KISAH: Ibnu Hajar Al-Haitami dan Istri yang Memilih Hidup Miskin (2/Habis)

Editor Ulama besar Imam Ibnu Hajar Al-Haitami memperlihatkan karamahnya kepada sang istri yang terlena dengan harta. Foto ilustrasi/dok dakwah islamiyyah/via sindonews.com
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Keduanya pergi ke sumur Zamzam. Ketika sampai di sana, Imam Ibnu Hajar menimba sekali, ternyata satu timba isinya penuh dengan uang dinar. Beliau berkata:

“Apakah segini cukup?”

Istrinya berkata: “kurang.”

Ibnu Hajar menimba untuk kedua kalinya, ternyata isinya penuh dengan uang dinar lagi. Beliau berkata:

“Apakah segini cukup?”

Istrinya berkata: “Aku ingin tiga timba.”

Beliau menimba untuk yang ketiga kalinya dan isinya juga sama dengan sebelumnya.
Imam Ibnu Hajar berkata kepada istrinya:

“Aku suka keadaan fakir berdasarkan pilihanku sendiri, kupilih untuk diriku sendiri apa yang ada di sisi Allah. Adapun dunia maka semuanya sama bagiku, dunia lewat, umurnya pendek dan kehidupannya hina, dan sekarang ini aku punya dua pilihan untukmu: ‘Kembalikan semua uang emas ini ke dalam sumur Zamzam dan engkau masih bersamaku, atau kau bawa semua uang emas ini, kau pulang ke rumah keluargamu dan kau ambil talakmu dariku karena aku tidak menginginkan dunia.”

Istrinya berkata: “Bagaimana kalau kita nikmati saja semua uang ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang.”

Beliau berkata: “Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”

Istrinya berkata: “Bagaimana kalau kita kembalikan satu timba saja ke dalam sumur.”

Beliau berkata: “Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.

Istrinya berkata: “Bagaimana kalau kita kembalikan dua timba dan yang satu timba kita simpan”.

Imam Ibnu Hajar kembali berkata: “Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”

Baca Juga :  Toni : Penilaian Bupati Indramayu Mangkir Keliru dan Tak Berdasar

Istrinya berkata: “Kita ambil satu dinar saja untuk bersenang-senang hari ini.”

Beliau berkata: “Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu”.

Istrinya berkata: “Kita kembalikan semuanya ke dalam sumur, aku tidak ingin berpisah denganmu karena kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Engkau telah memperlihatkan karomah ini dan kita berpisah di hari ini? Aku tidak mau.
Aku memilih untuk bersabar saja bersamamu. Aku semakin mantap hidup bersamamu, walau kita hidup dalam keadaan miskin. Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini.”

Alquran memperingatkan adanya fitnah istri, anak-anak, dan harta benda yang bisa menjadi sebab kelalaian dalam mewujudkan ketaatan dan terkadang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Surat At-Tagabun Ayat 14:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” @fen/sumber: sindonews.com dari kitab tuhfatul asyrof dan kisah sejuta hikmah kaum sufi

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

TAUSIAH: Menghadap Allah SWT dan Perkara yang Merusaknya

Sab Nov 7 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Persiapan menuju gerbang Kerajaan Allah SWT, para hamba sudah seharusnya datang dengan hati yang salim atau bersih. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيم “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Situasi ini akan terasa berat bagi mereka yang datang dengan keadaan hatinya mati. Hati mati […]