Search
Close this search box.

Muhasabah dalam Islam: Kunci Perbaikan Diri dan Bekal Menuju Akhirat

Ilustrasi./visi.news/freepik.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Dalam kesibukan hidup sehari-hari, manusia kerap lupa meluangkan waktu untuk merenung dan menilai kembali apa yang telah dilakukan. Dalam ajaran Islam, aktivitas ini dikenal sebagai muhasabah, sebuah proses introspeksi atau evaluasi diri atas niat, tindakan, serta amal yang telah dilakukan.

Muhasabah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melaluinya, seseorang bisa memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Secara bahasa, kata ‘muhasabah’ berasal dari akar kata Arab hasaba yahsibu, yang berarti menghitung atau menghisab. Secara istilah, muhasabah dimaknai sebagai upaya menyucikan diri dan bersikap hati-hati dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menyamakan muhasabah dengan sebuah cermin yang digunakan untuk melihat kondisi hati dan jiwa. Tanpa introspeksi, seseorang bisa hidup tanpa arah, terjerumus dalam kelalaian, bahkan terus-menerus mengulangi dosa.

Allah SWT berfirman dalam Al-Baqarah ayat 284.

لِّلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Rasulullah SAW menyebut orang cerdas adalah mereka yang senantiasa mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang yang lemah adalah yang membiarkan dirinya dikendalikan oleh hawa nafsu.

Dalam hadits dari Syadad bin Aus RA, dari Rasulullah SAW, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR At-Tirmidzi)

Baca Juga :  Kolaborasi ITB dan Boeing Dorong Ekosistem Dirgantara

Sahabat Umar bin Khattab juga berpesan agar setiap muslim menghisab dirinya sebelum datang hari perhitungan (Yaumul Hisab). Evaluasi diri di dunia akan meringankan hisab di akhirat.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan, muhasabah bukan sekadar rutinitas rohani, tetapi kewajiban akal sehat.

اعلم أن العبد كما [ينبغي أن] يكون له وقت في أول النهار يشارط فيه نفسه على سبيل التوصية بالحق، فينبغي أن يكون له في آخر النهار ساعة يطالب فيها النفس ويحاسبها على جميع حركاتها وسكناتها، كما يفعل التجار في الدنيا مع الشركاء في آخر كل سنة أو شهر أو يوم حرصا منهم على الدنيا، وخوفا من أن يفوتهم منها ما لو فاتهم لكانت الخيرة لهم في فواته

Artinya: “Ketahuilah bahwa hamba, sebagaimana seharusnya memiliki waktu di awal hari untuk berjanji kepada dirinya sendiri untuk berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya ia juga memiliki waktu di akhir hari untuk menuntut jiwanya dan memperhitungkannya atas semua gerak-geriknya dan diamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh para pedagang di dunia dengan para mitra mereka di akhir setiap tahun, bulan, atau hari, karena kegigihan mereka terhadap dunia, dan karena takut jika mereka kehilangan sesuatu dari dunia yang jika mereka kehilangannya, itu akan lebih baik bagi mereka jika hilang.”

… فكيف لا يحاسب العاقل نفسه فيما يتعلق به خطر الشقاوة والسعادة أبد الآباد ؟ ما هذه المساهلة إلا عن الغفلة والخذلان وقلة التوفيق نعوذ بالله من ذلك

Artinya: “Maka bagaimana mungkin orang yang berakal tidak memperhitungkan dirinya sendiri dalam hal yang berkaitan dengan bahaya kesengsaraan dan kebahagiaan selamanya? Apa ini kemalasan kecuali karena kelalaian, kehinaan, dan sedikit taufik? Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”

Baca Juga :  Rupiah Melemah Dipicu Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz

Dengan muhasabah, seseorang bisa memperbaiki kesalahan, menghindari dosa, membangun kesadaran spiritual, dan mengembangkan tanggung jawab terhadap setiap tindakan yang dilakukan. @ffr

Baca Berita Menarik Lainnya :