Kisah Akbar, dari Pegawai Toko Kain di Pasar Baru sampai Jadi Wedding Organizer

Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Saat tengah melayani pengunjung di sebuah toko kain di Pasar Baru, Toni Akbar Rohimin, ditanya oleh seorang pelanggannya. “Berapa kamu digaji di sini?”
Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah ini menyebutkan nilai gaji yang diterimanya.

“Mau, kalau kerja di saya, dilebihin sedikit, ” tanya wanita pemilik wedding organizer seperti ditirukan Toni kepada VISI.NEWS, Minggu (29/10/2023).

Toni pun mengangguk. Dan, obrolan dengan wanita itu pun akhirnya yang merubah arah hidupnya seperti sekarang ini. Toni Akbar sekarang sudah memiliki usaha wedding organizer sendiri di Jalan Kembar Barat No. 21A Cigereleng, Kota Bandung.

“Alhamdulillah, selain di sini, Akbar Wedding Organizer, sejak lima tahun lalu saya juga buka cabang di kampung halaman di Cilacap dengan nama Pedi Wedding Organizer,” ungkapnya.

Akbar, demikian pria tersebut biasa disapa, menceritakan pengalamannya pertama kali ke Kota Bandung bekerja sebagai pelayan toko kain di Pasar Baru. “Saya bekerja di toko kain itu kurang lebih lima tahun sebelum bertemu dengan pemilik wedding organizer yang akhirnya membuat saya seperti ini,” ungkap pria 40 tahun ini, seraya menyebutkan akun Instagramnya https://www.instagram.com/akbarwedding/

Saat bergabung dengan pemilik wedding organizer, ia banyak belajar mengenai pengelolaan usaha tersebut. “Lima tahun bekerja di wedding organizer membuat saya menguasai pekerjaan ini. Akhirnya perlahan-lahan saya buka sendiri dan bisa berkembang seperti sekarang ini, ” ungkapnya.

Mengelola usaha sendiri, kata Akbar, harus siap mental untuk naik turun seperti roller coaster yang kadang-kadang untung banyak tapi juga harus sepi order berhari-hari, berminggu-minggu. “Misalnya selama bulan Safar, usaha ini rata-rata total sepi. Enggak ada yang mau nikah, kecuali non muslim,” ungkapnya.

Baca Juga :  Piala Eropa 2020: 14.000 Orang Dibolehkan Masuk Allianz Arena Tonton Euro 2020

Begitu juga saat pandemi Covid-19, Akbar menyebutkan, usahanya total sepi, sementara ia dan keluarganya harus bisa tetap bertahan hidup. “Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai normal lagi, seperti sebelum adanya Covid-19,” ungkap Akbar.

Irama usaha wedding organizer yang seperti itu menjadikannya harus pintar-pintar mengatur pendapatan dan pengeluaran. Karena kalau lagi untung, kata Akbar, bener-bener bisa untuk nabung dan reinvestasi melengkapi koleksi pakaian maupun kebutuhan pengantin lainnya.

Seperti perjalanan usahanya, kata Akbar, awalnya ia mengontrak tempat tinggal sekaligus tempat usaha di kawasan Cijerah. Sejalan dengan meningkatnya pendapatan, ia bisa menambah koleksi pakaian pengantin dan alat-alat wedding lainnya serta menyisihkan penghasilannya, sampai bisa membeli rumah tempat tinggal dua lantai di lokasi yang sekarang ini, sekaligus dijadikan tempat usahanya.

Akbar sendiri sebetulnya kompetensi awalnya lebih ke rias dan hias pengantin, tapi jejaring yang dibangunnya akhirnya lebih dikenal sebagai wedding organizer. “Kan kita kerjasama dengan rekan-rekan. Ada yang punya alat-alat dekorasi, catering, musik dll,” ungkapnya.

Sewa Pakaian Wisuda

Akbar menyebutkan, disamping mengoleksi pakaian untuk nikahan, belakangan ia juga kerap menerima orderan untuk acara wisudaan. “Variatif harganya tergantung jenis pakaian yang disewa. Harganya per hari berkisar antara Rp300 – Rp400 ribu, ” ungkap Akbar.

Banyak mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang menjadi langganannya. “Memang yang paling banyak itu mahasiswa dari kampus-kampus yang tidak jauh dari sini seperti Unpas dan Unla,” pungkasnya.

@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kantor Imigrasi Madiun Luncurlan Pelayanan Ramah Ham Joss

Ming Okt 29 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | MADIUN – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Madiun Kanwil Kemenkumham Jatim meluncurkan Inovasi baru untuk meningkatkan pelayanan ramah HAM bagi pemohon paspor. Inovasi tersebut bernama Ramah Ham Joss (jemput ora suwi-suwi), di mana pemohon paspor yang kesulitan datang ke Kantor Imigrasi dengan katagori sakit, difabel, dan […]