VISI.NEWS | JAKARTA – Kekosongan pasokan beras di sejumlah ritel modern terjadi usai terungkapnya pelanggaran mutu hingga praktik oplosan pada beberapa merek. Kondisi ini justru menguntungkan pasar tradisional, di mana penjualan beras meningkat dan penggilingan padi kecil kebanjiran pesanan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pergeseran ini sebagai hukum pasar. Menurutnya, masyarakat kini lebih percaya berbelanja beras di pasar tradisional karena harga lebih murah dan kualitas terjamin.
“Kalau premium, Rp 17.000-Rp 18.000/kg. Di sini harganya Rp 13.000/kg, sudah bagus berasnya,” ujarnya di Kantor Kementan, Rabu (13/8/2025).
Amran menambahkan, selama ini produsen besar mendominasi distribusi ke ritel modern, sementara penggilingan kecil hanya memasok pasar tradisional. Persaingan pembelian gabah pun berat bagi pelaku usaha kecil karena produsen besar berani membeli di atas Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 6.500/kg.
Terkait kasus pelanggaran mutu, Amran mengaku geram. Hasil uji laboratorium menunjukkan beras yang diklaim premium justru memiliki tingkat butir patah (broken) jauh di atas standar 15%, bahkan mencapai 59% pada beberapa sampel.
“Jadi beras tadi, yang saya ulangi lagi. Bukan persoalan oplos, persoalan campur. Ini adalah tidak sesuai standar. Standar premium adalah broken-nya 15%. Tetapi di sini ada tadi sampai 59% Itu sesuai lab, bukan sesuai Kementerian Pertanian. Kami menggunakan 13 lab. Dan ada sampel kami ambil tadi 10.000, itu brokennya 33%. Dan itu dianggap premium. Pelanggarannya di situ,” tegasnya. @ffr