VISI.NEWS | BANDUNG — Aktivitas publik di Kota Minneapolis nyaris terhenti setelah kematian seorang ibu warga negara Amerika Serikat, Renee Nicole Good (37), yang ditembak agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Insiden yang terjadi pada Rabu (7/1/2026) itu tidak hanya memicu bentrokan antara massa dan aparat, tetapi juga menimbulkan ketakutan luas di tengah masyarakat, termasuk warga yang memiliki status kewarganegaraan sah.
Sehari setelah penembakan, gelombang demonstrasi semakin membesar dan menjalar ke sejumlah titik strategis kota. Pemerintah setempat memutuskan menutup sekolah-sekolah pada Kamis dan Jumat (9/1/2026) demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik, menyusul situasi keamanan yang belum kondusif.
Penembakan bermula saat agen ICE mendekati mobil SUV Honda yang dikendarai Good. Berdasarkan rekaman video yang beredar luas di media sosial, seorang agen bertopeng terlihat mencoba membuka pintu kendaraan sebelum petugas lain yang berdiri di dekat bemper depan melepaskan tiga tembakan ke arah mobil. Kendaraan korban kemudian melaju tanpa kendali dan menabrak deretan mobil yang terparkir. Kepolisian menyatakan Good bukan target operasi imigrasi dan hanya dicurigai menghalangi arus lalu lintas.
Pemerintah federal dengan cepat membela tindakan aparat. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan penembakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri dan menuding korban terafiliasi dengan kelompok politik tertentu. “Dia adalah bagian dari jaringan sayap kiri yang lebih luas untuk menyerang, membongkar identitas, melakukan penyerangan, dan membuat petugas ICE kami tidak dapat melakukan pekerjaan mereka,” ujar Vance pada Kamis (8/1/2026). Ia juga memastikan penyelidikan federal tidak akan melibatkan otoritas negara bagian. “Gagasan bahwa ini tidak dibenarkan adalah absurd,” katanya.
Senada dengan itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut aparat penegak hukum saat ini menghadapi serangan yang terorganisir. Presiden Donald Trump turut menanggapi insiden tersebut dengan menyampaikan keprihatinan, meski tetap menyinggung tindakan warga saat bentrokan berlangsung. “Saya tidak ingin melihat siapa pun tertembak. Saya tidak ingin melihat siapa pun berteriak dan mencoba menabrak polisi,” kata Trump kepada New York Times.
Pernyataan dari pemerintah pusat tersebut menuai penolakan keras dari pejabat lokal Minnesota. Gubernur Tim Walz mendesak agar penyelidikan dilakukan secara independen dan melibatkan negara bagian. Ia memperingatkan bahwa jika penyelidikan hanya dilakukan secara internal oleh federal, maka Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem secara praktis akan menjadi hakim, juri, sekaligus algojo. Walz bahkan menyebut partisipasi warga dalam demonstrasi sebagai bentuk tanggung jawab patriotik, yang kemudian ikut mendorong eskalasi aksi protes di Minneapolis.
Di tengah panasnya tensi politik, keluarga korban membantah tudingan bahwa Renee Nicole Good terlibat dalam aktivitas politik anti-ICE. Ibu korban, Donna Ganger, menyebut putrinya kemungkinan besar bertindak karena rasa takut. “Putri saya mungkin hanya ketakutan. Ia bukan bagian dari gerakan tersebut,” ujar Ganger kepada Minnesota Star Tribune. Renee dikenal sebagai seorang penyair yang menempuh pendidikan penulisan kreatif di Old Dominion University. Ia meninggalkan seorang suami dan seorang anak berusia enam tahun. Hingga kini, donasi daring untuk membantu keluarganya telah melampaui 800.000 dolar AS.
Dampak penembakan tersebut juga dirasakan oleh warga imigran dan warga keturunan asing yang telah menjadi warga negara AS. Abdinasir Abdullahi (38), warga keturunan Ethiopia, mengaku kini selalu membawa paspor ke mana pun ia pergi karena takut berhadapan dengan petugas ICE. “Mereka tidak percaya kalau saya bilang saya ini warga negara. Mereka tidak mau memercayai Anda,” tuturnya.
Di lokasi penembakan, warga mendirikan tugu peringatan darurat berupa lilin dan bunga. Sebuah spanduk bertuliskan, “Kebencian tidak membuat kita hebat,” terbentang di dekat lokasi kejadian, menjadi simbol duka sekaligus kritik terhadap kekerasan aparat. Insiden ini pun menjadi titik kritis baru di tengah kebijakan deportasi massal pemerintahan Trump, memperlebar jurang ketegangan antara pemerintah federal, otoritas lokal, dan masyarakat sipil di Amerika Serikat. @kanaya












