Laksanakan “New Normal”, Pemkab Garut Tunggu Arahan Pusat dan Provinsi

Editor Petugas gabungan melaksanakan penjagaan di kawasan Pengkolan Garut yang selama ini selalu mejadi pusat keramaian. Penjagaan dilakukan guna penegakan disiplin protokol kesehatan sebagai antisipasi diberlakukannya "new normal."/visi.news/zaahwan aries.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pemkab Garut pernah menyampaikan akan mulai memberlakukan “new normal” atau adaptasi kebiasaan baru (AKB) mulai 1 sampai 30 Juni 2020, beberapa waktu lalu.

Namun, hingga saat ini Pemkab Garut belum bisa menentukan kebijakan itu karena harus menunggu arahan dari pemerintah pusat dan provinsi.

“Sebelumnya kita memang telah merencanakan untuk mulai menerapkan ‘new normal’ terhitung mulai 1 Juni hingga 30 Juni 2020. Namun, sampai saat ini hal itu belum kita laksankaan karena kami masih menunggu arahan pusat dan provinsi,” ujar Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, di lapang apel Setda Garut, Selasa (2/6).

Namun demikian Helmi menjelaskan, selama ini pihaknya telah melakukan berbagai persiapan untuk penerapan “new normal” di daerahnya. Sehingga ketika sudah ada arahan untuk melaksanakan “new normal’, maka segalanya sudah siap dilaksanakan.

Ditambahkannya, persiapan fase “new normal” sudah dilakukan cukup lama. Sebanyak 23 kecamatan dari total 42 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut, dinyatakan sebagai zona hijau dan siap untuk melaksanakan “new norma”.

“Ketika sudah ada izin, kita akan langsung menerapkannya (new normal). Sebanyak 23 kecamatan sudah siap,” tambahnya.

Helmi menyampaikan, meskipun saat ini “new normal” belum diberlakukan di Garut, tetapi petugas gabungan sudah mulai bersiaga di pusat-pusat keramaian.

Kehadiran petugas gabungan ini tak lain untuk melakukan penegakan disiplin ketika “new normal” benar-benar sudah bisa dilaksanakan.

Untuk penegakan disiplin protokol kesehatan, tambah Helmi, saat ini sudah mulai dilakukan dengan melibatkan ptugas gabungan. Ini juga merupakan salah satu upaya penanganan Covid-19 yang memang sudah dilakukan sejak lama.

Khusus di wilayah Kecamatan Selaawi, Helmi menegaskan, pihaknya telah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal ini menyusul adaya tiga orang dari satu keluarga yang dinyatakan positif Covid-19.

Baca Juga :  Fan Sebut "Bajingan" Usai Barcelona Dibantai Bayern Munchen

Sementara itu plinplannya kebijakan terkait pandemi Covid-19 di Garut, disesalkan warga. Mereka mengaku terus berubah-ubahnya aturan seperti ini menimbulkan kebingungan.

“Bingung juga jadinya akibat aturan yang terus berubah-ubah seperti yang terjadi selama ini. Kemarin pemerintah bilangnya seperti ini, besoknya malah beda lagi,” komentar Kiki (37), warga Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota. @zhr

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

KTL di Kawasan Jalan Ahmad Yani Garut Kembali Diberlakukan

Rab Jun 3 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Tingkat kesadaran warga Garut dalam mematuhi kawasan tertib lalulintas (KTL) dinilai masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya pelanggaran yang terjadi di sepanjang kawasan KTL di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garutkota. Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut, Suherman, sepanjang Jalan Ahmad Yani telah lama […]