VISI.NEWS | JAKARTA – Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto mengingatkan bahwa transformasi digital yang sekarang sedang berlangsung harus disikapi secara hati-hati. “Transformasi itu boleh tapi fundamentalnya jangan ditinggalkan, karena hari ini kita menyaksikan ada dua bank besar di Amerika Serikat yang tumbang,” ujarnya saat membuka Executive Education Program for Young Political Leader 11 yang diselenggarakan oleh Golkar Institute, Senin (13/3/2023).
Hadir dalam acara tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang juga jadi pemateri, Direktur Golkar Institute Tb. Ace Hasan Syadzily, dan pengurus DPP serta Golkar Institute lainnya.
“Dua bank besar di AS hari ini ambruk, Silicon Valley Bank dan Silvergate. Bagaimana pemerintah AS menangani masalah ini, masih cukup kesulitan. Indonesia lebih beruntung sudah memiliki Undang-undang P2SK. Ini merupakan buffer terhadap krisis keuangan yang mungkin timbul, ” ujarnya.
Melihat tantangan seperti itu, sudah sewajarnya, kata Airlangga, kader Golkar untuk membuat karya nyata. “Ini pengalaman yang luar biasa. Mata uang kita yang harus dijaga. Bublenya harus dijaga. Transformasi boleh, melompat boleh tapi fundamentalnya jangan ditinggalkan,” tandasnya.
Di era digitalisasi, transforms dari Information Technology (IT) IT ke Artificial Intelegent (AI). “IT booming di tahun 2000-an, sekarang kita masuk ke AI. Terkait dengan berbagai kegiatan, perubahan infrastrutur digital yang maki canggih. Dulu station Cibinong sangat kita dibanggakan, sekarang diganti dengan alat sebesar torn air. Sebelumnya kita banyak yang tidak ngerti sekarang sudah lebih transparan,” katanya.
Perubahan, katanya, menjadikan ketidakpastian yang perlu dimitigasi. Ada tiga faktor yang harus diperhatikan yakni ekonomi, politik dan kepemimpinan. “Kalau istilah dulu, ada stabilitas politik, pertumbuman ekonomi dan pemerataan. Nah untuk mencapai stabilitas politik hampir 90 persen parpol mendukung stabilitas politik, menjadi pendukung yang berkuasa. Di pemerintahan ini juga, kita bisa mereformasi 79 UU melalui UU Ciptakerja. Kalas satu UU, lamanya satu tabun, maka untuk UU Ciptakerja ini bisa sampai 79 tahun,” ungkapnya.
Perpu Ciptakerja, kata Airlangga, sudah dilaksanakan, dengan didukung 50 Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Presiden (Perpres) yang ditandatangan sekaligus oleh Presiden. “Indonesia satu-satunya negara yang selama Covid bisa melakukan transformasi. Kita berhasil menyelesaikan agenda G-20. Bahkan di akhir tahun dari Harvard University dan Business School milih pembelajaran ke Indonesia.
Tahun ini Indonesia juga memimpin Asean. Dunia sekarang juga melirik ke Indonesia. Untuk pertama kalinya G-20 diset bukan oleh G-7, tapi oleh orang-orang Indonesia,” katanya.
Pola kerja untuk menyiapkan itu, kata Airlangga, juga kreatif. “Contohnya, saat kita menghendel 20 senior official, maka mereka kita simpan di Pinisi. Kita bisa kerja sambil lihat sunset, yang tidak tinggal kita lempat ke laut, yang tidak selesai kita serankan ke komodo. Maka, mau tidak mau mereka tidak bisa out, dan mempersiapkan pekerjaan full. Salah satu hasilnya, saat G-20 tidak ada foto bersama, tapi satu-satu delegasi difoto bersama presiden diiringi lagu, sehingga masing-masing merasa dihargai,” ungkapnya.
Banyak kebijakan yang bisa kita buat, namun harus ada dukungan politik, harus didukung oleh parlemen untuk dukungan anggarannya. “Karya dan kekaryaan, karena pada hakekatnya manusia hidup untuk berkarya, berkarya untuk hidup,” ungkapnya.
Di DPP Partai Golkar, kata Airlangga Hartarto, hampir 70%-nya bergelar doktor. Dari jumlah tersebut, 50% lebih jebolan Unpad. Dengan lulus S3, maka katanya, tingkat membacanya juga jadi meningkat. “Inilah yang menjadikan Golkar terus berkarya, karena kalau sudah jadi doktor tidak mungkin tidak membaca. Kata Rasulullah, Iqro, bacalah…..”.
Airlangga juga mengingatkan, tantangan ke depan sangat besar dan komplek. Tantangan baru akibat perang belum berakhir, eskalasi perang Rusia dan Ukraina semakin meningkat, krisis terus berlangjut, ketahanan pangan juga terus berlanjut karena sekarang pantai utara banjir, tapi tahun depan akan menghadapi kekeringan. “Persoalan banjir hari ini dan persoalan La Nina yang bisa mengakibatkan kekeringan di tahun depan,” tandasnya.@mpa