VISI.NEWS | BANDUNG – Matcha kini menjadi salah satu minuman populer yang digemari di berbagai belahan dunia. Namun, banyak yang masih keliru menyamakannya dengan teh hijau biasa. Padahal, meski sama-sama berasal dari tanaman Camellia sinensis, matcha memiliki perbedaan signifikan dalam cara tanam, panen, hingga proses produksi.
Tidak seperti teh hijau pada umumnya, matcha dibuat dengan mengonsumsi daun teh utuh yang digiling menjadi bubuk halus. Daunnya ditanam di area teduh untuk meningkatkan klorofil dan asam amino, lalu dipetik hanya dari pucuk termuda. Setelah dikukus, dikeringkan, dan dibersihkan dari batang serta urat daun, hasilnya disebut tencha yang kemudian digiling menjadi matcha.
Ciri khas matcha adalah warna hijaunya yang cerah, tekstur lembut, dan rasa umami tanpa pahit berkat kandungan asam amino tinggi. Matcha berkualitas tinggi biasanya dipetik dengan tangan dan digunakan dalam upacara minum teh tradisional Jepang, atau chanoyu. Tradisi ini berakar pada praktik Buddhisme Zen dan menekankan kesadaran penuh dalam setiap prosesi.
Dahulu hanya dikonsumsi kalangan bangsawan, kini matcha populer sebagai minuman modern sekaligus superfood. Satu cangkir matcha setara dengan 10–15 cangkir teh hijau biasa dalam hal kandungan nutrisi. Matcha kaya antioksidan katekin (EGCC) yang mampu melawan radikal bebas, membantu metabolisme, membakar lemak, serta menjaga kesehatan tubuh.
Kandungan L-theanine yang tinggi juga memberikan efek relaksasi sekaligus menjaga fokus, menjadikan matcha pilihan ideal bagi mereka yang membutuhkan energi dari kafein namun tetap ingin merasa tenang. Tak heran, sejak dulu matcha menjadi minuman para biksu Zen untuk menjaga kewaspadaan saat bermeditasi.
@ffr