VISI.NEWS | MAJALENGKA -Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin menggelar acara tasyakur dan kajian kitab tafsir Surat Yasin yang berlangsung dengan lancar dan penuh antusias. Acara yang menjadi kegiatan rutin setiap malam Selasa menjelang Rabu ini diselenggarakan di halaman Sumur Keramat Wetan, Kampung Cipaku, Blok Sabtu, Desa Jatitengah, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Meskipun Majelis Sabilul Ghafilin masih terbilang baru, kehadirannya sudah mulai menarik perhatian banyak jamaah dari berbagai daerah.



Pendiri dan pelaksana kegiatan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Ustadz Abdul Basyir atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Basyir, menjelaskan bahwa nama Sabilul Ghafilin dipilih karena majelis ini memang ditujukan untuk mereka yang merasa jauh dari perintah Tuhan atau merasa penuh dengan dosa akibat banyak maksiat. “Makanya, kami namakan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin (Jalannya Orang yang Lalai) agar mereka sadar kembali dan diarahkan ke jalan yang diridhai Tuhan,” ungkap Gus Basyir kepada VISI.NEWS, Selasa (25/12/2024).
Kegiatan rutin ini berlangsung selama dua jam dengan penuh keberkahan. Meskipun majelis ini masih terbilang muda, jamaah yang hadir sudah mulai menggemari acara ini. Tak hanya masyarakat setempat, acara ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Majalengka terpilih, Dena Muhammad Ramadhan, yang memberikan dukungan dan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Salah satu hal yang membedakan Majelis Sabilul Ghafilin dengan majelis lainnya, kata Gus Basyir, adalah tempat pelaksanaannya yang tidak di masjid, mushala, atau langgar. Gus Basyir menjelaskan bahwa mereka ingin lebih dekat dengan saudara-saudara yang merasa sulit untuk melangkah ke masjid atau mushala, mungkin karena merasa malu, hina, atau penuh dosa akibat banyaknya maksiat yang telah dilakukan. Oleh karena itu, majelis ini diselenggarakan di halaman Sumur Keramat Wetan, sebuah tempat yang dianggap memiliki berkah.
Antusiasme peserta sangat tinggi, tidak hanya dari warga setempat, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Indramayu, Cirebon, dan Subang. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Sumur Keramat Wetan sebagai tempat pelaksanaan acara semakin dikenal luas. Konon, Sumur Keramat ini memiliki sejarah panjang dan dianggap sebagai tempat yang memiliki berkah, yang dulu banyak dikunjungi oleh orang-orang untuk mengambil air sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sejarah Sumur Keramat Wetan sendiri sangat menarik. Tempat ini merupakan peninggalan Mbah Kuwu Sangkan, yang dikenal juga dengan nama Pangeran Walasungsang, seorang tokoh sejarah yang berhubungan erat dengan Pangeran Cakrabuana dari Cirebon, yang merupakan putra dari Prabu Siliwangi dan ayah mertua dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sumur Keramat ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang kaya dan berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Gus Basyir berharap, dengan adanya kegiatan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin ini, tidak hanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sebagai cara untuk menggali keberkahan dari sumur peninggalan Mbah Kuwu Sangkan. “Semoga kegiatan ini dapat terus istiqamah dan memberikan manfaat bagi umat, hingga Yaumul Qiyamah,” ujar Gus Basyir.
Setelah acara tasyakur dan kajian selesai, jamaah dan panitia melanjutkan dengan silaturahmi, berbincang tentang berbagai macam kehidupan, serta berbagi hidangan bersama. Mereka menikmati makanan bersama dengan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan daun pisang sebagai alas. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keberkahan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara para jamaah yang hadir.
Dengan semakin berkembangnya kegiatan ini, Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran spiritual dan memperbaiki diri di hadapan Allah SWT. Harapan besar pun ada agar majelis ini bisa terus berkembang dan menjadi tempat yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
@uli