KHOTBAH JUMAT: Kepribadian Umat Islam Indonesia

Editor :


Silahkan bagikan

Oleh Dr H Mohammad Arja’ Imroni, MAg.

VISI-NEWS.COM – Kepribadian dalam bahasa Arab diistilahkan dengan al Syakhsiyah, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan personality.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kepribadian berasal dari kata ‘pribadi’ yang artinya manusia sebagai perseorangan (diri manusia atau diri sendiri) dan keadaan manusia sebagai perseorangan atau keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang.

Kemudian kata kepribadian diartikan dengan ‘sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dengan orang atau bangsa lain.’

Jadi, kepribadian merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia karena ia dapat menjadi penanda kekhasan mereka.

Adapun kata umat artinya adalah para penganut suatu agama.

Islam berasal dari bahasa Arab yang secara bahasa artinya berserah diri, yaitu agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. berdasarkan wahyu dari Allah SWT.

Kata Indonesia menunjukkan keterangan tempat di mana umat Islam tinggal.

Dengan demikian, kepribadian umat Islam Indonesia dapat dipahami sebagai sifat-sifat atau karakter yang menjadi identitas umat penganut agama Islam yang sekaligus sebagai warga negara dan penduduk Indonesia.

Di era globalisasi dan revolusi industri 4.0 yang sedang terjadi ini, ada kecenderungan meleburnya semua identitas menjadi satu, yaitu oleh adanya tatanan nilai dunia baru (the new world order).

Di era ini, kita sering menyaksikan fakta bahwa sulit membedakan antara umat yang satu dengan umat yang lain.

Terkadang perilaku dan moralitas sebagian umat Islam sama sekali tidak menampakkan identitas mereka sebagai umat Islam Indonesia.

Contoh ada yang mengaku beragama Islam, namun karakter kepribadiannya justru seperti orang yang sekuler. Ada yang dalam berbisnis, persis seperti seorang penganut kapitalisme yang hanya mengeruk keuntungan, tanpa memperhatikan halal/haram.

Bahkan, seorang ahli agama sekalipun terkadang tidak memberikan contoh kepribadian seorang agamawan. Demikian juga dalam bidang-bidang lainnya.

Fakta ini sungguh ironis karena seharusnya umat islam Indonesia memiliki identitas yang jelas, yang berbeda dengan bangsa-bangsa yang sekuler maupun yang kapitalis.

Dengan demikian, umat Islam Indonesia tertantang untuk makin memperkokoh jati dirinya agar tidak mengalami krisis identitas.

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya karakter kepribadian umat Islam Indonesia yang baik? Untuk membahas ini tentu tidak cukup waktu dalam satu khotbah jumat saja.

Namun secara singkat dapat dikatakan bahwa kepribadian umat Islam Indonesia mestinya harus memadukan dua karakter kepribadian yaitu keislaman dan keindonesiaan.

Dua karakter keislaman dan keindonesiaan harus menyatu dalam diri umat Islam Indonesia sebagai identitas yang utuh.

Kepribadian keislaman dibentuk oleh nilai-nilai substantif yang diambil dari agama Islam dan kepribadian keindonesiaan dibentuk oleh nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah hidup bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

Dalam konteks ini, Islam tidak perlu dipertentangkan dengan Pancasila karena kenyataannya nilai-nilai substantif Islam telah terserap dengan baik dalam rumusan Pancasila.

Untuk menjadi orang Islam yang baik, yang taat beragama ternyata juga dalam waktu yang sama bisa menjadi orang Indonesia yang baik, yang pancasilais.

Sayangnya, setelah 75 tahun Indonesia merdeka masih saja ada umat Islam yang menyoal keabsahan pancasila dibenturkan dengan Islam.

Sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, tetapi masih memposisikan Islam versus pancasila sebagai sesuatu yang bertentangan, bisa saja disebut sebagai orang yang mengalami split personality (kepribadian yang pecah) belum menyatukan nilai-nilai keislaman dank keindonesiaan.

Untuk menyebut beberapa contoh karakter yang mencerminkan kepribadian umat Islam Indonesia yang kokoh keislaman dan keindonesiaanya adalah sebagai berikut:

Pertama, umat Islam tentu saja harus memiliki keyakinan tauhid yaitu mengesakan Allah SWT yakni menyembah dan menghamba hanya kepada Allah SWT.

Konsekuensi dari prinsip tauhid maka dia tidak menuhankan apa pun selain Allah SWT.
Umat Islam Indonesia seharusnya tidak akan pernah memberhalakan harta, pangkat, ataupun jabatan.

Menuhankan harta bisa berakibat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta (dengan mencuri, korupsi, dan lainnya). Demikian pula jika seseorang memberhalakan pangkat atau jabatan.

Keyakinan tauhid juga akan melahirkan kepribadian yang tekun dalam ibadah sebagai hablun minallah.

Karakter seperti ini tentu sangat koheren dengan nilai kepribadian falsafah negara pancasila dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang dalam keyakinan umat Islam diyakini sebagai prinsip qul huwa Allaahu ahad.

Lagi-lagi, ini menunjukkan bahwa menjadi muslim yang baik adalah sekaligus menjadi orang Indonesia yang baik.

Kedua, umat Islam harus mengaplikasikan prinsip-prinsip dan nilai dasar kemanusiaan seperti menghargai HAM, membangun empati dan simpati kepada sesama manusia, menjaga akhlaqul karimah, menghargai keragaman umat manusia dan bersikap toleran.

Kepribadian yang seperti ini, adalah bentuk
dari aktualisasi nilai-nilai keislaman sekaligus nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam sila ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dua contoh prinsip ketuhanan dan kemanusiaan itu, jika dipedomani dan diwujudkan dalam kehidupan nyata oleh umat Islam Indonesia dengan baik, maka akan mewujudkan kepribadian yang kokoh dan akan membawa kebaikan bagi umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Saya ingat dawuh nya seorang waliyullah, almarhum KH Abdul Hamid dari Kajoran Magelang, ‘seandainya umat Islam mengamalkan dua sila yang pertama saja dengan baik maka akan bisa menjadi wali (kekasih) Allah SWT.’

Hal ini kembali menunjukkan bahwa betapa pentingnya umat Islam Indonesia memadukan karakter kepribadian keiIslaman dan keindonesiaan.

Ketiga, Last but not least, umat Islam Indonesia harus memiliki kepribadian yang menunjukkan rasa cinta tanah air Indonesia.

Pepatah Arab mengatakan hubbul wathan min al iman. Pepatah ini lebih tepat dimaknai bahwa mencintai tanah air tidaklah menafikan keimanan seorang muslim.

Umat Islam Indonesia harus memiliki nasionalisme yang kokoh, karena kita hidup di tanah air Indonesia, menghirup udara Indonesia, menginjakkan kaki di tanah Indonesia, memakan hasil tanaman di tanah Indonesia, kita bekerja di tanah Indonesia bahkan suatu saat nanti kita akan dikuburkan di tanah Indonesia hingga hari kiamat.

Karena itu, kecintaan kepada NKRI harus menjadi kepribadian dalam totalitas diri setiap umat Islam Indonesia jika ingin NKRI tetap eksis hingga akhir zaman.

Tentu masih banyak nilai-nilai kepribadian yang harus disatukan dalam diri setiap umat Islam Indonesia yang tidak mungkin semuanya dibahas dalam khutbah singkat ini.

Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi bahan renungan kita dan ada manfaatnya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

بارك الله لي ولكم في القران الكريم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو الغفور الرحيم

@fen/sumber: tribunjateng.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kelebihan antara Mekah dan Madinah

Kam Des 10 , 2020
Silahkan bagikanVISI-NEWS.COM – Madinah sangat identik dengan rumah kediaman Rasulullah, sedangkan Mekah dengan keberadaan Kakbah di wilayahnya. Hal ini amatlah lumrah karena keberadaan dua simbol tersebut sangat mewakili identitas kedua kota suci tersebut. Ibnu Qayyim dalam kitabnya yang berjudul “Badai al-Fawaid” mengatakan bahwa jawaban Ibnu Uqail al-Hanbali ketika ditanya mengenai […]