Search
Close this search box.

Lubang Raksasa Aceh Tengah Terus Melebar, Badan Geologi Ungkap Peran Air dan Batuan Rapuh

Kondisi lubang raksasa yang semakin melebar di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Minggu (1/2/2026), mengancam badan jalan di sekitarnya./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | ACEH — Lubang raksasa yang muncul di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, kini menjadi ancaman nyata bagi lingkungan sekitar. Diameter dan kedalamannya yang diperkirakan mencapai sekitar 100 meter membuat bibir lubang kian mendekati badan jalan, memicu kekhawatiran warga dan pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengungkap bahwa pembesaran lubang terjadi akibat kombinasi kondisi geologi dan pergerakan air di bawah permukaan tanah. Struktur batuan yang rapuh serta kemiringan lereng yang curam mempercepat proses amblesan.

“Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas), porous (berpori), kemiringan lereng sangat terjal hampir tegak, serta terdapat drainase berupa saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi air meluap pada saat hujan besar atau meresap,” kata Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria.

Jenis batuan tufa yang berasal dari material abu vulkanik disebut belum sepenuhnya padat. Kondisi ini membuat batuan mudah gembur kembali ketika terpapar air, apalagi pada lereng yang tidak stabil. Rembesan air dari permukaan maupun aliran bawah tanah mempercepat pelapukan sekaligus menambah beban massa tanah.

“Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah. Ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng, menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa selama aliran air bawah permukaan masih aktif dan tidak bisa dikendalikan, potensi perluasan lubang akan tetap ada.

“Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi adanya perluasan,” kata Lana.

Baca Juga :  Prabowo Minta Video Kritik MBG Dikumpulkan: Biar Saya Lihat Tiap Malam

Fenomena ini sekilas menyerupai sinkhole yang umum terjadi di kawasan batuan karst atau gamping. Namun kasus di Aceh Tengah menunjukkan bahwa batuan vulkanik pun memiliki kerentanan serupa, meski dengan proses yang berbeda.

“Fenomena sinkhole memang identik dengan batuan gamping, namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda,” ucapnya.

Secara umum, sinkhole dikenal memiliki dua mekanisme utama. Pertama adalah pelarutan batuan oleh air asam yang membentuk rongga bawah tanah, dan kedua adalah runtuhnya atap rongga tersebut ketika tak lagi mampu menahan beban di atasnya. Dalam kasus Aceh Tengah, peran air dan batuan vulkanik berpori menjadi faktor dominan yang mempercepat pelebaran lubang.

Dengan kondisi lereng yang masih labil dan ancaman erosi berkelanjutan, Badan Geologi menilai kawasan sekitar lubang perlu pengawasan ketat. Pergerakan tanah lanjutan dikhawatirkan dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama saat curah hujan tinggi meningkatkan tekanan air di dalam tanah. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :