VISI.NEWS | BANDUNG – Tazkiyah menjadi salah satu konsep utama dalam pendidikan Islam yang menekankan proses penyucian diri untuk mengembalikan manusia kepada fitrah. Tidak hanya sekadar membersihkan hati, tazkiyah juga mencakup pengembangan jiwa menuju akhlak yang luhur.
Dalam praktik pendidikan, tazkiyah berfungsi sebagai ruh yang menuntun peserta didik agar terbebas dari sifat tercela sekaligus menumbuhkan kepribadian mulia. Zubairi dalam bukunya ‘Paradigma Pendidikan Agama Islam’ menyebut tazkiyah sebagai proses perbaikan diri, dari kondisi rendah menuju derajat yang lebih tinggi dalam hal sikap, karakter, dan kepribadian.
Secara etimologis, tazkiyah berasal dari kata at-tathhir yang berarti penyucian, serta an-nafs yang bermakna jiwa. Konsep ini tidak hanya mencakup pembersihan, melainkan juga pertumbuhan (an-numuw), yakni proses perkembangan jiwa agar sehat, berakhlak baik, dan terpuji.
Al-Ghazali membagi tazkiyah ke dalam tiga aspek: rub al-ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, rub al-adat yang mengatur interaksi sosial, dan rub al-akhlak yang membahas akhlak tercela serta sifat-sifat terpuji. Pembagian ini menjadikan tazkiyah relevan baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Tujuan akhirnya adalah membentuk manusia yang taat, bertakwa, serta mampu menyeimbangkan potensi diri, mulai dari nafsu, syahwat, amarah, hingga cinta. Al-Ghazali menegaskan bahwa pencapaian tazkiyah berbeda pada tiap individu, dari tingkat ketaatan orang awam hingga level kebijaksanaan tertinggi.
Dengan demikian, tazkiyah bukan hanya konsep spiritual, melainkan juga metode pendidikan yang membentuk insan beriman, beramal saleh, dan berakhlak mulia dalam seluruh aspek kehidupan.
@ffr












