Search
Close this search box.

Kiat Menahan Amarah dalam Perspektif Islam

Ilustrasi./visi.news/freepik.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Amarah merupakan sifat manusiawi yang bisa muncul saat seseorang merasa tertekan, tersinggung, atau diperlakukan tidak adil. Namun, Islam menekankan pentingnya mengendalikan emosi tersebut dengan tuntunan yang jelas dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW.

Dalam surah Ali Imran ayat 134, Allah SWT memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Ayat itu menegaskan bahwa Allah mencintai hamba yang berbuat kebaikan.

Sejalan dengan hal tersebut, berbagai penelitian dalam psikologi modern juga menekankan manfaat mengendalikan emosi. Orang yang mampu memaafkan terbukti memiliki kualitas hidup lebih sehat dibanding mereka yang membiarkan amarah menguasai diri.

Rasulullah SAW memberikan contoh praktis untuk meredam kemarahan. Beberapa di antaranya adalah dengan diam, sebagaimana sabdanya:

“Jika salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dengan berdiam diri, seseorang bisa mencegah keluarnya kata-kata kasar yang dapat memperburuk keadaan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk membaca ta’awwudz:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

Bacaan ini diyakini mampu memutus bisikan setan yang sering memicu amarah berlebihan.

Cara lain yang diajarkan Nabi adalah mengubah posisi fisik. Jika marah saat berdiri, dianjurkan untuk duduk. Bila masih emosi, disarankan berbaring. Perubahan posisi ini membantu menenangkan diri dan meredakan ketegangan.

Dengan mengamalkan tuntunan tersebut, umat Islam diajak untuk lebih bijak dalam menghadapi emosi. Amarah memang fitrah, tetapi pengendaliannya adalah tanda keimanan dan kunci menuju kebahagiaan.

@ffr

Baca Berita Menarik Lainnya :