- Jemaah haji Indonesia khususnya asal Jawa Barat telah selesai menjalankan rangkaian ibadah haji sampai puncaknya pada 9 Dzulhijjah 1446 di Arafah. Ustadz Haji Muslihudin melaporkan langsung dari tanah suci perjalanan ibadah haji tahun ini. Berikut laporannya.
VISI.NEWS | MEKKAH – Musim haji tahun ini menjadi pengalaman penuh tantangan sekaligus berkah bagi KH Aminudin Mu’min, pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Samudra Mahabbah. Beliau memimpin langsung rombongan sebanyak 86 jemaah haji dalam satu kloter KJT 07, yang menghadapi berbagai dinamika baru dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Salah satu tantangan terbesar adalah penggunaan sistem 8 syarikah atau perusahaan penyelenggara layanan haji, yang membagi jemaah dalam 12 hingga 23 hotel berbeda. “Di KJT 07 saja ada tiga syarikah, yakni Sa’na, BTG, dan Raqin. Ini membuat koordinasi menjadi tidak mudah, apalagi ketika kami berangkat dari Madinah, petugas kloter tidak bisa mendampingi karena beda syarikah,” ujar KH Aminudin di Mekkah, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025).

Beruntung, di kloter tersebut terdapat Kepala Kemenag Kabupaten Bandung, yang mampu membantu koordinasi antar TPHD dan KBIHU lainnya. “Alhamdulillah, meskipun kami sempat terpisah dari empat petugas utama, pergeseran jemaah dari Madinah ke Mekkah tetap berjalan lancar,” jelasnya.
Tantangan lain muncul saat jemaah berada di Muzdalifah. Menurut KH Aminudin, bus yang seharusnya menjemput jemaah tidak kunjung datang. “Ada bus yang baru sampai jam 12 siang, bahkan jam 2 siang, padahal jarak hanya 7-8 km. Maka 90 persen jemaah kami putuskan untuk jalan kaki,” ujarnya. Keputusan ini diambil setelah berkoordinasi dengan pihak maktab dan syarikah, meski terdapat ketidaksinkronan antara keduanya.

Namun, pemerintah Indonesia dan Arab Saudi telah menyiapkan solusi melalui konsep murur, di mana jemaah lansia tidak perlu turun di Muzdalifah dan langsung diarahkan ke Mina. “Kalau tidak ada murur, para lansia akan sangat kesulitan, apalagi yang menggunakan kursi roda dan membawa barang berat dari Arafah,” tutur KH Aminudin.
Dalam menghadapi perubahan sistem layanan, KBIHU Samudra Mahabbah telah mempersiapkan jemaah secara fisik dan mental jauh sebelum keberangkatan. “Kami lakukan latihan fisik, olahraga, jalan kaki bersama untuk melihat kekuatan jemaah. Kami juga minta mereka aktif mengikuti informasi dari dokter kloter,” ungkapnya.
Tahun ini, jumlah petugas safari wukuf pun meningkat. “Biasanya satu orang, sekarang ada tujuh orang. Alhamdulillah seluruh jemaah kami dalam keadaan sehat dan mampu menyelesaikan rangkaian ibadah haji hingga nafar awal,” katanya dengan rasa syukur.
Menurutnya, setiap musim haji pasti memiliki cerita unik. Di Mekkah, hampir semua program berjalan lancar, baik secara rombongan maupun pribadi. “Kami selalu melakukan evaluasi dan menekankan kebersamaan. Ada jemaah yang menyewa petugas dorong kursi roda, tapi banyak juga yang saling bantu sesama jemaah,” ujarnya.
Menjelang kepulangan, jemaah akan melakukan city tour ke Thaif sambil mengadakan tasyakuran. “Banyak tempat bersejarah yang bisa kita kunjungi sambil refreshing agar tidak terlalu stres,” tambahnya.
KH Aminudin juga menegaskan bahwa KBIHU bukan sekadar lembaga bimbingan, tapi tempat pelayanan dengan tanggung jawab akhirat. “Kami hanya melayani yang datang ke tempat kami, tidak ingin ada jemaah yang kecewa nanti di akhirat. Uang bimbingan itu untuk kemanfaatan mereka juga,” pungkasnya. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat bisa menghubungi KBIHU Samudra Mahabbah di Jln. Laswi 613 Ciparay, kontak 081322696433 atau 081321432122.
@uli