KHUTBAH JUMAT: Empat Pilar Penopang Kehidupan dalam Islam

Editor Ilustrasi masjid./net/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Guna mencapai tujuan “baldatun thayyibatun wa rabbun dhafur”, negeri yang baik dan ada dalam ampunan Alah, muslim harus melakukan dan melampui 4 hal dalam bingkai kesatuan (four in one).

Keempat pilar tersebut adalah,

1. Tafakur

Istilah ini berasal dari kata tafakkara yang berarti berfikir. Setiap manusia dikaruniai akal untuk memikirkan segala sesuatu, terutama hal-hal terkait dinamika kehidupan.

Manusia tercipta sebagai makhluk paling sempurna. Terutama karena ia dilengkapi kemampuan kognitif. Tentunya guna mempertimbangkan segala perilaku dalam memanfaatkan fenomena alam. Mencapai kebahagiaan ketika menjalankan segala perilakunya dalam kehidupan ini.

Allah berfirman dalam surat At Tin ayat 4, sebagai berikut : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Memperhatikan ayat tersebut, ada tututan bagi manusia untuk berfikir demi menghasilkan suatu hal yang bermanfaat bagi manusia. Jika hal yang dianjurkan tersebut tidak tercapai, maka manusia dalam fungsinya sebagai khalifah gagal menjalankan misi kehidupan.

Maka pantaslah jika Allah kemudian memberi peringatan keras kepada manusia dengan menjatuhkan derajat kemanusiaannya menjadi tidak bermartabat di tengah-tengah masyarakatnya.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (Surat At Tin ayat 5)

Menurut ayat dalam Surat At Tin itu, berarti manusia menempati posisi makhluk paling rendah karena memang ia tidak memiliki kesadaran untuk membangun, baik bagi dirinya sendiri, tetangganya, saudaranya, dan bahkan bagi orang lain.

Hal itu bisa terjadi karena kebodohannya itu sealalu menyelimuti dirinya, maka jauhilah dan perangilah kebodohan itu .

Pepatah mengatakan: “Kebodohan itu menjadi musuh paling membahayakan bagi manusia.”

Maka membacalah, belajarlah, berlatihlah, dan berfikirlah, karena secara filosofis eksistensi manusia justru karena dia mau berfikir (cogito ergo sum).

Baca Juga :  Tim Gabungan Masih Melakukan Evakuasi Kecelakaan Kereta Api di Cicalengka

Oleh sebab itu jauhilah menjadi manusia yang memiliki sikap kedunguan dan kebodohan.

2. Tadabbur

Istilah ini merupakan rentetan kedua setelah manusia mau berpikir. Hasil dari pemikiran manusia kemudian dicerna, dipahami, dimengerti kemudian menjadi suatu kesadaran.

Bahwa manusia adalah makhluk sosial harus selalu memperhatikan fenomena yang ada di alam semesta ini. Hal itu sangat jelas disinggung dalam pepatah yang mengatakan tafakkaru fi al-khalq wala tafakkaru fi al-khaliq (pikirkanlah apa-apa yang diciptakan Allah, dan jangan kau pikirkan zat Allah).

Kenyataan itu menyadarkan kita bahwa manusia dituntut untuk memikirkan ciptaan Allah, tetapi manusia perlu menyadari pula bahwa dirinya tidak akan mampu memikiran zat Allah karena memang tidak akan mampu memikirkan hal itu.

Jangankan manusia memikirkan tentang zat Allah, berpikir tentang ruh ciptaan Allah saja ditanggung tidak akan mampu mencapainya, Allah berfirman :

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah; ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” ( Surat Al Isra ayat 85).

Menyadari hal tersebut manusia dituntut merenungkan dengan kesadaran atas kelemahannya itu. Ia kemudian akan mampu mencapai tingkatan kepercayaan yang kokoh dalam beriman.

Saat seperti itulah manusia sedang melakukan apa yang dikenal sebagai tadabbur. Kenyataan untuk merenungkan keadaan yang terjadi di alam semesta ini, pernah dilakukan Rasulullah ketika beliau ber-tahannuth mencari petunjuk dan arah perjuangan dalam kehidupan religiusnya.

Kemudian Allah menurunkan petunjukNya untuk menjalankan arah perjuangannya melalui ayat-ayat Al Quran yang diturunkan kepadanya.

Kronologi perjalanan pemikiran manusia menuju tercapainya kesadarannya manusiawi terhadap hakikat keimanan kepada Allah itu, dapat membawa sisi religiusitasnya menuju tingkatan yang tertinggi yakni iman dan tawakal.

Baca Juga :  Masyarakat Pers Apresiasi Pemerintah atas Vaksinasi Wartawan

Keimanan dan ketawakalan manusia terhadap Penciptanya itu, pada gilirannya membawa kesadaran dirinya untuk selalu berada pada tingkatan lebih tinggi melalui berzikir, sebagaimana dibahas selanjutnya.

3. Tadzakkur

Kenyataan kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia dan makhluk lain di alam semesta ini dapat dijadikan sebagai alat manusia untuk selalu mengingat kepada para pencipta alam semesta itu.

Allah di dalam Surat Adz Dzariyat menyindir perilaku dan kesadaran manusia sebagai berikut; “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (Surat Adz Dzariyat ayat 20-22)

Dengan sindiran Allah terhadap manusia seperti itu, selayaknya menindaklanjuti dengan pemahaman dan kesadaran yang paling mendalam untuk membawa dirinya kepada kenyataan transendental melalui kepercayaan yang mendalam terhadap kekuasaan Allah.

Pernyataan manusia yang terdalam dalam hati nuraninya itu merupakan hasil dari perjalanan berpikir.

Menyadari melalui renungan (tadabbur) dan kemudian ia mampu membawa dirinya ke posisi pengakuan mendalam atas kemahakuasaan Allah melalui zikir.

Kegiatan berzikir ini tidak terbatas dan tidak mengenal ruang dan waktu. Artinya kapan pun, dimana pun, dan dalam keadaan bagaimanapun (whenever, whereever, dan whatever).

4. Ta’ abbud

Pilar terakhir yang perlu menjadi kesadaran manusia sebagai hamba Allah adalah bagaimana mampu mengakui dirinya sebagai ‘hamba’ untuk selalu menghambakan diri kepadaNya.

Jadi adaa berbagai proses dalam tingkatan kehidupan, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi tidak lain untuk mencari sisi kebahagiaan yang dijanjikan Allah di akhirat nanti yakni melalui berta’abbud.

Hal itu wajib disadari manusia untuk menjawab tuntutan kehidupan. Manusia dicipta hanyalah untuk membuktikan bahwa dirinya sebagai hamba yang wajib menghambakan diri kepada Tuhannya, sebagaimana konsep hidup itu tertera dalam Al Quran sebagai berikut :

Baca Juga :  Kerja Keras, Kerja Ikhlas, Dan Kerja Cerdas, Golkar Sukses Airlangga Presiden

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariyat/51 : 56)

Kenyataan yang harus diakui bahwa manusia adalah ‘hamba’ yang berarti selalu menghambakan diri kepada tuannya.

Oleh karena itu ia harus mampu menyatakan ikrarnya melalui kalimat heroik ketuhanan, laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah. @fen/sumber: tribunpontianak.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kritik Serangan ke Gaza, Israel Sebut Pemimpin Indonesia dan Malaysia Tidak Jujur

Jum Jun 18 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Duta Besar Israel untuk Singapura, Sagi Karni menyebut pemimpin Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam tidak jujur karena mengkritik serangan Israel ke Gaza. Dia juga mengatakan bahwa Israel ingin menjalin kerja sama dengan tiga negara mayoritas muslim di Asia Tenggara itu. Indonesia, Malaysia, dan Brunei dengan tajam mengkritik […]