Menjawab Pertanyaan Kenapa Tontonan Wayang Golek Kurang Diminati di Bekasi

Editor Wayang golek./shutterstock/via suara.com/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BEKASI – Kenapa pertunjukan wayang golek di Bekasi sekarang kurang diminati masyarakat. Ini jadi topik obrolan Senin (25/10/2021), malam, anggota Komunitas Historika Bekasi.

Topik ini menarik sekali, sekaligus untuk tetap melestarikan seni budaya Sunda. Menarik buat yang tua maupun yang muda. Tentunya juga para pengambil kebijakan, barangkali bisa menjadi masukan.

Jawaban atas pertanyaan besar di atas terbagi menjadi empat aspek yang mengemuka dalam diskusi.

Pertama, biaya untuk menanggap wayang golek mahal.

Menurut pengalaman anggota Komunitas Historika Bekasi Agus Arif, menanggap wayang golek biayanya sekitar Rp15 juta. Itu pun yang paling murah.

Itu juga hanya hajatan atau ‘kariaan’ keluarga berekonomi menengah ke atas yang sanggup mendatangkan kelompok seni wayang golek.
Sedangkan biaya tontonan wayang golek “kelas atas” biasanya di atas Rp70 juta.

“Di Pebayuran (salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi), kalau hajatan nanggap golek udah nyohor,” kata Agus Arif.

Kedua, kelompok seni wayang golek kurang inovatif, baik cerita maupun kostum saat ditampilkan.

Menurut tanggapan seorang anggota Komunitas Historika Bekasi Bang Pitung, dalang seharusnya ada peremajaan karakter.
“Sekarang kan orang seneng yang lucu-lucu, metode stand up comedy bisa diadopsi. Saya yakin kalau ada anak muda yang berani menampilkan warna seperti itu bisa bersaing dengan media hiburan lainnya.”

Contoh inovasi lagi sebagaimana diungkapkan Bang Pitung, “Ada anak muda yang menampilkan boneka berbagai karakter mampu mendulang subscriber ampe njutaan (di Youtube), insyaallah kalau ada dalang yang bisa seperti itu pun akan meraih prestasi yang sama, bahkan lebih.”

Ketiga, keberadaan wayang golek telah tersaingi oleh jenis hiburan lainnya, sebut saja pertunjukan dangdut dan organ tunggal.
Biaya mendatangkan kelompok dangdut sebenarnya juga tak kalah mahal. Tapi tetap banyak orang menanggapnya karena dinilai lebih menarik.

Baca Juga :  Hero Baru Durgeff Durkhan Hadir di Shadow Arena

Tapi semahal-mahalnya biaya untuk menyelenggarakan acara dangdut, acara yang sudah tergolong mewah biayanya hanya sekitar Rp 20 juta. Bandingkan dengan biaya untuk acara wayang golek yang biasa-biasa saja sudah sampai Rp15 jutaan, sedangkan yang “kelas atas” di atas Rp 70 jutaan.

Menurut pendapat Bang Pitung, dangdutan banyak ditanggap karena ada daya tarik berahi dalam tanda kutip. Dan wajar kalau dangdut tarifnya mahal karena lebih banyak hiburan yang ditampilkan di panggung.

“Kalau kelas bawah banyaknya cuman organ tunggal yang cukup Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta, udah ramai,  bisa goyang juga,” Agus Arif menambahkan.

Aspek keempat, budaya pertunjukan wayang golek atau wayang kulit terdegradasi dengan kebudayaan bersifat seni lainnya yang biayanya lebih murah dengan kru yang tidak terlalu banyak dan esensinya tetap bisa jadi hiburan di sebuah acara. Misalnya, organ tunggal yang bisa mengiringi berbagai aliran musik.

Minat masyarakat masih tinggi

Sebenarnya, minat masyarakat untuk menonton pertunjukan wayang golek masih terbilang tinggi, terutama dari kalangan ekonomi kelas bawah, kata Agus Arif.

Lebih jauh, seorang pemerhati sejarah Bekasi Syakiran yang menjadi pemantik dalam diskusi tersebut berkata masyarakat Bekasi yang hidup sekarang, mayoritas sudah tidak kenal para peran dan cerita (lakon).

“Seiring berkembangnya pemahaman Islam sehingga hal kedewaan disingkirkan.”

Tapi menurut Agus Arif, sebenarnya bukan karena berkembangnya pemahaman Islam. Tetapi masyarakat banyak tidak kenal para peran dan cerita (lakon) karena memang jarang sekali wayang golek dipentaskan.

Anggota komunitas Bang Pitung kemudian menyoroti sikap pemerintah daerah. Dia berkata, “Pemerintah pun sekarang lebih memilih dangdutan daripada pementasan kesenian wayang.”

Dia berharap dengan adanya dewan kebudayaan berkontribusi untuk melestarikan kebudayaan Sunda.

Baca Juga :  Grand Opening & Evaluasi Pasanggiri Sanggar Tari Bunda (STB) Ciawi Kab. Tasikmalaya

“Mudah-mudahan mampu mendorong pemerintah untuk lebih mencintai dan melestarikan kesenian dari kebudayaan kita.”
@fen/suara.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bupati Bandung Bertekad Perangi Pungli di Kabupaten Bandung

Sel Okt 26 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SOREANG – Bupati Bandung HM Dadang Supriatna berkomitmen perangi praktek pungutan liar (pungli) di Kabupaten Bandung. Hal itu sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Perpres) No. 87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli). Melalui Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) Inspektorat Kabupaten […]