masih dikendalikan dari jarak jauh melalui jaringan internet oleh operator yang berada di lokasi aman. Selain membawa senapan mesin atau peluncur granat, UGV juga dapat digunakan untuk menanam ranjau, memasang kawat berduri, mengirim logistik, hingga mengevakuasi tentara yang terluka dari garis depan.
Peran robot tempur ini diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Mantan panglima tertinggi militer Ukraina yang kini menjabat sebagai duta besar di Inggris, Valerii Zaluzhnyi, menyebut masa depan peperangan akan didominasi oleh sistem robotik dan kecerdasan buatan.
Dalam sebuah diskusi di lembaga kajian Chatham House di London, ia menggambarkan skenario serangan masa depan yang melibatkan ratusan drone dari berbagai arah sekaligus.
“Dalam waktu dekat kita akan melihat puluhan bahkan ratusan drone yang lebih cerdas dan murah menyerang secara bersamaan dari berbagai arah dan ketinggian—dari udara, darat, hingga laut,” kata Zaluzhnyi.
Kebutuhan militer yang mendesak juga menjadi pendorong utama inovasi ini. Drone udara telah membuat garis depan menjadi sangat berbahaya bagi manusia, memperluas zona mematikan hingga 20–25 kilometer dari garis kontak. Dalam kondisi seperti itu, robot darat dianggap sebagai solusi untuk mengurangi risiko korban di pihak tentara.
“Ukraina masih bisa kehilangan robot, tetapi kami tidak bisa kehilangan prajurit yang siap tempur,” ujar Afanasiev.
Di sisi lain, Rusia juga mengembangkan teknologi serupa. Media Rusia melaporkan adanya robot tempur bernama Kuryer yang dapat dipasangi penyembur api atau senapan mesin berat serta mampu beroperasi secara mandiri hingga lima jam. Rusia juga menggunakan kendaraan kamikaze darat bernama Lyagushka untuk menyerang posisi Ukraina.
CEO perusahaan pengembang robot militer Ukraina Devdroid, Yuriy Poritsky, mengatakan bentrokan antara robot tempur kedua negara hanya tinggal menunggu waktu.
“Cepat atau lambat kita akan melihat robot tempur milik Ukraina berhadapan langsung dengan robot tempur milik Rusia di medan perang,” ujarnya.
Menurutnya, perang robot yang dulu hanya ada dalam film fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan.
“Perang robot mungkin terdengar seperti cerita fiksi ilmiah, tetapi di medan perang ini adalah kenyataan yang kami hadapi setiap hari,” katanya.
Produksi robot tempur juga meningkat tajam. Perusahaan Ukraina Tencore, misalnya, telah memproduksi lebih dari 2.000 UGV pada 2025. Direktur perusahaan tersebut, Maksym Vasylchenko, memperkirakan permintaan bisa melonjak hingga 40.000 unit pada 2026.
“Drone serang di darat akan menjadi perlengkapan yang tidak tergantikan dalam perang modern, itu sudah pasti,” ujarnya.
Ia bahkan memprediksi bahwa di masa depan robot tempur bisa memiliki bentuk menyerupai manusia.
“Suatu hari nanti robot yang bertempur mungkin akan berbentuk seperti manusia. Saat itu terjadi, hal tersebut tidak lagi dianggap sebagai fiksi ilmiah,” kata Vasylchenko. @kanaya