KHUTBAH JUMAT | Menjaga Keluarga agar Tetap Berada pada Jalan Kesalehan

Editor Ilustrasi masjid./net/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS –

ﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚِ ﺍﻟﺪَّﻳَّﺎﻥِ،
ﻭَﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺳَﻴِّﺪِ ﻭَﻟَﺪِ ﻋَﺪْﻧَﺎﻥَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺗَﺎﺑِﻌِﻴْﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺮِّ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ . ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَّﺎ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻟَﺎ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ، ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺍَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ، ﻓَﻴَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﺤَﺎﺿِﺮُﻭْﻥَ، ﺍِﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺍِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ . ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ . ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ: ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻟًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺴَﺎﺀَﻟُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴﺒًﺎ

Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa.

Selawat dan salam semoga tercurah pada suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jemaah sekalian mengenai firman Allah,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭًﺍ

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim: 6)

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, ﺃَﺩِّﺑُﻮْﻫُﻢْ، ﻋَﻠِّﻤُﻮْﻫُﻢْ .

“Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, ﺣَﻖٌّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤﺴْﻠِﻢِ ﺃَﻥْ ﻳُﻌَﻠِّﻢَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ، ﻣِﻦْ ﻗُﺮَﺍﺑَﺘِﻪِ ﻭَﺇِﻣَﺎﺋِﻪِ ﻭَﻋَﺒِﻴْﺪِﻩِ، ﻣَﺎ ﻓَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ، ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ

“Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah).

Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan salat dan mengajak keluarga kita juga untuk salat.

Baca Juga :  Marc Klok, Rahmat Irianto, Ricky Kambuaya Dapat Jatah Libur dari Pelatih Persib

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْ ﻓِﻲ
ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﺇِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﺎﺩِﻕَ ﺍﻟْﻮَﻋْﺪِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﻧَﺒِﻴًّﺎ ‏( 54 ‏) ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺃَﻫْﻠَﻪُ ﺑِﺎﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻪِ ﻣَﺮْﺿِﻴًّﺎ ‏( 55 )

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (QS Maryam: 54-55).
Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻻَ ﻓَﻜُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ

“Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829)

Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻗَﺪْ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣُﺪْﻣِﻦُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻕُّ ﻭَﺍﻟْﺪَّﻳُّﻮﺙُ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳُﻘِﺮُّ ﻓِﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﺍﻟْﺨُﺒْﺚَ “

“Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain).

Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan,

Baca Juga :  Kang DS: Media Berperan sebagai Mitra Kerja dan Pendamping Kerja Pemerintah

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻗُﻞْ ﻟِﺄَﺯْﻭَﺍﺟِﻚَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳُﺪْﻧِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﺟَﻠَﺎﺑِﻴﺒِﻬِﻦَّ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺆْﺫَﻳْﻦَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab: 59)

Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat,

ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻦَّ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺒْﺪِﻳﻦَ ﺯِﻳﻨَﺘَﻬُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31)

Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan,
“Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. …

Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah.

Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya ”.

Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyak wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar.

Baca Juga :  Gelar Halakah Dakwah, MUI Harap Bisa Bentuk Kemandirian Bermedsos

Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri , 3:332-333)

Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat.

Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadis,

ﻻَ ﻳَﺪْﺧُﻠْﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻻَ
ﻳَﺠِﺪْﻥَ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ ﻟَﻴُﻮﺟَﺪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺴِﻴﺮَﺓِ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ

“Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR Muslim, no. 2128)

Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk salat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat.

Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka.

Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua.

ﺃَﻗُﻮْﻝُ
ﻗَﻮْﻟِﻲْ ﻫٰﺬَﺍ ﻭَﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟِﻲْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ، ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭْﻩُ، ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮْﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢُ Khutbah Kedua ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﻛَﻔَﻰ، ﻭَﺃُﺻَﻠِّﻲْ ﻭَﺃُﺳَﻠِّﻢُ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
ﺍﻟْﻤُﺼْﻄَﻔَﻰ، ﻭَﻋ

@fen/sumber:َ rumaysho.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

SKETSA | Melukis

Jum Sep 2 , 2022
Silahkan bagikanOleh Syakieb Sungkar BANYAK teman saya yang bertanya kok tiba-tiba bisa melukis. Saya menjawab dengan bermacam-macam cara sekenanya: iseng, gara-gara pendemi ada di rumah terus akhirnya melukis, dari dulu sudah melukis tetapi medianya hanya kertas, belum kanvas. Tetapi benar bahwa dari dulu saya suka menggambar. Hanya tidak diniatkan saja. […]