VISI.NEWS | JEDDAH — Ketua Komite Perintis Proyek Masar Makkah sekaligus Ketua Dewan Direksi Umm Al Qura Company for Development and Reconstruction, Sheikh Abdullah Saleh Kamel, menegaskan bahwa Masar Makkah merupakan model kemitraan strategis antara pemerintah dan sektor swasta dalam pembangunan Kota Suci Makkah.
Berbicara dalam acara budaya “Ahdiyah Al-Abdali” baru-baru ini, Sheikh Kamel menekankan peran penting sektor swasta dalam mewujudkan visi Penjaga Dua Kota Suci Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk memberikan layanan terbaik bagi jamaah haji dan umrah.
Kamel, dikutip dari Saudi Gazette, Senin (24/11/2025), menjelaskan bahwa proyek Masar Makkah berawal pada 2006 sebagai program pengembangan kawasan kumuh di Makkah. Pada mulanya proyek ini dinamai “King Abdullah Road”, kemudian berubah menjadi “King Abdulaziz Road”, sebelum akhirnya diluncurkan kembali sebagai destinasi terpadu bernama Masar.
Proyek raksasa ini membentang di atas lahan 3,7 juta meter persegi, mencakup sembilan permukiman tidak terbangun, dan berjarak hanya sekitar 4 kilometer dari Masjidil Haram. Setelah selesai, Masar akan mampu menampung lebih dari 250.000 orang dengan fasilitas hunian, perhotelan, ritel, dan komersial dalam satu kawasan multiguna.
Sheikh Kamel mengungkapkan bahwa pembangunan di bawah permukaan Masar tidak kalah penting dibanding apa yang terlihat di atasnya. Sebuah kota bawah tanah sepenuhnya telah dibangun, lengkap dengan seluruh infrastruktur pendukung, termasuk penyediaan sekitar 40.000 tempat parkir di sepanjang koridor Masar.
Rute utama kawasan ini terhubung langsung dari Stasiun Kereta Cepat Haramain menuju pelataran Masjidil Haram, melewati gedung-gedung proyek Jabal Omar, hanya dalam waktu sekitar lima menit. Konsep ini mencerminkan visi modern transportasi Makkah yang terpadu dan efisien.
Untuk menuju Masjidil Haram, Masar menyediakan empat jalur akses utama: jalur bawah tanah yang terhubung dengan proyek Metro Makkah (yang saat ini tertunda), jalur bus, jalur pejalan kaki khusus, serta jalur khusus kendaraan. Variasi pilihan ini dirancang untuk mengurangi kemacetan dan mempermudah pergerakan jamaah, penduduk, serta wisatawan.
Kamel juga menyoroti perubahan signifikan pada nilai lahan di dalam kawasan proyek. Harga per meter persegi kini berkisar antara SR400.000 di titik terdekat Masjidil Haram hingga SR3.000 di bagian terluar, mencerminkan perbedaan kedekatan lokasi dan kualitas pengembangan.
Menurutnya, Masar Makkah adalah salah satu proyek peningkatan kualitas hidup paling penting di kota suci, sekaligus investasi komersial yang sukses. Perusahaan pemilik proyek kini telah tercatat di bursa saham dan menunjukkan kinerja positif.
Sheikh Kamel menyampaikan kedekatan personalnya dengan proyek tersebut, menyebut Masar sebagai “seperti anak sendiri” karena ia menyaksikan seluruh proses dari konseptualisasi hingga implementasi. Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan induk proyek tengah berdiskusi dengan Komisi Kerajaan Kota Makkah dan Tempat-Tempat Suci untuk mengakuisisi beberapa kawasan kumuh lain guna menerapkan konsep serupa, terutama untuk memudahkan mobilitas di Kota Suci.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa visi pembangunan baru di Makkah menargetkan alokasi 30 persen wilayah setiap permukiman yang dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau, demi menciptakan lingkungan urban yang lebih manusiawi dan nyaman bagi penduduk, pengunjung, serta jamaah.
@uli












