Kini Lebih Parah, Desa Tanjungsari Tasikmalaya Tak Berdaya Diamuk Banjir

Genangan air setinggi 1,5 m terlihat merendam permukiman warga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat(19/6) dini hari./visi.news/ayi kuraesin
Jangan Lupa Bagikan

– “Upaya pemerintah selama ini yaitu membuat tanggul belum membuahkan hasil. Bahkan banjir datang lebih parah,” kata Amas.

VISI.NEWS – Baru saja dilanda banjir sepekan lalu, Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kembali digenangi banjir, Jumat (19/6). Bahkan banjir kali ini lebih tinggi dan arus air lebih deras dibandingkan dengan banjir sebelumnya.

Meski begitu dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut. Namun, sedikitnya 500 unit rumah di empat kedusunan atau kampung di desa tersebut terendam banjir. Ketinggian air mencapai 30 cm hingga 1,5 meter. Sementara area pertanian yang terendam banjir seluas 70 hektare.

Kepala Desa Tanjungsari, Amas mengungkapkan, dalam musim penghujan ini sudah beberapakali wilayahnya menjadi langganan banjir. Bahkan dalam sepekan ini sudah terjadi dua kali. Dan berulang-ulang pula warga mengalami kerugian materi karena harta bendanya rusak terendam banjir.

Amas mengatakan, banjir kali ini lebih parah. Air mulai naik dini hari Kamis (18/6) pukul 23.30 hingga mencapai ketinggian 1,5 meter dan lambat surut.

“Kami berharap ada ketegasan dan tindakan konkret dari pemerintah untuk mengendalikan banjir di Desa Tanjungsari. Karena dengan kondisi seperti ini, warga terus dihantui ketakutan dan mengalami kerugian,” tandasnya.

“Upaya pemerintah selama ini yaitu membuat tanggul belum membuahkan hasil. Bahkan banjir datang lebih parah,” kata Amas.

Dijelaskannya, pihaknya tak bosan-bosan menyampaikan laporan serta meminta tindakan konkret dari pemerintah. Agar pembangunan tanggul dibarengi dengan tindakan normalisasi aliran sungai.

Ditambahkannya, banjir yang datang dan menggenangi permukiman serta puluhan hektare area persawahan, berasal dari aliran sungai kecil atau parit yang tak bisa meneruskan dan menampung derasnya air ke sungai besar yakni Citanduy dan Cikidang.

“Kondisi aliran sungai kecil tersebut jalurnya tertutup oleh arus deras serta luapan air sungai Citanduy dan Cikidang sehingga tak mampu mengalirkan air secara normal, ” jelas Amas.

Dengan demikian, tambahnya, tanggul bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi banjir. Akan tetapi bagaimana caranya agar saluran sungai kecil bisa mengalirkan air ke sungai yang lebih besar secara normal.

“Jadi jelas terjadinya banjir yang datang bertubi -tubi saat hujan lebat menguyur wilayah kami. Itu bukan disebabkan okeh luapan Citanduy dan Cikidang, tetapi berasal dari sungai kecil yang tak mampu mengalirkan air secara normal, ” tandasnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Erry Purwanto mengatakan banjir yang kerap terjadi di Desa Tanjungsari karena kondisi alam atau lingkungan sudah rusak.

Dikatakannya, daerah hulu sungai sudah banyak mengalami perubahan fungsi. Sehingga selain hujan dengan intensitas tinggi, faktor lainnya yang mengakibatkan banjir karena kurangnya resapan air.

“Untuk itu selain harus dilakukan normalisasi sungai, juga harus diperbaiki alamnya. Khususnya di wilayah hulu serta sepanjang pinggir sungai. Contohnya, dengan dilakukan penanaman pohon yang mampu menyerap air,” kata Eri panggilan akrab Eri Purwanto.

Dikatakannya, lambatnya penanganan banjir disebabkan oleh kurangnya ketegasan pemerintah dalam mengeluarkan izin. Bahkan kelonggaran perizinan diberikan kepada alih fungsi lain yang salah satunya menimbulkan kerusakan alam.

“Perlu normalisasi sungai dan pengembalian alam. Perlu juga tata kelola lingkungan. Karena datangnya banjir sudah bisa dipastikan akibat alam sudah rusak, baik di sekitar hulu maupun sepanjang sungai,” tandasnya.

Ditambahkannya, langkah penanggulangannya tidak hanya terpusat pada satu titik. Sebagai contoh membuat tanggul atau merawat sungai. Akan tetapi, harus melihat secara keseluruhan. @akr

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Urban Farming, Momentum Tepat di Tengah Pandemi

Jum Jun 19 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS –  Gubernur Jawa Barat (Jabar),  Ridwan Kamil, mengatakan, urban farming atau bercocok tanam di lingkungan rumah dan perkotaan menemukan momentum tepat di tengah pandemi covid-19 karena memiliki tiga manfaat, yakni ekologi, ekonomi, dan edukasi. “Urban Farming menemukan momentum yang tepat di tengah masa pandemi karena memiliki tiga […]