Search
Close this search box.

Misteri Kematian Sekeluarga Terpecahkan, Anak Jadi Tersangka Utama

Petugas kepolisian berjaga di lokasi rumah kontrakan tempat tiga anggota keluarga ditemukan tewas di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat pagi (2/1/2026)./visi.news/ilustrasipembunuhan.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Pengungkapan kasus kematian satu keluarga di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, menunjukkan bagaimana penyelidikan ilmiah dan ketelitian aparat mengurai tragedi yang semula penuh misteri. Peristiwa yang terjadi awal Januari itu akhirnya mengarah pada satu nama yang tak disangka: anak kandung korban sendiri yang sebelumnya sempat dianggap sebagai korban selamat.

Tiga orang ditemukan meninggal dunia di dalam rumah kontrakan mereka pada Jumat pagi, 2 Januari 2026. Mereka adalah seorang ibu berinisial SS (50), anak pertamanya AAL (27), dan anak bungsunya AAB (13). Saat itu, satu anak lainnya, AS alias S (22), ditemukan masih bernapas dan segera dilarikan ke rumah sakit. Kondisi inilah yang awalnya membuat penyidik fokus pada dugaan keracunan massal tanpa mengetahui siapa pelakunya.

Seiring waktu, hasil pemeriksaan laboratorium forensik mulai memberi titik terang. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan bahwa kepastian penyebab kematian baru diperoleh setelah seluruh rangkaian uji ilmiah selesai dilakukan.

“Kemudian serangkaian pemeriksaan ini berjalan hingga akhirnya pada 4 Februari, atas hasil pemeriksaan dari Puslabfor, dokter, dan juga bukti toksikologi serta hasil pemeriksaan saksi-saksi,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).

Dari hasil itulah, posisi AS berubah dari korban selamat menjadi tersangka utama. Polisi menyimpulkan racun diberikan secara sengaja.

“Hasil pengamatan kami, berdasarkan barang bukti lainnya, sehingga kami menetapkan Saudara S sebagai pelaku atau tersangka dari perkara peristiwa keracunan tersebut di mana Saudara S memang dengan sengaja meracun ketiga korban tersebut,” tegas Budi.

Peran penting dalam pengungkapan kasus ini datang dari Tim Toksikologi Puslabfor Bareskrim Polri. Berbagai kemungkinan zat beracun diuji untuk memastikan penyebab kematian.

Kepala Urusan Subbid Toksikologi Puslabfor, Azhar Darlan, mengatakan, “Dari pemeriksaan barang bukti, ruang lingkup kami adalah pemeriksaan pestisida, kemudian alkohol, kemudian arsen, kemudian sianida, serta ruang lingkup bahan kimia dan obat-obatan.”

Baca Juga :  Jalan Sukabumi–Sagaranten Kembali Normal Usai Terdampak Longsor di Nyalindung

Hasilnya menunjukkan temuan zat zinc phosphate di organ tubuh para korban.

“Dari pemeriksaan tersebut, dari item tersebut, seluruh korban yang meninggal, ada tiga orang yang meninggal tersebut, organ yang dikasih kami adalah positif zinc phosphate,” ungkap Azhar.

Zat tersebut dikenal luas sebagai bahan aktif dalam racun tikus.

Penjelasan ilmiah soal dampaknya disampaikan peneliti toksikologi kimia Universitas Indonesia, Prof. Dr. Budiawan.

“Bahan-bahan ini beracun bagi sel tubuh manusia, dan ditemukan tadi apa yang disampaikan oleh hasil dari pemeriksaan ini, membuktikan bahwa di lambung telah ditemukan zinc phosphate, kemudian juga tentunya memang racun ini akan berubah menjadi phosphane, dan kemudian juga menyebar ke seluruh organ, dan itulah yang dikenal sebagai racun seluler,” jelasnya.

Pemeriksaan forensik juga memastikan tidak ada tanda kekerasan fisik pada tubuh para korban.

Dokter forensik RS Polri Sukanto, dr. Mardika, menuturkan, “Kemudian dari pemeriksaan lanjutan kami mengambil sampel yang dikirim ke Labfor, sehingga dari kesimpulan pemeriksaan tiga jenazah tersebut, didapatkan sebuah kematian akibat senyawa kimia, atau zat yang tidak lazim masuk ke dalam tubuh, yang melebihi batas toleransi dalam tubuh dan korban tersebut mati lemas.”

Setelah aspek ilmiah menguat, penyidik mendalami latar belakang hubungan keluarga tersebut. Dari hasil pemeriksaan, terungkap dugaan motif pribadi yang dipendam pelaku.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Onkoseno menyampaikan, “Dari hasil pemeriksaan kami, motivasi dari pelaku adalah dendam kepada keluarganya karena merasa diperlakukan berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya.”

Kasus ini menjadi gambaran bagaimana konflik keluarga yang tak terselesaikan dapat berubah menjadi tragedi besar. Di sisi lain, pengungkapan perkara ini juga menunjukkan peran krusial sains forensik dalam menegakkan kebenaran ketika fakta di lapangan belum sepenuhnya berbicara. Proses hukum terhadap tersangka kini terus berjalan. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :