VISI.NEWS | BANDUNG – Amerika Serikat mengumumkan korban jiwa pertama dalam perang melawan Iran yang dilancarkan Presiden Donald Trump, ketika konflik memasuki hari kedua dengan eskalasi serangan besar-besaran. Di tengah operasi militer yang terus meluas, jajak pendapat terbaru menunjukkan dukungan publik Amerika terhadap serangan tersebut relatif rendah, menandai tantangan politik bagi Gedung Putih.
Militer AS pada Minggu (1/3) menyatakan tiga prajurit Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam operasi melawan Iran. Selain itu, beberapa personel lainnya dilaporkan mengalami luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak. Komando Pusat AS tidak merinci lokasi kejadian, namun dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters secara anonim menyebutkan para prajurit itu tewas di sebuah pangkalan di Kuwait.
Trump dalam pidato video mengakui kematian tersebut sebagai korban pertama dalam operasi besar sejak ia kembali menjabat tahun lalu. Ia memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban tambahan.
“Sedihnya, kemungkinan akan ada lebih banyak lagi sebelum ini berakhir,” kata Trump.
Namun ia menegaskan, “Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling keras kepada para teroris yang telah memerangi, pada dasarnya, peradaban.”
Sejak memerintahkan dimulainya operasi tempur besar pada Sabtu, militer AS telah menyerang lebih dari 1.000 target di Iran. Serangan itu mencakup penggunaan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah Iran yang diperkeras. Trump juga mengklaim bahwa 48 pemimpin Iran telah tewas dan sembilan kapal perang Iran berhasil ditenggelamkan, dengan operasi terhadap armada lainnya masih berlangsung.
Eskalasi ini terjadi sehari setelah laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang memicu ketidakpastian besar di Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global, termasuk sektor pelayaran, penerbangan, dan minyak. Pemerintah Iran menyatakan sebuah dewan kepemimpinan sementara—terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, kepala kehakiman, dan seorang anggota Dewan Garda—telah mengambil alih tugas pemimpin tertinggi.
Dalam wawancara terpisah dengan Daily Mail, Trump menyebut serangan terhadap Iran bisa berlangsung hingga empat minggu. “Ini selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan sekitar empat minggu atau kurang,” ujarnya. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa perencanaan militer AS memang mengarah pada operasi berkelanjutan yang dapat berlangsung selama beberapa pekan.
Menteri Luar Negeri Iran melalui platform X menyatakan militernya telah mempelajari “kekalahan militer AS di timur dan barat kami,” merujuk pada Afghanistan dan Irak. Ia menegaskan bahwa pengeboman di ibu kota tidak akan memengaruhi kemampuan Iran untuk melanjutkan perang.
Di dalam negeri AS, dukungan publik terhadap operasi ini tampak terbatas. Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang selesai pada Minggu menunjukkan hanya 27 persen warga Amerika menyetujui serangan terhadap Iran, sementara 43 persen menolak dan 29 persen menyatakan tidak yakin. Sekitar 90 persen responden mengaku setidaknya mengetahui informasi tentang serangan tersebut.
Sejumlah anggota parlemen dari kedua partai juga menyuarakan pandangan berbeda mengenai arah konflik. Senator Demokrat Chris Coons mempertanyakan kemungkinan perubahan rezim melalui serangan udara semata.
“Tidak ada contoh dalam sejarah modern yang saya ketahui di mana perubahan rezim terjadi semata-mata melalui serangan udara,” ujarnya di CNN.
Sementara itu, Senator Republik Tom Cotton mengatakan situasi ke depan sulit diprediksi.
“Tidak ada jawaban sederhana tentang apa yang akan terjadi berikutnya,” katanya di CBS News.
Senator Republik Lindsey Graham mendukung gagasan bahwa rakyat Iran harus menentukan masa depan kepemimpinannya, sembari menolak anggapan bahwa AS akan menanggung konsekuensi jangka panjang seperti di Irak.
Trump sendiri mengatakan kepada majalah The Atlantic bahwa kepemimpinan baru Iran ingin berbicara dengannya dan ia telah setuju untuk melakukan pembicaraan.
“Mereka ingin berbicara, dan saya setuju untuk berbicara. Mereka seharusnya melakukannya lebih cepat,” katanya.
Dengan korban jiwa pertama telah diumumkan dan operasi militer yang berpotensi berlangsung berminggu-minggu, konflik ini tidak hanya menguji kekuatan militer kedua negara, tetapi juga ketahanan politik Trump di dalam negeri serta stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. @kanaya