Ketua MUI Kab. Bandung, “Ulama dan Umara Harus Sareundeuk Saigel Sabobot Sapihanéan”

Editor :
1
Pengurus MUI Kecamatan Rancaekek difoto bersama usai pelantikan, Minggu (19/7)./visi.news/budimantara.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Ketua MUI Kabupaten Bandung, K.H. Yayan Hasuna Hudaya mengatakan, maju dan tidaknya suatu wilayah atau daerah bergantung pada dua hal, yakni ulama dan umara. Kedua kelompok itu harus “sareundeuk saigel sabobot sapihanean”. Artinya, harus memberikan kemaslahatan untuk umat sehingga akan tercipta sesuatu yang aman dan kondusif.

KH Yayan mengatakan hal itu dalam sambutannya di depan pengurus MUI Kecamatan Rancaekek, di Masjid Besar Rancaekek, kawasan Dangdeur, Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung, Minggu (19/7).

“Jika ulama dan umara ‘pakia-kia” (egoistis, red.), maka akan rusak umatnya. Karena keduanya sebagai imam atau pemimpin yang dapat perlindungan di hari kiamat nanti. Imam itu pemimpin ulama dan pemerintahan. Rusaknya rakyat, rusaknya penguasa. Penguasa rusak, rakyat rusak. Rusaknya pemerintah karena rusaknya ulama. Ulama sudah rusak, imbasnya penguasanya rusak. Inilah sinergitas ulama dan umara diperlukan. Kuat karena bersatu, rusak karena terjadi perpecahan. Kita harus bersatu walaupun dalam perbedaan, tapi bukan perbedaan akidah,” paparnya.

Yayan pun menuturkan tugas dan fungsi MUI. Di antaranya berorientasi pada menangani ‘diniah’ atau masalah keagamaan dengan cara memberikan fatwa.

“MUI memberikan pelayanan pada umat. MUI harus meluruskan dan membenarkan atau memperbaiki akidah bila menyimpang. Selain itu mendamaikan umat dan menyelamatkan umat,” ungkapnya.

Kemudian, katanya, prinsip dan tugas ulama yakni mengajak umat ke jalan yang baik dan benar, selain memberikan petunjuk dan arahan yang benar.

“Tugas ulama harus responsif terhadap segala permasalahan dan membantu pemerintah dalam pembangunan,” ujar Yayan.

Menurutnya, MUI harus independen, apalagi pada jalur politik.

“Berpolitik boleh, tapi lembaga tak boleh diseret ke politik. Dalam politik tak ada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi,” katanya.

Ia pun mengatakan, MUI harus saling membantu dalam kebaikan sesuai dengan kemampuan. “Kita harus toleransi dan saling menghargai,” pungkasnya.

Sementara Camat Rancaekek, Drs. Baban Banjar berharap, terbentuknya kepengurusan baru Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Rancaekek, keberadaannya makin kokoh dan terus bersinergi dengan pemerintah (umara).

“Harus selalu saling memperkuat,” kata Baban saat menyampaikan sambutannya.

Baban mengatakan, dalam menjalankan pemerintahan, pemerintah itu membangun secara fisik, di antaranya infrastruktur jalan, gedung, dan lainnya.

“MUI membangun mental spiritual. Pembangunan fisik tanpa pembangunan spiritual akan hancur, misalnya terjadi korupsi, manipulasi, dan KKN. Tapi dibangun mental spiritualnya, itu yakin akan menjadi benteng dan menjaga hal-hal yang merugikan baik merugikan negara maupun masyarakat,” kata Baban.

Camat Rancaekek pun menilai lembaga MUI itu merupakan wadah untuk mempersatukan berbagai unsur ormas Islam atau golongan. Di antaranya dari kalangan Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan unsur ormas lainnya.

“Dengan banyaknya organisasi itu dapat memperkokoh gerakan Islam. Saya pun yakin bahwa Islam itu satu,” kata Baban.

Walaupun ada perbedaan dan pandangan, ia mengatakan, sebagai manusia beriman harus taat pada Allah SWT dan taat kepada Rasulullah saw.

Ia juga mengajak sejumlah pihak untuk tidak mengedepankan perbedaan atau masalah. Dalam berbagai permasalahan bisa dilaksanakan melalui musyawarah dengan melibatkan ulama dan umara.

“Insyaallah ulama dan umara bersinergi dalam pembangunan fisik maupun mental spiritual di lingkungan masyarakat. Apalagi dalam setiap kegiatan keislaman selalu didukung jajaran kepengurusan MUI, tokoh kemasyarakatan, tokoh agama, pemerintah, dan jajaran Forkopimcam Rancaekek,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19, mulai Maret 2020 lalu hingga saat ini, sejumlah pihak selalu menaati program pemerintah. Di antaranya menghentikan sementara waktu kegiatan keagamaan di masjid dengan jemaahnya keluar masuk dari luar daerah.

“Tapi ada pengecualian bagi masjid yang ada di pedalaman kampung, dengan kegiatan keagamannya tidak diikuti orang luar. Namun untuk masjid besar di jalan raya secara otomatis berhenti dulu sementara waktu kegiatan keagamannya. Dan kegiatan keagamaannya bisa diganti dengan amal ibadah di rumah masing-masing,” katanya.

Dalam upaya pencegahan pandemi Covid-19, katanya, banyak pihak yang turut peduli melaksanakan kegiatan sosial, di antaranya membagikan masker, hand sanitizer dari berbagai organisasi keagamaan untuk memutus dan mencegah penyebaran Covid-19.

“Itu yang saya banggakan banyak ormas Islam di Rancaekek yang turut peduli dalam kegiatan sosial. Mereka tidak mengedepankan perbedaan, tapi mengedepankan kepentingan bersama,” katanya.

Adapun para pengurus baru MUI Kec. Rancaekek, di antaranya Ketua Umum Ustaz Ir. Elan Zaelani,
Wakil Ketua Ustaz Yudi mulyadi, S,Ag.,
Sekretaris Umum DR. Uwoh Saepuloh, M.Ag., dan
Bendahara Umum Acep Hapid, S.Sos. @bud

Fendy Sy Citrawarga

One thought on “Ketua MUI Kab. Bandung, “Ulama dan Umara Harus Sareundeuk Saigel Sabobot Sapihanéan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Optimistis Direkomendasi Partai, Jane Shalimar "Nyalon" Wabup Bandung Berbekal Tiga Program

Ming Jul 19 , 2020
Silahkan bagikan – “Di saat bupatinya laki-laki dan wakil bupatinya dari perempuan, bisa berbagi tugas,” tutur Jane. VISI.NEWS – Jane Shalimar, salah seorang pengurus DPP Partai Demokrat yang juga selebritas nasional, disebut-sebut menjadi salah seorang kandidat kuat bakal calon wakil bupati Bandung dari Partai Demokrat. Kiprah Jane dalam turut serta […]