VISI.NEWS | WASHINGTON – Lima hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor 100% terhadap produk asal Tiongkok, pasar aset kripto global masih terpuruk. Keputusan tersebut diumumkan Trump melalui platform Truth Social pada Jumat malam waktu setempat, sebagai respons atas rencana Beijing menerapkan kontrol ekspor besar-besaran terhadap mineral tanah jarang, komponen penting dalam pembuatan chip komputer dan teknologi canggih lainnya.
“Baru saja diketahui bahwa Tiongkok mengambil langkah yang sangat agresif dalam perdagangan dengan mengirimkan surat yang sangat bermusuhan kepada dunia, menyatakan bahwa mulai 1 November 2025 mereka akan menerapkan kontrol ekspor besar terhadap hampir semua produk yang mereka buat,” tulis Trump.
Langkah ini langsung memicu gejolak di pasar global dan mengingatkan pelaku pasar pada April lalu, ketika pengumuman tarif tahap pertama dari Trump sempat mengguncang harga kripto serta memicu kekhawatiran resesi global. Dampaknya kali ini bahkan lebih dalam dan meluas.
Tak lama setelah pengumuman, harga Bitcoin anjlok tajam dari US$112.500 menjadi US$104.900 — level terendah sejak Maret 2025, menurut data CoinMarketCap. Meski sempat rebound ke kisaran US$113.140, aset kripto terbesar di dunia itu tetap mencatat koreksi sekitar 6%.
Ethereum (ETH) turun lebih dalam sebesar 12% ke US$3.800, sementara BNB terkoreksi 8%. Dua aset lain, XRP dan Solana (SOL), bahkan merosot masing-masing 12% dan 14%. Secara keseluruhan, total kapitalisasi pasar kripto global terjun sekitar 8% ke level US$3,78 triliun.
Krisis semakin dalam pada Sabtu (11/10/2025), ketika pasar mencatat likuidasi terbesar sepanjang sejarah kripto. Berdasarkan data CoinGlass, total likuidasi mencapai US$19,29 miliar atau sekitar Rp320,5 triliun hanya dalam 24 jam. Posisi long — yang bertaruh pada kenaikan harga — menjadi pihak paling terpukul dengan kerugian mencapai US$16,8 miliar, sedangkan posisi short juga kehilangan sekitar US$2,49 miliar.
Fenomena likuidasi massal ini terjadi karena trader berleverage terpaksa menutup posisi akibat margin call. Kondisi semacam ini sering disebut sebagai momen “reset alami” pasar, di mana posisi spekulatif berisiko tinggi tersapu bersih, membuka potensi arah tren baru dalam jangka menengah.
Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL) tercatat sebagai tiga aset dengan nilai likuidasi terbesar. Catatan mencolok muncul di platform Hyperliquid, di mana satu transaksi tunggal pasangan ETH-USDT senilai US$203,36 juta dilikuidasi. Secara total, lebih dari 1,6 juta trader kehilangan posisi mereka dalam satu hari perdagangan.
Meski guncangan pasar kali ini tergolong ekstrem, sejumlah analis menilai peristiwa ini bisa menjadi titik balik bagi pasar kripto menuju stabilitas baru. Namun, selama tensi dagang AS–Tiongkok belum mereda, volatilitas ekstrem masih akan membayangi aset digital dalam waktu dekat.
@uli











