VISI.NEWS | JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Jumat (20/3/2026), sementara pemerintah melalui sidang isbat menetapkan Hari Raya jatuh pada Sabtu (21/3/2026).
Meski terdapat perbedaan hari, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan bahwa momentum ini harus menjadi titik balik untuk memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial, baik di tingkat nasional maupun global.
Haedar memaknai Idul Fitri sebagai panggilan untuk memperluas jaringan kepedulian. Menurutnya, semangat memberi harus melampaui batas suku, agama, ras, dan bangsa. Ia secara khusus menyoroti kondisi kemanusiaan di Palestina, Iran, dan wilayah konflik lainnya yang membutuhkan uluran tangan.
“Memberi adalah panggilan dari semangat keberislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadan,” tegas Haedar.
Lebih lanjut, Haedar mengingatkan umat Islam untuk menjaga “jejak” Ramadan dalam perilaku sehari-hari. Salah satu indikator keberhasilan ibadah puasa adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan amarah dan melapangkan hati untuk saling memaafkan.
Ia menilai bahwa kerusakan hubungan antarmanusia sering kali bermula dari ego individu yang tidak terkendali. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki kualitas silaturahmi.
“Dari sinilah pentingnya kita membangun persaudaraan. Persaudaraan yang melintas batas, baik sesama iman maupun dengan seluruh anak bangsa dan siapapun yang ada,” tambahnya.
Terkait perbedaan penentuan 1 Syawal, Haedar mengimbau masyarakat untuk mengedepankan sikap saling menghormati. Ia berharap ruang-ruang publik dapat digunakan secara inklusif untuk pelaksanaan salat Idul Fitri, tanpa memandang perbedaan waktu perayaan.
Prinsip kerja sama dalam kebajikan, sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 2, menjadi landasan bagi Muhammadiyah dalam menyikapi dinamika ini.
“Pada substansinya, mari Idul Fitri ini, baik dalam kesamaan maupun perbedaan, kita jadikan momentum untuk menggali dan mengimplementasikan sumber-sumber pencerahan agama bagi kehidupan kita, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa, bernegara, hingga kehidupan global,” pungkasnya. @ffr