Mengenal Dr. Abdus Salam, Profesor dan Pelatih Sepak Bola Muslim Peraih Hadiah Nobel

Dr. Abus Salam./keystone/getty images/via indosport.com.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Mengenal sosok Abdus Salam, profesor muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel dan sempat menjalani karier sebagai pelatih sepak bola.

Nobel sendiri merupakan salah satu penghargaan cukup bergengsi di dunia, penghargaan ini biasanya diberikan kepada orang-orang ataupun ilmuwan yang sangat berjasa dalam kemajuan peradaban manusia.

Penghargaan Nobel dianugerahkan setiap tahun kepada mereka yang telah melakukan penelitian luar biasa, menemukan teknik atau peralatan yang baru, atau telah melakukan kontribusi luar biasa ke masyarakat.

Tidak heran jika tokoh-tokoh terkenal yang biasanya muncul dalam buku pelajaran seperti Albert Einstein (penemu hukum Ekuivalensi massa–energi) tercatat pernah meraih penghargaan ini. Penghargaan Nobel sendiri biasanya diberikan dalam lima kategori, yakni Fisiologi dan Kedokteran, Fisika, Kimia, Kesusastraan, Perdamaian dan Ekonomi.

Dari sekian banyak tokoh penting peraih penghargaan Nobel, sosok Dr. Abdus Salam menjadi salah satu figur yang berhasil menarik minat publik dunia.  Pasalnya, profesor kelahiran Pakistan tersebut merupakan muslim pertama sepanjang sejarah yang berhasil mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1979 lalu.

Bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg, Abdus Salam berhasil menemukan teori ‘Electroweak’ pada 1968. Teori tersebut dianggap mampu membantu umat manusia memahami jagat raya. Bahkan, temuan Salam pada berpuluh-puluh tahun lalu juga dianggap bisa mengkonfirmasi keberadaan ‘partikel Tuhan’ yang jadi telah menjadi perdebatan berbagai kalangan.

Sebelum sukses dalam bidang penelitian, ilmuwan bernama lengkap Muhammad Abdus Salam ini hidup dalam lingkungan miskin di India, namun kejeniusannya membuat banyak universitas memberikan ia beasiswa. Abdus Salam bahkan berhasil memperoleh nilai tertinggi sepanjang sejarah dalam ujian matrikulasi di Universitas Punjab, padahal saat itu usianya baru menginjak 14 tahun.

Dua tahun berselang, Abdus Salam yang berstatus mahasiswa sudah bisa mempublikasi paper di jurnal matematika dan menjadi lulusan terbaik yang lagi-lagi dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah untuk gelar sarjana Matematika. Kejeniusan Salam benar-benar diluar nalar saat itu, dirinya bisa meraih gelar BA dengan predikat first-class honours untuk dua major sekaligus (Matematika dan Fisika) disusul gelar PhD bidang Fisika Teori di University of Cambridge.

Berbekal kejeniusan dan gelar tersebut, pada tahun 1951 Salam berniat memajukan peradaban kampung halamannya di Lahore, padahal di saat yang bersamaan juga ada tawaran mengajar di Princeton bersama Albert Einstein. Namun kurangnya fasilitas penelitian dan minimnya pendapatan yang ia terima dari pemerintah Pakistan, membuat Salam kesulitan mengembangkan proyek yang ia kerjakan bahkan dirinya sampai menumpang hidup di rumah teman untuk bisa berhemat serta membeli peralatan ilmiah yang dibutuhkan.

Terdapat satu momen unik Abdus Salam selama berada di Pakistan, yakni pekerjaan sambilan yang ia jalankan untuk bisa mendapat uang tambahan. Bukan sebagai guru atau penasihat, melainkan pelatih sepak bola amatir di kampus.

Mengutip ucapan Atif Rehman Mian, salah satu pakar ekonomi Pakistan, disebutkan bahwa Abdus Salam terpaksa menerima tawaran melatih tim sepak bola agar mendapat dana untuk membangun fasilitas fisika.

“Dia (Abdus Salam) ingin membangun departemen Fisika kelas dunia di universitas tempat dia mengajar. Tapi coba tebak pekerjaan apa yang diserahkan oleh kepala universitas? Pelatih sepak bola!” ucap Atif Rehman.

Kecewa lantaran profesinya sebagai ahli fisika tidak dihargai (dengan memberi pekerjaan yang jauh dari bidang keilmuan), membuat Abdus Salam memutuskan kembali ke Inggris pada tahun 1953. 

Di sana, Abdus Salam mendapat kesempatan menjadi dosen di Universitas Cambridge, kampus yang dulu menjadi sekolahnya. Disusul promosi menjadi full professor di Imperial College. Selama di Inggris, Abdus Salam leluasa melakukan penelitian dan puncaknya pada tahun 1979 ia berhasil meraih  penghargaan Atoms for Peace dan memenangkan Nobel di kategori ilmu Fisika.
@fen/sumber: indosport.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Daniel Ricciardo, Pembalap F1 yang Beralih Jadi Petani karena Pandemi Corona

Ming Mei 31 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Seorang pembalap F1 beralih menjadi petani setelah pandemi virus corona (Covid-19) menangguhkan semua agenda balapnya. Daniel Ricciardo, pembalap Renault berusia 30 tahun, telah menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kemewahan ajang Formula 1 setelah mengisolasi diri di pertanian keluarganya di Australia Barat. “Saya akan jujur saya kehilangan sorotan, pusat […]