Komisi Hukum dan HAM MUI: Kampanye LGBT Bisa Dijerat Hukum

Editor Ilustrasi demo LGBT./antara/via mui.or.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | RIAU – Perilaku LGBT di Indonesia merupakan hal yang sangat tabu karena secara jelas melanggar undang-undang dan juga ideologi bangsa.

Di Indonesia, beberapa organisasi kaum LGBT melakukan gerakan agar mendapatkan pengakuan hak. LGBT sendiri sebenarnya bukan kasus baru di negara ini, kasus tersebut sudah ada sejak lama dan dimunculkan kembali.

Menanggapi fenomena tersebut, Komisi Hukum dan HAM MUI menegaskan bahwasanya LGBT (perkawinan sesama jenis) tidak sesuai dengan ideologi bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Manager Nasution selaku wakil ketua Komisi Hukum dan HAM MUI melalui telewicara, Jumat (13/5/2022), seperti dilansir MUIDigital..

“Menurut Pancasila, konstitusi, dan undang-undang perkawinan bahwa perkawinan yang sah di Indonesia itu adalah perkawinan yang dilakukan oleh sepasang suami istri antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, perkawinan sesama jenis tidak sesuai dengan Pancasila, konstitusi, dan undang-undang yang berlaku di Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, Manager juga menyampaikan bahwa hak asasi manusia (HAM) yang dianut dalam Pancasila dirumuskan sebagai HAM yang tidak boleh bertentangan dengan agama.

Berdasarkan HAM dalam dunia internasional yang disepakati pada 10 Desember 1948 atau yang dikenal dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), dijelaskan bahwa sebuah perkawinan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Dengan demikian, di dalam DUHAM tersebut tidak ada dasar yang memperbolehkan melakukan perkawinan sejenis dengan alasan apa pun.

Menurut Manager, pelaku LGBT yang dengan sengaja melakukan kampanye di ruang publik dapat dijerat dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Mulai Undang-Undang Perkawinan, Undang-Undang ITE hingga Undang-Undang Pornografi.

“Bagi pelaku yang sengaja melakukan kampanye di ruang publik, MUI mendorong agar norma ini masuk ke dalam Rancangan KUHP kita yang baru. Saya berharap para pembuat undang-undang memikirkan agar pengaturan norma ini masuk dalam Rancangan KUHP dan mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera disahkan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bertentangan dengan Pancasila, DPR Minta Ekspos Perilaku LGBT di Indonesia Dihentikan

Selaras dengan hal tersebut, Manager Nasution juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus kepada korban LGBT ataupun mereka yang terpapar perilaku LGBT.

“Negara harus hadir untuk memberikan pemulihan baik secara psikologis maupun secara kesehatan. Negara harus menyiapkan dokter, psikolog, bahkan menyiapkan psikiater untuk memberikan pemulihan kepada mereka yang terpapar,” ujarnya.

Jika memandang hak setiap warga negara, Manager Nasution juga menegaskan bahwa seluruh warga negara termasuk pelaku LGBT mempunyai hak yang sama, yakni memiliki hak pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan keselamatan. Akan tetapi pelaku LGBT tidak dapat menuntut legalitas.

“Sebagai warga negara, negara harus hadir memenuhi hak mereka dalam kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan keselamatan. Tapi, kalau mereka menuntut legalisasi perkawinan sejenis, itu melampaui keadaban kendonesiaan kita sebagai bangsa,” pungkasnya. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sebanyak 232.493 Tiket Terjual di Daop Bandung pada Angkutan Lebaran 2022

Sen Mei 16 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BANDUNG – PT KAI (Kereta Api Indonesia) Persero resmi menutup pelaksanaan Posko Angkutan Lebaran (Angleb) 2022 yang telah berlangsung sejak 22 April s.d. 13 Mei 2022. Selama masa Angleb 2022, Daop 2 Bandung secara total telah menjual 232.493 tiket kereta api jarak jauh (KAJJ), atau terjual sekitar […]