MUI Tetapkan Fatwa Baru Terkait Pelunasan Utang Sebelum Jatuh Tempo

Editor Ilustrasi/via mui.or.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | JAKARTA – Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI menetapkan fatwa terbaru terkait pelunasan dan pembiayaan murabahah sebelum jatuh tempo. Penetapan ini dilakukan saat hari keempat workshop pra ijtima sanawi ketujuh.

Sekretaris Bidang Perbankan Syariah DSN MUI, Dr. KH Muhammad Maksum mengatakan, fatwa sebelumnya Nomor 22 Tahun 2002 menyebutkan bahwa hak memberikan potongan pelunasan bagi nasabah yang melakukan pelunasan dalam murabahah dipercepat bersifat kerelaan Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

‘’Dasar pertimbangannya adalah melepaskan hak LKS (isqat al-haq). Adapun dalam fatwa yang baru ini LKS diwajibkan untuk menentukan harga pada saat dilakukan pelunasan dipercepat tersebut,’’ ujarnya di Hotel Balairung, Jakarta Timur, Sabtu (24/9/2022) seperti dilansir MUIDigital.

Kiai Maksum menambahkan, dalam bahasa praktik, potongan pelunasan tersebut bersifat mengikat bagi LKS. Artinya, LKS tidak berhak menerima harga dari waktu yang belum dilalui. Hal inilah yang dapat membedakan antara fatwa ini dengan fatwa sebelumnya.

Kiai Maksum memberikan contoh pembiayaan murabahah untuk pembiayaan mobil dengan menggunakan skema keuntungan secara proporsional. Misalnya sebuah mobil memiliki harga 100 juta rupiah.

Kemudian, mobil tersebut dibayar selama satu tahun dengan margin keuntungan 12 juta rupiah. Sehingga total yang harus dibayarkan oleh nasabah adalah 112 juta rupiah untuk jangka waktu 1 tahun.

‘’Ketika nasabah melunasi di bulan keenam, maka yang 6 juta sebagai akibat dari harga 6 bulan yang akan datang tidak dibayarkan karena itu merupakan harga ketika dilunasi di bulan keenam,’’ jelasnya.

Kiai Maksum menegaskan bahwa sisa pembiayaan dari bulan ketujuh sampai bulan kedua belas tidak boleh ditagih. Menurutnya, skema proporsional ini merupakan contoh untuk mempermudah karena dalam praktiknya dikenal juga sebagai praktik anuitas.

Baca Juga :  KHUTBAH JUMAT: Mempersiapkan Bekal Sebelum Kematian

‘’Karena itu, penentuan berapa yang harus dibayar nasabah dalam pelunasan dipercepat perlu disusun suatu model tertentu untuk menghindari perselisihan antara LKS dan nasabah. Otoritas Jasa Keuangan diharapkan menyusun formula tersebut sebagai rujukan,’’ pungkasnya. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Semarakkan HUT Kota Bandung, Ratusan Anak Ikuti Khitanan Massal

Sen Sep 26 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Beragam cara dilakukan masyarakat Kota Bandung saat memperingati Hari Jadi ke-212 Kota Bandung (HJKB), salah satunyakhitanan massal yang digelar oleh Yayasan Rumah Tunas Bangsa Kota Bandung di Gedung Gelanggang Muda (GGM) Kota Bandung, Minggu, 25 September 2022. Bertajuk ‘Dari Hati Kita Peduli’, khitanan massal […]