KHUTBAH JUMAT | Hari Raya Fitrah, Takwa, dan Kemanusiaan

Editor Ilustrasi Idul Fitri. /visi.news/dok
Silahkan bagikan

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Puji dan syukur pada Allah SWT, yang telah memberikan kita kesempatan dan kesehatan, sehingga bisa melaksanakan salat Jumat berjamaah. Salawat dan salam pada Rasulullah SAW, yang akan mengantarkan kita pada syafaat kelak. Selanjutnya, kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah. Pasalnya, hanya takwa dan iman yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat kelak.

Idul Fitri merupakan momen puncak dari perjuangan kita selama sebulan penuh berpuasa di bulan suci Ramadan. Puasa ini adalah upaya kita untuk kembali kepada fitrah, kesucian asli yang Allah berikan kepada manusia.

Semuanya ini bisa kita lakukan berkat bimbingan Allah yang telah menunjukkan jalan dan memberi kesempatan untuk beribadah dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadan. Di balik kemeriahan Idul Fitri, terdapat makna dan hakikat yang mendalam, erat kaitannya dengan ajaran dasar Islam.

Bagi kaum beriman, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan peristiwa sentral yang sarat makna. Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitab Lataif al-Ma’arif, halaman 277 mengatakan bahwa makna Idul Fitri bukan hanya tentang memakai baju baru, melainkan tentang meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Idul Fitri yang sesungguhnya bukan tentang berhias diri dengan pakaian dan kendaraan baru, melainkan tentang mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT.

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدِ اِنَّـمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ اِنَّـمَا الْعيْدُ لِمَنْ غَفَرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ

Artinya; “Bukanlah hari raya bagi orang yang memakai baju baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosanya.”

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Marilah kita renungkan sejenak makna dan hakikat Hari Raya ini. “Idul Fitri” berasal dari dua kata, “Id” yang berarti kembali dan “Fitri” yang berarti suci. Jadi, Idul Fitri dapat diartikan sebagai kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian. Fitrah yang dimaksud dalam Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian dan kemurnian diri.

Baca Juga :  Perkembangan Kondisinya Menggembirakan, Budiman, "Mudah-mudahan Beckam Bisa Ikut ke Sleman"

Kesucian merupakan esensi dari Idul Fitri, momen suci bagi umat Islam untuk kembali fitrah. Kesucian ini bukan hanya tentang kebersihan fisik, tetapi juga kesucian jiwa dan hati.

Lebih dari itu, Profesor Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an mengatakan, kesucian adalah gabungan tiga unsur yang tak terpisahkan: benar, baik, dan indah.

Maksud “benar” berarti sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku, baik norma agama, sosial, maupun hukum. Seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran akan selalu bertindak adil dan jujur dalam setiap aspek kehidupannya.

Sedangkan makna baik memiliki arti positif dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kebaikan mendorong manusia untuk saling membantu, mengasihi, dan menyebarkan kedamaian. Sementara itu, makna indah adalah sesuatu yang memancarkan estetika dan kesenangan. Keindahan tidak hanya terbatas pada bentuk fisik, tetapi juga keindahan hati dan perilaku.

Dengan demikian, seseorang yang ber-idul fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Ia akan menjadi pribadi yang adil, jujur, dan penuh kasih sayang. Ia juga akan menjadi pribadi yang membawa manfaat dan kebaikan bagi orang lain, serta memancarkan keindahan hati dan jiwa melalui akhlak mulianya.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Bagaimana kita kembali kepada kesucian? Salah satunya dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Di bulan Ramadan, umat Islam diajarkan untuk meningkatkan ketakwaan, menahan hawa nafsu, dan memperbanyak amal shaleh. Diharapkan setelah Ramadan, manusia kembali menjadi pribadi yang suci dan bertakwa kepada Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Surat al-Baqarah [2] ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir al-Munir li Ma’alimit Tanzil, juz II, halaman 42 menyebutkan ibadah puasa merupakan latihan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu, terutama rasa lapar, haus, dan keinginan untuk berhubungan seksual, kita melatih diri untuk lebih patuh kepada Allah SWT. Kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu ini akan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara keseluruhan.

Orang yang bertakwa adalah orang yang selalu berusaha untuk patuh kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan meningkatkan ketakwaan, seseorang akan lebih mudah untuk menjalani hidup dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan.

Takwa adalah konsep penting dalam Islam yang maknanya lebih dari sekadar takut kepada Allah. Ini adalah kesadaran mendalam bahwa Allah selalu bersama kita, di mana pun kita berada. Kita tidak pernah sendirian. Kesadaran ini diiringi dengan pemahaman bahwa Allah Maha Tahu, artinya Dia mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan. Tidak ada yang tersembunyi dari pandangan-Nya.

Baca Juga :  Jokowi Tunjuk Luhut Jadi Koordinator PPKM Darurat Jawa dan Bali

Dengan memahami takwa, umat Islam termotivasi untuk menjalani hidup sesuai dengan ajaran Allah. Mereka berusaha untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mereka menjaga hati, ucapan, dan tindakan mereka karena mereka tahu Allah selalu melihat. Takwa mendorong mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berakhlak mulia. Hidup dengan takwa membawa ketenangan dan kedamaian batin.

Seseorang yang bertakwa tidak akan merasa takut menghadapi kesulitan karena mereka percaya Allah selalu bersama mereka. Mereka juga terhindar dari perbuatan dosa karena mereka tahu Allah Maha Mengetahui.

Takwa menjadi pedoman hidup yang membawa manusia menuju jalan yang benar dan diridhai Allah. Lebih lanjut, hakikat takwa tidak hanya sebatas ritual ibadah, tetapi juga termanifestasi dalam tindakan kemanusiaan.

Hakikat takwa dan kemanusiaan adalah dua pilar fundamental yang saling terkait erat dalam kehidupan manusia. Takwa, yang berarti kesadaran dan ketaatan kepada Tuhan, merupakan landasan spiritual yang menuntun manusia ke arah kebaikan dan kebajikan. Di sisi lain, kemanusiaan merupakan esensi dari keberadaan manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang, empati, dan rasa hormat antar sesama.

Takwa menumbuhkan rasa takut dan malu kepada Tuhan, sehingga mendorong manusia untuk menjauhi segala perbuatan tercela dan selalu berusaha melakukan kebaikan. Kemanusiaan mendorong manusia untuk saling membantu, mengasihi, dan memperlakukan satu sama lain dengan adil dan penuh respek. Kedua pilar ini saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.

Takwa tanpa kemanusiaan dapat menjadikannya kaku dan fanatik, sedangkan kemanusiaan tanpa takwa dapat terjerumus ke dalam kesombongan dan materialisme.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Jika kita menelaah lebih dalam, terdapat makna takwa yang lebih luas, yaitu takwa sosial. Konsep ini menitikberatkan pada hubungan horizontal antar manusia, menghadirkan dimensi takwa yang lebih membumi dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 133-134 Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Baca Juga :  Hipmi Jabar Apresiasi Hipmi Kab. Bandung yang Sukses Gelar Sarasehan Hadirkan 2 Paslon Cabup/Cawabup

Ayat ini berbicara tentang empat ciri utama orang-orang yang bertakwa, yang semuanya berkaitan dengan kehidupan sosial. Pertama, mereka yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Kedua, mereka yang mampu menahan amarah, mencerminkan kesabaran dan kontrol diri dalam interaksi sosial. Ketiga, mereka yang memaafkan kesalahan orang lain, menunjukkan sikap toleransi dan kasih sayang. Keempat, mereka yang berbuat kebaikan, membawa manfaat bagi orang lain dan menciptakan lingkungan yang positif.

Secara keseluruhan, keempat ciri ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertakwa tidak hanya fokus pada hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga peduli terhadap sesama dan secara aktif memberikan sumbangsih untuk kemajuan masyarakat. Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momen untuk kembali kepada fitrah, meningkatkan takwa, dan memperkuat persaudaraan.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa dan penuh kasih sayang.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Berdiri Sejak 1943, Soto Ahri Garut Lezatnya Kuliner Tradisional dengan Rasa Orisinal

Jum Apr 12 , 2024
Silahkan bagikanVISI.NEWS | GARUT – Sejak fajar Jumat (12/4/2024) menyingsing, suasana di salah satu sudut pasar tradisional Garut sudah ramai oleh deretan orang yang antusias menanti sarapan pagi. Mereka berbaris panjang di depan kedai kuliner sederhana “Soto Ahri”, sebuah warung kuliner yang telah berdiri sejak tahun 1943. Soto Ahri ini […]