KHOTBAH JUMAT: Agar Hidup Tidak Tersandung “Khusrun”

Editor Ilustrasi masjid./net/ist.
Silahkan bagikan

Oleh F. Syarifuddin C.

VISI.NEWS – Allah berfirman dalam Alquran yang artinya:

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Surat Al-‘Asr:1-3)

Kata Al ‘Ashr berarti waktu/masa dan diambil dari ayat pertama surat ini. Isi surat mengabarkan bahwa sesungguhnya semua manusia itu berada dalam keadaan merugi kecuali dia termasuk mereka yang selalu beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.

Mulai hari ini kita sudah meniti tahun 2021 dan meninggalkan hitungan tahun 2020. Sebagai muslim seyogianya kita menyikapi pergantian bilangan tahun ini dengan bertanya kepada diri sendiri atau menghisab diri, sudah berapa banyak amal salih yang kita lakukan, dan berapa dosa yang sudah kita taubati.

Bagi muslim, pergantian waktu yang harus diperingati bukan hanya dalam hitungan tahun, melainkan dalam hitungan detik, menit, jam, dan seterusnya. Arinya, kita dituntut menghisab, mengintrospeksi diri, setiap saat.

Mengapa? Karena seperti dikemukakan pada ayat Alquran di muka bahwa waktu hidup yang dilalui semua manusia akan merugikan, kecuali tiga golongan, yaitu orang beriman, orang beramal saleh, dan suka saling menasihati dalam kebajikan dan kesabaran.

Jadi, agar hidup tidak rugi sepanjang hayat di alam dunia ini, laksanakanlah ketiga hal di atas. Jika tidak dilaksanakan, jelas akan tersandung “khusrun”.

Agar kita tidak tersandung “khusrun”, pertama-tama kita harus hidup berpijak pada fondasi iman atau keimanan.

Hendaknya iman atau keimanan ini menjadi bagian dari langkah hidup kita. Artinya, segala perbuatan kita harus berasas keimanan kepada Allah dan RasulNya, atau terhadap rukun iman yang enam. Tanpa dilandasi keimanan, maka akan sia-sialah amal perbuatan kita.

Baca Juga :  Botol Miras Bekas Tercecer di Gedung DPRD Surabaya, Ada Apa?

Kedua, beramal saleh. Hendaknya perilaku kita dihiasi amal saleh, yakni aplikasi dari keimanan. Artinya, kita tidak cukup hanya mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya, tetapi tidak mau melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya. Nah, dalam beramal saleh itulah akan tampak realisasi keimanan yang kita miliki.

Ketiga, saling menasihati. Manusia selalu berubah-ubah sikapnya, terkadang baik terkadang buruk. Namun hal ini jangan dijadikan alasan pembenaran terhadap perbuatan buruk, melainkan harus diusahakan agar tidak terjadi perbuatan buruk.

Di sinilah pentingnya saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran. Tugas ini menjadi tanggung jawab para mubalig pada intinya melalui majelis taklim dsb.

Namun, setiap individu muslim pun berkewajiban menasihati dirinya, keluarganya, dan orang-orang lainnya sesuai dengan kemampuannya.

Semoga menapaki titian tahun 2021 ini kita meraih keberuntungan dengan menjalankan 3 tuntunan di atas sehingga dijauhkan dari julukan insan “khusrun” atau manusia yang rugi. Aamiin. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

TELAAH: Tentang Perintah Salat dan Maknanya (2/Habis)

Kam Des 31 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Di sisi lain, Allah menyisipkan beberapa waktu penting kepada manusia sebagai tempat mengadu dan mengeluh setelah melakukan aktivitas dunia. Dengan salat, manusia dapat mengistirahatkan diri dan ketenangan jiwanya setelah melakukan kesibukan dalam menghadapi berbagai aktivitas dunia. Dengan begitu pula, setiap manusia mendapat pengakuan akidah di antara masyarakat […]