Konsep Pembangunan Ekonomi Hijau Wujudkan Lingkungan Berkelanjutan

Silahkan bagikan

VISI.NEWS | JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset (OR) Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Humaniora (IPSH) melakukan kerja sama penelitian dengan Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan Long Form Sensus Penduduk (LFSP) 2020. “Kajian kualitatif ini adalah bagian dari upaya untuk memberikan insight terhadap data-data yang dikumpulkan oleh BPS. Sehingga data LFSP 2020 tidak hanya berhenti di BPS, tetapi memberikan banyak manfaat kepada masyarakat,” kata Kepala OR IPSH Ahmad Najib Burhani pada Rapat Koordinasi Pelaksanaan Long Form SP2020, di Jakarta (15/03).

Ia memaparkan hasil penelitian atas kerja sama BRIN dan BPS dengan judul Pembangunan Ekonomi Hijau dan Kondisi Sosial Demografi Penduduk Indonesia: Mewujudkan Kesejahteraan Penduduk dan Lingkungan Berkelanjutan. Najib menjelaskan alasan dilakukannya penelitian ini adalah pentingya memiliki sense of urgency tentang perubahan iklim dan ekonomi hijau.

“Apabila kita berbicara dampak dari perubahan iklim, maka apa yang terjadi di Indonesia itu akan lebih besar dari negara-negara continent, seperti: India, Cina, Australia dan Amerika,” terangnya.

Lebih jauh Najib menjelaskan, “ekonomi kita juga berbasiskan iklim, ketika musim berubah maka produksi pangan juga berubah. Oleh karena itu kita harus memiliki sense of urgency yang tinggi terhadap perubahan iklim, dan lebih agresif dalam penanganan yang terkait dengan ekonomi hijau dan perubahan iklim tersebut”.

“Kita melihat tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh BRIN dengan BPS tahun lalu, menjadi dasar dari kegiatan yang kita lakukan pada tahun ini. Pertanyaannya adalah apa antara hubungan populasi dan ekonomi hijau,” tambahnya.

Konsep pembangunan ekonomi hijau, lanjut Najib, pada dasarnya akan melihat pada hubungan antara 2 elemen utama yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. “Bagaimana penduduk sebagai subyek, dan sekaligus sebagai obyek pembangunan, menjalankan kehidupannya dengan memanfaatkan lingkungan untuk kemakmuran dan berkelanjutan,” tutur Najib.

Baca Juga :  Mau Liburan ke Ciwidey dan Rancabali,? Berikut Persyaratannya

“Apabila kita berbicara tentang ekonomi hijau, manusia itu harus menjadi center di dalam proses pelaksanaan ekonomi hijau tersebut. Kita tidak bisa melihat hanya berpikir tentang ekonomi saat ini, tetapi kita juga perlu melihat kehidupan anak cucu kita pada puluhan tahun yang akan datang,” ujar Najib.

Tujuan penelitian ini, Najib menandaskan, mengkaji kondisi sosial demografi penduduk untuk mendukung pembangunan ekonomi hijau; mengkaji inisiatif lokal di level komunitas atau penduduk dalam praktek pembangunan ekonomi hijau; dan bagaimana keterkaitan peran pemerintah daerah dengan inisiatif lokal dalam pembangunan ekonomi hijau.

Sementara itu pada kesempatan yang sama Sekretaris Utama BPS, Atqo Mardiyanto menyatakan, bahwa pelaksanaan LFSP 2020 memiliki misi besar, salah satunya adalah benchmark  atau tolok ukur indikator kependudukan Indonesia.

Sedangkan untuk tantangan LFSP 2020, ungkap Atqo, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap data privacy dan confidentiality. “Artinya dari permasalahan ini ada kemungkinan terjadi penurunan response rate. Dari semua kegiatan survei maupun sensus dengan situasi pandemi Covid-19, ada kemungkinan mengalami penurunan, dan kita harus mencari strateginya”, pungkas Atqo. @alfa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gerakan Literasi Nasional Ciptakan Kaum Literat yang Bermanfaat

Rab Mar 16 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SOREANG – Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat sebagai unit pelaksanan teknis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyelenggarakan Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi (Taman Bacaan Masyarakat) se-Kabupaten Bandung. Acara yang berlangsung pada 14-16 Maret 2022 ini mengangkat tema “Menciptakan […]