- Jemaah haji Indonesia khususnya asal Jawa Barat tengah menjalankan rangkaian ibadah haji sampai puncaknya pada 9 Dzulhijjah 1446 di Arafah nanti. Ustadz Muslihudin melaporkan langsung dari tanah suci perjalanan ibadah haji tahun ini. Berikut laporannya.
VISI.NEWS | MEKKAH — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bandung, Dr. H. Cece Hidayat, menyampaikan khutbah wukuf di Arafah pada momen puncak ibadah haji tahun ini, di hadapan jamaah haji asal Kabupaten Bandung. Dalam khutbahnya yang penuh makna, beliau mengajak seluruh jamaah untuk mensyukuri nikmat besar yang telah Allah karuniakan, yakni kesempatan menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, khususnya di padang Arafah.
Dr. Cece memulai khutbah dengan pujian kepada Allah swt dan shalawat kepada Rasulullah saw. Ia menegaskan bahwa berkat jasa Nabi Muhammad saw., umat Islam kini dapat menikmati manisnya iman dan hidup dalam petunjuk yang benar. Ia kemudian mengutip surat Ali Imran ayat 85, yang menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah.


Lebih lanjut, beliau menyampaikan dasar disyariatkannya ibadah haji sebagaimana terdapat dalam surat Ali Imran ayat 96–97. Ia menjelaskan bahwa Baitullah di Makkah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Kewajiban haji merupakan bentuk kepatuhan umat kepada Allah bagi mereka yang mampu.
“Alhamdulillah… walhamdulillah… tsumma alhamdulillah,” ucap Dr. Cece penuh haru. Ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat luar biasa yang Allah berikan, berupa kehadiran di Arafah untuk menunaikan ibadah haji. Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang diberikan takdir mulia ini meskipun banyak yang mendambakannya.
Dalam khutbahnya, ia menekankan pentingnya momen wukuf sebagai waktu untuk muhasabah, introspeksi diri, dan kembali menyadari kelemahan manusia di hadapan Allah swt. Ia mengutip QS An-Nahl ayat 18 untuk mengingatkan bahwa nikmat Allah takkan mampu dihitung satu per satu.
Dr. Cece juga menyampaikan pentingnya ketundukan total dalam ibadah haji, yang dimulai dengan mengenakan pakaian ihram putih sebagai simbol kesetaraan. “Tak ada lagi jabatan, kekayaan, atau identitas. Semua kembali kepada fitrah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa haji adalah perwujudan dari kepasrahan total kepada Allah swt.
Wukuf, yang disebut sebagai inti dari ibadah haji, menjadi simbol padang mahsyar. Beliau mengutip sabda Rasulullah saw., “Haji adalah Arafah”, dan mengajak jamaah untuk menjadikan momen ini sebagai miniatur kehidupan akhirat kelak—tempat segala amal diperhitungkan.
Tak hanya sebagai perenungan, Dr. Cece menekankan bahwa ibadah haji mengajarkan optimisme dan semangat dalam hidup. Thawaf dan sa’i yang terus bergerak menunjukkan bahwa hidup harus dijalani dengan tekad menuju cita-cita ilahi. “Kita bergerak bukan hanya fisik, tetapi juga ruhani,” katanya.
Ia menggarisbawahi bahwa haji juga merupakan pelajaran persatuan. Jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, suku, dan bahasa berkumpul di satu tempat untuk satu tujuan. “Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal dan memahami,” kata beliau sambil mengutip QS Al-Hujurat ayat 13.
Khutbah juga ditutup dengan doa yang menyentuh hati. Beliau memohon agar Allah menyelimuti bangsa Indonesia dengan kedamaian, memberkahi para pemimpin dengan kebijaksanaan, dan melapangkan rezeki bagi rakyat. Ia juga berdoa agar semangat hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) terus tertanam di hati umat.
Dalam khutbah kedua, Dr. Cece kembali menyerukan ketakwaan kepada Allah sebagai jalan utama menuju kemuliaan. Ia menekankan pentingnya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Shalawat dan salam kembali dipanjatkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai bentuk cinta dan penghormatan.
Khutbah ini menjadi pengingat kuat bagi para jamaah haji asal Kabupaten Bandung untuk menjadikan momen wukuf sebagai titik balik kehidupan spiritual. Kehadiran Dr. H. Cece sebagai khatib tidak hanya menjadi bentuk bimbingan keagamaan, tetapi juga memberi suntikan semangat dan penguatan jiwa bagi seluruh jamaah. ***