Search
Close this search box.

Mori Hanafi Soroti Kapasitas Bandara Bali yang Hampir Penuh

Anggota Komisi V DPR RI Mori Hanafi./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, menyoroti keterbatasan kapasitas Bandara Bali yang dinilai sudah mendekati ambang maksimum. Ia mengingatkan potensi lonjakan penumpang pada 2026 seiring meningkatnya wisatawan mancanegara akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Dalam rapat bersama Menteri Perhubungan, Mori mengungkapkan bahwa jumlah penumpang pada 2025 tercatat sekitar 23,9 juta orang, naik dari 23,3 juta penumpang pada 2024. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 600 ribu penumpang dalam setahun.

“Kenaikan ini berasal dari tambahan wisatawan mancanegara sekitar 1,1 juta orang, meskipun wisatawan domestik berkurang sekitar 500 ribu,” ujar Mori, Rabu (18/2/2026).

Menurut Mori, kapasitas bandara di Bali saat ini hanya sekitar 24 juta penumpang per tahun. Dengan jumlah penumpang 2024 yang sudah melampaui 23 juta orang, ia menilai seharusnya sudah ada langkah antisipatif untuk menghindari kepadatan di tahun-tahun berikutnya.

Bandara yang dimaksud adalah Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, pintu gerbang utama pariwisata Bali.

“Kalau tren ini berlanjut, pada 2026 jumlah penumpang bisa mencapai 25 juta hingga 26 juta. Jika kapasitas tidak mencukupi, bagaimana kita mengantisipasinya?” tegasnya.

Mori juga menyinggung faktor eksternal yang mendorong kenaikan wisatawan mancanegara, yakni depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Ia mencontohkan penguatan ringgit Malaysia dan dolar Singapura terhadap rupiah yang membuat Indonesia, khususnya Bali dan Batam, menjadi destinasi belanja dan wisata yang lebih murah bagi turis asing.

“Turis dari Malaysia berbondong-bondong datang. Bahkan warga Singapura kini berbelanja kebutuhan pokok ke Batam karena kurs dolar Singapura yang menguat,” katanya.

Fenomena ini dinilai berpotensi meningkatkan arus masuk wisatawan ke Indonesia dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Hat-trick Valverde Hancurkan Man City, Guardiola Dinilai Terlalu Berani Bermain Terbuka

Selain menyoroti kapasitas, Mori juga memaparkan besarnya penerimaan ekonomi dari operasional bandara Bali. Dari airport tax saja, penerimaan disebut mencapai sekitar Rp1,8 triliun. Belum termasuk pendapatan dari parkir yang mendekati Rp100 miliar, serta sewa menyewa tenant dan restoran yang mencapai hampir Rp 200 miliar.

Ia menilai, dengan kontribusi ekonomi sebesar itu, peningkatan kapasitas dan infrastruktur bandara harus menjadi prioritas.

Mori menyebut kondisi berbeda kemungkinan terjadi di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta yang menurutnya masih memiliki kapasitas lebih memadai dibanding jumlah penumpang saat ini.

Namun, ia menegaskan bahwa kasus Bali perlu menjadi perhatian serius karena bandara tersebut merupakan salah satu pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Komisi V DPR RI meminta pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk segera menyusun langkah antisipatif menghadapi potensi lonjakan penumpang pada 2026.

Menurut Mori, tanpa perencanaan matang, keterbatasan kapasitas bandara bisa berdampak pada kenyamanan penumpang, kualitas layanan, hingga citra pariwisata nasional.

“Ini harus menjadi perhatian bersama agar lonjakan penumpang tidak menimbulkan persoalan baru di sektor transportasi udara,” pungkasnya. @givary

Baca Berita Menarik Lainnya :