KHUTBAH JUMAT | Memelihara Pandangan

Editor Ilustrasi masjid./net/ist.
Silahkan bagikan

 

 

VISI.NEWS –

ﺇِﻥّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩُ ﻭَﻧَﻌُﻮْﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﺳَﻴّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥّ ﻣُﺤَﻤّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢّ ﺻَﻞّ ﻭَﺳَﻠّﻢْ ﻋَﻠﻰ ﻣُﺤَﻤّﺪٍ ﻭَﻋَﻠﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭِﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّﻳْﻦ .
ﻳَﺎﺃَﻳّﻬَﺎ ﺍﻟّﺬَﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺍﺗّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦّ ﺇِﻻّ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ
ﻳَﺎﺃَﻳّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَﺎﺱُ ﺍﺗّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑّﻜُﻢُ ﺍﻟّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀً ﻭَﺍﺗّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَﺬِﻱ ﺗَﺴَﺎﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ
ﻳَﺎﺃَﻳّﻬَﺎ ﺍﻟّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺍﺗّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ، ﺃَﻣّﺎ ﺑَﻌْﺪُ …
ﻓَﺄِﻥّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻯِ ﻫَﺪْﻯُ ﻣُﺤَﻤّﺪٍ ﺻَﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠّﻢَ، ﻭَﺷَﺮّ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔً، ﻭَﻛُﻞّ ﺿَﻼَﻟَﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨّﺎﺭِ .

Sesungguhnya kenikmatan Allah Ta’ala tidak
terhingga dan tidak terhitung.

ﻭَﺀَﺍﺗَﻯٰﻜُﻢ ﻣِّﻦ ﻛُﻞِّ ﻣَﺎ ﺳَﺄَﻟْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻭَﺇِﻥ ﺗَﻌُﺪُّﻭﺍ۟ ﻧِﻌْﻤَﺖَ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ
ﺗُﺤْﺼُﻮﻫَﺂ ﺇِﻥَّ ﭐﻟْﺈِﻧﺴَٰﻦَ ﻟَﻈَﻠُﻮﻡٌ ﻛَﻔَّﺎﺭٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Quran Ibrahim: 34)

Di antara nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita adalah nikmat mata. Nikmat memandang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ﺃَﻟَﻢْ ﻧَﺠْﻌَﻞ ﻟَّﻪُۥ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻦِ

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (Quran Al-Balad: 8)

Allah Ta’ala juga berfirman,

ﻭَﭐﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺧْﺮَﺟَﻜُﻢ ﻣِّﻦۢ ﺑُﻄُﻮﻥِ ﺃُﻣَّﻬَٰﺘِﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺷَﻴْـًٔﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ ﭐﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﭐﻟْﺄَﺑْﺼَٰﺮَ ﻭَﭐﻟْﺄَﻓْـِٔﺪَﺓَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Quran An-Nahl: 78).

Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat pandangan kepada kita agar kita bersyukur. Namun betapa banyak di antara kita yang tidak mensyukuri nikmat pandangan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ﺛُﻢَّ ﺳَﻮَّﻯٰﻪُ ﻭَﻧَﻔَﺦَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦ ﺭُّﻭﺣِﻪِۦ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ ﭐﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﭐﻟْﺄَﺑْﺼَٰﺮَ ﻭَﭐﻟْﺄَﻓْـِٔﺪَﺓَ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣَّﺎ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ

Baca Juga :  Ace Hasan Salurkan Bantuan untuk Pesantren dan Madrasah di KBB

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Quran As-Sajdah: 9)

ﻭَﻫُﻮَ ﭐﻟَّﺬِﻯٓ ﺃَﻧﺸَﺄَ ﻟَﻜُﻢُ ﭐﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﭐﻟْﺄَﺑْﺼَٰﺮَ ﻭَﭐﻟْﺄَﻓْـِٔﺪَﺓَ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣَّﺎ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ

“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (Quran Al-Mukminun: 78)

Ma’asyiral muslimin,

Inilah kenyataan yang kita lihat di zaman sekarang ini. Betapa banyak pandangan digunakan untuk tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan pandangan digunakan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang bisa mensyukuri nikmat pandangan dengan melihat hal-hal yang bisa menambah keimanannya. Dengan melihat keindahan alam. Kemudian merenungkan agungnya ciptaan Allah. hal itu akan menambah keimanannya.

ﺇِﻥَّ ﻓِﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﭐﻟﺴَّﻤَٰﻮَٰﺕِ ﻭَﭐﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﭐﺧْﺘِﻠَٰﻒِ ﭐﻟَّﻴْﻞِ ﻭَﭐﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻝَﺀَﺍﻳَٰﺖٍ ﻟِّﺄُﻭ۟ﻟِﻰ ﭐﻟْﺄَﻟْﺒَٰﺐِ * ﭐﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَٰﻤًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﭐﻟﺴَّﻤَٰﻮَٰﺕِ ﻭَﭐﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺑَٰﻄِﻠًﺎ ﺳُﺒْﺤَٰﻨَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﭐﻟﻨَّﺎﺭِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Quran Ali Imran: 190-191).

Pandangan mereka, mereka gunakan untuk merenungkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman,

ﺃَﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨﻈُﺮُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺑِﻞِ ﻛَﻴْﻒَ ﺧُﻠِﻘَﺖْ ‏( 17 ‏) ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻛَﻴْﻒَ ﺭُﻓِﻌَﺖْ ‏( 18 ‏) ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ ﻛَﻴْﻒَ ﻧُﺼِﺒَﺖْ ‏( 19 ‏) ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻛَﻴْﻒَ ﺳُﻄِﺤَﺖْ ‏( 20 )

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Quran Al-Ghasyiah: 17-20).

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk melihat dan merenungkan tentang ciptaan-Nya, agar kita sadar bahwa semua itu ada yang menciptakan. Pencipta yang Maha Esa, yang tidak boleh disekutukan. Hanya Dia yang berhak untuk disembah. Dialah Allah Azza wa Jalla.

Seorang Arab badui pernah mengatakan,

ﺍﻟﺒَﻌْﺮَﺓُ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺒَﻌِﻴْﺮِ ﻭَﺃَﺛَﺮُ ﺍﻟﻘَﺪَﻡِ ﻳَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤَﺴِﻴْﺮِ ﻓَﺴَﻤَﺎﺀُ ﺫَﺍﺕُ ﺃَﺑْﺮَﺍﺝٍ ﻭَﺃَﺭْﺽ ٌ ﺫَﺍﺕُ ﻓِﺠَﺎﺝٍ ﻭَﺑِﺤَﺎﺭٌ ﺫَﺍﺕُ ﺃَﻣْﻮَﺍﺝٍ ﺃَﻟَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴَﻤِﻴْﻊِ ﺍﻟﺒَﺼِﻴْﺮِ؟

Baca Juga :  Rencana Pembangunan Gedung Pencak Silat, Dedi Taufiq, "Disparbud dan DPRD Jabar Masih Melakukan Pembahasan"

“Kotoran onta menunjukkan ada ontanya. Jejak langkah menunjukkan ada yang lewat. Langit yang memiliki gugus bintang. Bumi memiliki jalan-jalan. Serta samudera dengan ombaknya. Bukankah itu semua sebagai tanda adanya Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”?

Di antara bentuk syukur kita kepada Allah adalah kita menggunakan mata kita untuk beribadah kepada Allah. Merenungkan dosa-dosa kita. Dengan cara menangis dengan kedua mat akita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋَﻴْﻨَﺎﻥِ ﻻَ ﺗَﻤَﺴُّﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﻋَﻴْﻦٌ ﺑَﻜَﺖْ ﻣِﻦْ ﺧَﺸْﻴَﺔِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻴْﻦٌ ﺑَﺎﺗَﺖْ ﺗَﺤْﺮُﺱُ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ

“Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah.” (HR Tirmidzi).

Oleh karenanya seseorang hendaknya menggunakan kedua matanya untuk bertakwa kepada Allah dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Karena nikmat mata ini akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ﺇِﻥَّ ﭐﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﭐﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﭐﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭ۟ﻟَٰٓﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْـُٔﻮﻟًﺎ

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Quran Al-Isra: 36)

Ma’asyiral muslimin,

Sesungguhnya di antara bentuk tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala adalah menggunakan mata untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memandang hal-hal yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memandang aurat wanita yang terbuka yang tidak halal bagi kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kita untuk melakukan hal itu semua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ﻗُﻞ ﻟِّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ۟ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَٰﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ۟ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰٰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌۢ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Quran An-Nur: 30)

ﻭَﻗُﻞ ﻟِّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَٰﺖِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَٰﺮِﻫِﻦَّ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (Quran An-Nur: 31).

Jarir bin Abdullah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tidak sengaja. Rasulullah mengatakan, “Palingkan wajahmu.” Artinya jangan teruskan memandang melihat yang haram.  Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu,

Baca Juga :  Lolos Program AFS & YES, 10 Siswa Madrasah dapat Kesempatan Belajar ke Eropa dan Amerika

ﻳﺎ ﻋﻠﻲُّ ! ﻻ ﺗُﺘﺒﻊِ ﺍﻟﻨَّﻈﺮﺓَ ﺍﻟﻨَّﻈﺮَﺓَ، ﻓﺈﻥَّ ﻟَﻚَ ﺍﻷﻭﻟﻰ ، ﻭﻟَﻴﺴَﺖْ ﻟَﻚَ ﺍﻵﺧﺮَﺓُ

“Wahai Ali! Jangan kau lanjutkan pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena tidak ada dosa padamu pada pandangan pertama. Namun dicatat dosa pada pandangan kedua.” (HR. at-Tirmidzi: 2777).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺧَﺂﺋِﻨَﺔَ ﭐﻟْﺄَﻋْﻴُﻦِ ﻭَﻣَﺎ ﺗُﺨْﻔِﻰ ﭐﻟﺼُّﺪُﻭﺭُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Quran Ghafir: 19)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tatkala menafsirkan ayat ini beliau memberikan contoh dengan ada seseorang yang duduk bersama teman-temannya. Lalu ada wanita cantik yang lewat. Kemudian ia pun curi-curi pandang. Tatkala teman-temannya melihat ke wajahnya, ia berpura-pura menundukkan pandangan. Kalau mereka lalai, ia lihat lagi wanita tersebut. Wanita yang tidak halal untuk dia lihat.

Oleh karena itu, Nabi memberikan bimbingan agar kita tidak mengumbar pandangan. Di antara upaya yang beliau ajarkan agar seseorang tidak mengumbar pandangan adalah dengan memperhatikan adab-adab tatkala duduk di jalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﺨُﺪْﺭِﻱِّ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟْﺠُﻠُﻮﺱَ ﺑِﺎﻟﻄُّﺮُﻗَﺎﺕِ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻣَﺎ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﺠَﺎﻟِﺴِﻨَﺎ ﺑُﺪٌّ ﻧَﺘَﺤَﺪَّﺙُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺑَﻴْﺘُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻤَﺠَﺎﻟِﺲَ ﻓَﺄَﻋْﻄُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖَ ﺣَﻘَّﻪُ ‏» ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻭَﻣَﺎ ﺣَﻖُّ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻏَﺾُّ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ، ﻭَﻛَﻒُّ ﺍﻟْﺄَﺫَﻯ، ﻭَﺭَﺩُّ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡِ، ﻭَﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ، ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ

Dari  Abu  Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi duduk-duduk di pinggir jalan. Para Sahabat berkata, “Kami tidak dapat meninggalkannya, karena merupakan tempat kami untuk bercakap-cakap”. Rasulullah berkata, “Jika kalian enggan (meninggalkan bermajelis di jalan), maka berilah hak jalan”. Sahabat bertanya, “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Artinya, di antara hak jalan adalah menundukkan pandangan.

ﺃَﻗُﻮْﻝُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻘَﻮْﻝِ ﻭَﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻟِﺴَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺫَﻧْﺐٍ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭْﻩُ ﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻐَﻔُﻮْﺭُ ﺍﻟﺮَﺣِﻴْﻢُ .

@fen/sumber: khotbahjumat.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Ngaji Kebangsaan, BPET MUI Libatkan Ulama hingga Tingkat Kecamatan

Jum Sep 23 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET-MUI) menggelar Ngaji Kebangsaan dengan tajuk “Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme” di Pesantren Motivasi Indonesia, Burangken, Setu, Bekasi, Rabu (21/9/22). Hadir dalam acara tersebut, Muhammad Syauqillah selaku Ketua BPET MUI, Komjen Pol Boy Rafli […]