Keutamaan Bekerja Mencari Nafkah

Editor :
Ilustrasi./mui.or.id./ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Bekerja mencari nafkah merupakan amal saleh yang pahalanya sangat besar yang juga dinilai sebagai sedekah. Allah akan memberi keberkahan pada setiap nafkah yang diberikan seseorang kepada keluarganya, juga Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih baik lagi.

Allah juga menyamakan bekerja mencari nafkah dengan berjihad di medan perang sehingga jika seseorang yang wafat sedang bekerja mencari nafkah, maka matinya adalah mati syahid.

Dari Abu Hurairah, Nabi  saw. bersabda, “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen).” (HR Muslim no. 995)

Jika mencari nafkah dengan ikhlas, akan menuai pahala besar. Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Nabi saw. bersabda, “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR Bukhari no. 56)

Hadis ini menunjukkan bahwa mencari nafkah bisa mendapat pahala jika diniatkan dengan ikhlas untuk meraih rida Allah. Namun, jika itu hanya aktivitas harian semata, atau yakin itu hanya kewajiban suami, belum tentu berbuah pahala.

Memberi nafkah termasuk sedekah. Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau berikan pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau berikan pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau berikan pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah” (HR Ahmad 4: 131.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan).

Harta yang dinafkahkan semakin berkah dan akan diganti. Dari Abu Hurairah, Nabi saw.  bersabda, “Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak’. Yang lain mengatakan, ‘Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit’.” (HR Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010). 

Memperhatikan nafkah keluarga akan mendapat penghalang dari siksa neraka. ‘Adi bin Hatim berkata,

“Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma” (HR Bukhari no. 1417)

‘Aisyah r.a. berkata, “Ada seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku meminta makanan, akan tetapi ia tidak mendapati sedikit makanan pun yang ada padaku kecuali sebutir kurma. Maka aku pun memberikan kurma tersebut kepadanya, lalu ia membagi sebutir kurma tersebut untuk kedua putrinya, dan ia tidak makan kurma itu sedikit pun. Setelah itu ibu itu berdiri dan pergi keluar. Lalu masuklah Nabi saw., maka aku pun mengabarkannya tentang ini, lantas beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka’.” (HR Bukhari no 1418 dan Muslim no 2629).

Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua saudara perempuannya atau kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lalu Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka amalan tersebut akan membentengi dirinya dari neraka.” (HR Ahmad 6: Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if)

Dua hadis terakhir ini menerangkan keutamaan memberi nafkah pada anak perempuan karena mereka berbeda dengan anak laki-laki yang bisa mencari nafkah, sedangkan perempuan asalnya di rumah.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Pada saat kami bersama Rasulullah saw., tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang pemuda dari lembah. Ketika kami terfokus kepadanya, kami berkata, ‘Semoga pemuda itu menjadikan kerajinannya, kepemudaanya, dan kekuatannya di jalan Allah. Rasulullah mendengar ucapan kami, lalu belidu bersabda: Apakah yang dinilai syahid hanya orang yang wafat di meda perang? Barangsiapa yang bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia di jalan Allah, barangsiapa yang bekerja untuk keluarganya maka ia di jalan Allah, barangsiapa bekerja hanya untuk memperbanyak harta, maka dia di jalan setan.  Sungguh mulianya orang yang bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarganya, jika ia mati dalam bekerja maka ia dinilai syahid.” @fen/mui.or.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Oded Beri Lampu Hijau Buat Grab Angkut Penumpang

Ming Jun 28 , 2020
Silahkan bagikan    VISI.NEWS -Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandung memberikan lampu hijau kepada ojek berbasis online dan ojek pangkalan untuk mengangkut penumpang dengan tetap menerapkan standar protokol kesehatan.Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covod-19, Oded M. Danial, mennyampaikan hal tersebut saat menerima perwakilan Grab di Pendopo Kota Bandung, Jln. […]