Maka, Lupakan Pujian…

Editor Ilustrasi. /adobe stock
Silahkan bagikan

Oleh Asro Kamal Rokan

SEORANG sahabat, pemimpin perusahaan besar, merasa galau. Belakangan ini dia gampang tersinggung. Ketika beberapa karyawan berkumpul, dia merasa mereka sedang memperbincangkan dirinya. Ketika mereka tertawa, dia merasa mereka menertawakan dirinya.

Kebiasaannya membuka e-mail, membaca kesan-kesan lucu, atau artikel mengandung hikmah yang dikirim teman-temannya, kini sudah ditinggalkannya. Padahal dahulu, dia rajin membuka e-mail dan membalas cerita-cerita lucu dari teman-temannya. Bahkan, terkadang dia sendiri yang mengirim artikel-artikel ke teman-temannya.

Ruang kerjanya juga sepi dari lagu-lagu cinta Demis Roussos,
Everly Brothers, dan Tom Jones, yang selalu diputar di komputer mengiringinya kerja. Dahulu, ruang kerjanya selalu terbuka untuk staf, bahkan karyawan, mengadukan persoalan pekerjaan. Kini, hanya beberapa staf tertentu atas diizinkannya.

Permintaan berteman di facebook, tidak lagi dipedulikannya. Dia tak mau terhubung dengan teman-temannya karena kecewa seorang sahabat mengirim potongan puisi Jalaluddin Rumi: Mari kita tinggalkan kekanak-kanakkan dan menuju ke kelompok manusia.

Sahabat yang mengirim catatan di facebook itu, sesungguhnya tidak bermaksud menyindirnya dan tidak pernah tahu situasi hati sahabatnya itu. Namun, dia merasa tersindir dan karena itu dia marah sekali.

Dia membalas catatan itu: Apa kamu pikir saya kekanak-kanakkan dan bukan manusia?

Bukan puisi Rumi itu yang membuatnya marah, melainkan hatinya sedang gelisah. Dua pekan lalu, dalam pertemuan dengan karyawan, ada yang mengkritik kinerjanya secara terbuka. Dia juga medengar sayup-sayup soal ketidakpuasan karyawan, terutama soal kesejahteraan.

Dalam situasi demikian, kata-kata bijak pun bisa dianggap sebagai penghinaan. Senyum tulus dianggap sebagai ejekan. Sebaliknya, racun yang disajikan dengan cawan pujian, bisa dianggap sebagai hadiah tak terkira.

Ada saatnya, orang kehilangan pegangan dan terseret ke tempat yang menurutnya indah, namun sesungguhnya jebakan. Dan, dia menikmatinya; seperti aktor dalam gemuruh tepuk tangan.

Baca Juga :  Fraksi PKS DPRD Sulteng Apresiasi Raperda Inisiatif Tentang Pesantren

Seorang pemimpin ada kalanya terjebak dalam kesepian. Dia merasa telah melakukan banyak hal untuk kebaikan bersama, banyak prestasi, namun tetap saja dikritik. Dia merasa telah mencurahkan semua kemampuan, waktu, dan perasaan, namun tetap saja dianggap tidak cukup.

Pada saat-saat seperti itu — tekanan perasaan dan merasa tidak diapresiasi — para pemimpin memerlukan air bagi dahaganya. Air itu adalah pujian. Dia merasa lebih berarti dalam rimbun pujian meski itu racun dan mematikan.

Dia lebih suka dan bahkan sangat percaya kepada orang-orang yang memujinya. Sejak itu, dia dikelilingi orang-orang yang suka memujinya. Mereka mendapatkan banyak, sedangkan sahabat itu meneguk racun dalam cawan emas.

Dia kehilangan rasionalitas; dan menganggap orang yang mengkritik adalah musuh nyata yang harus disingkirkan.

Wahai sahabat yang kesepian, cawan pujian itu indah, terbuat dari emas dan permata. Seindah apa pun cawan itu, tidak lagi berarti apa-apa ketika isinya kau teguk.

Berhentilah melayang karena pujian, turunlah ke bumi nyata. Percayalah pada kehendak Allah, bukan kepada mereka yang suka memuji dan peramal yang hidup dari gelembung asap yang mudah sekali menguap. Ketika gelembung itu pecah, percayalah mereka akan pergi. Kau akan sendiri.

Berhentilah meminum air laut pujian, kembalilah ke bumi, dan baca berkali-kali sampai masuk ke jiwa terdalam: Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah … Tidak untuk manusia, siapa pun dia.

Wahai sahabat, senyum dan sapa kembali semua teman-temanmu yang tidak pernah minta apa-apa, bukan para penjilat yang pandai memotong lidah dan telinga. Tenangkan dirimu, seperti mata bayi yang teduh dan tak menyimpan sakwasangka.

Kini, lupakan semua pujian karena ia racun dalam cawan yang indah. Bacalah sebanyak-banyaknya dan masukkan ke dalam jiwamu sekuat kau bisa: Alhamdulillah–segala pujian hanya untuk Allah!

  • Penulis wartawan senior di LKBN Antara, pengurus PWI Pusat dan kini koordinator kesetiakawanan wartawan Indonesia – Malaysia. Tulisan ini pernah dimuat kolom Resonansi, Republika, pada Rabu, 11 Maret 2009.

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Malam Penuh "Thriller" Setelah Pengakuan Bharada E Terungkap, 3 Jenderal Bintang Tiga Datangi Rumah Dinas Kapolri

Sen Agu 8 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Sejak Sabtu (6/8/2022) malam lalu, Irjen Pol. Ferdy Sambo telah dibawa ke Markas Komando (Mako) Brimob untuk ‘diamankan’. Awalnya, tak sedikit media menulis bahwa Ferdy Sambo (FS) telah berstatus tersangka. Namun malam itu juga Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Dedi Prasetyo, mengatakan bahwa FS […]