Makan Dulu atau Salat Dulu?

Editor Ilustrasi. /nu.or.id
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | JAKARTA – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menjawab pertanyaan terkait pertimbangan mana yang perlu diambil antara makan atau salat terlebih dahulu.

Dalam hal ini, Gus Mus memberikan jawaban melalui penjelasan yang bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah. Gus Mus pun menyampaikan sebuah hadits yang berkenaan dengan hal tersebut.

“Diriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, beliau berkata: ‘Saya pernah mendengar Sayyidah Aisyah ra dari Kanjeng Nabi Muhammad saw, sesungguhnya Nabi Muhammad saw pernah berkata: ‘Ketika makan malam telah dihidangkan beriringan dengan iqamah salat, maka mulailah dengan makan malam,” urainya dalam dalam tayangan Jimat Gus Mus di kanal YouTube Gus Mus Channel, dilansir dari NU Online, Senin (3/1/2022).

Gus Mus menegaskan bahwa hal tersebut memiliki tujuan untuk membebaskan pikiran seseorang akan hal-hal yang berpotensi mengganggu konsentrasi ketika melaksanakan shalat.

“Yang wajar saja lah, seperti umumnya manusia. Kalau makan dulu, nanti sudah tidak kepikiran. Selesaikan dulu. Kamu mau kencing, kencing dulu. Ingin buang air besar (BAB), BAB dulu. Ingin makan, makan dulu. Supaya nanti tidak ada yang mengganjal. Yang mengganggu beribadah justru hal-hal itu,” urai Gus Mus.

Gus Mus mencontohkan seperti pada saat menjalankan ibadah puasa. Ketika adzan Maghrib berkumandang, manusia justru dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Menyegerakan berbuka puasa, kata Gus Mus, akan mendatangkan ganjaran tersendiri.

“Kalau seharian tidak makan lalu diperbolehkan makan, itu kiranya cepat-cepatan atau nanti-nantian? Pasti cepat-cepatan. Nah, cepat-cepat berbuka itu dalam Islam mendapatkan bonus. Bonusnya yaitu mendapatkan kesunnahan ta’jilul futhur,” ungkapnya.

Baca Juga :  Hadapi Krisis Global Tahun Depan, Ahmad : Produk Pengusaha Lokal Harus Maksimal

Hadits tersebut, kata Gus Mus, memberikan penggambaran jelas terkait sifat Islam sebagai agama kemanusiaan. “Saya sering mengatakan bahwa agama kita (Islam) itu agama yang manusiawi,” ungkap kiai kelahiran Rembang itu. Gus Mus menilai bahwa fenomena dilematis antara menentukan makan atau salat dulu menunjukkan bahwa semangat beragama saja tidak cukup sampai dengan seseorang itu mempelajari lebih dalam ilmu agama. Hal ini lantaran masih kerap dijumpai pihak yang menganggap bahwa makan terlebih dahulu adalah hal yang keliru. “Banyak orang yang semangat beragama, tapi tidak paham itu banyak,” ungkapnya.@mpa/nu

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Berangkatkan 84 Jemaah Umrah, Sikap Pemerintah Tegur Kepada Amphuri Dianggap Sudah Tepat

Kam Jan 6 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Pemerintah telah memberikan surat peringatakan kepada Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (Amphuri) karena telah memberangkatkan 84 jemaahnya tanpa restu dari Kementerian Agama. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menilai, sikap pemerintah sudah tepat dengan memberikan teguran kepada Amphuri karena […]