Search
Close this search box.

Netizen Ramai Bela Polisi di Kasus Kalibata: Aksi Polisi yang Lindungi Masyarakat Dihargai

Enam anggota polisi memjadi tersangka dalam kasus penganiayaan di TMP Kalibata yang menyebabkan dua korban meninggal dunia. /tribratanews

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Kasus penganiayaan yang terjadi di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Kamis, 11 Desember 2025, masih menjadi sorotan publik. Dua orang korban, Miklon Edisafat Tanone (41) dan Novergo Aryanto Tanu (32), meninggal dunia akibat penganiayaan yang diduga dilakukan oleh enam anggota polisi dari Satuan Pelayanan Markas (Yanma) Mabes Polri. Namun, meskipun insiden ini melibatkan aparat penegak hukum, sejumlah netizen justru memberikan dukungan kepada pihak kepolisian yang terlibat dalam menangani kasus ini.

Dalam beberapa hari terakhir, beragam komentar positif muncul di media sosial, menyatakan dukungan terhadap polisi yang mereka anggap bertindak untuk melindungi masyarakat. Banyak netizen yang mengapresiasi keberanian dan ketegasan sejumlah oknum polisi dalam menghadapi situasi kritis di Kalibata, meskipun aksi mereka berujung pada penetapan sebagai tersangka.

“Saya salut dengan polisi yang sudah ‘berbuat’ untuk kepentingan masyarakat. Tidak mudah menjaga ketertiban,” tulis akun Twitter @yonq3287. Banyak yang menilai bahwa polisi yang terlibat dalam peristiwa tersebut, meski berada di bawah sorotan, seharusnya mendapatkan penghargaan atas tindakannya yang dianggap melindungi warga.

Salah satu netizen, @baksokakus-k5e, menambahkan, “Akhirnya, masih ada 6 polisi yang berguna. Keren!” Komen-komen seperti ini terus bermunculan sebagai bentuk dukungan terhadap tindakan tegas aparat dalam menanggulangi premanisme yang dianggap meresahkan masyarakat, meskipun mengorbankan dua korban dalam insiden tersebut.

Di sisi lain, banyak pula yang mengkritik aparat penegak hukum dengan argumen bahwa kejadian ini bisa berpotensi merusak citra institusi kepolisian. Sebagian besar dari mereka menyayangkan bahwa tindakan aparat yang bertujuan menegakkan hukum malah harus berujung pada kekerasan. Akun @id_IDK-p5u menulis, “Kacau kalau begini caranya, namanya melegalkan Debt Collector (DC) dengan kekerasan, besok-besok polisi cuma diam karena takut dihukum.”

Baca Juga :  Citra Satelit Ungkap Perubahan Sikap Militer AS di Timur Tengah, Sistem Rudal di Qatar Kini Lebih Mobile

Namun, dalam berbagai forum diskusi, banyak yang melihat peristiwa ini sebagai bagian dari masalah yang lebih besar terkait dengan premanisme yang berkembang di kalangan sejumlah kelompok di masyarakat, terutama para debt collector yang sering beroperasi dengan cara kekerasan. Seperti yang disampaikan oleh @CahSolo998, “Demokrasi liberal membuat premanisme bertumbuh subur, terutama untuk ras tertentu yang dimanfaatkan untuk premanisme berkedok pekerjaan.”

Kasus ini mulai terungkap setelah Polsek Pancoran menerima laporan penganiayaan dan pembakaran fasilitas warga di sekitar area parkir TMP Kalibata pada sore hari tersebut. Polisi bergerak cepat, dengan mengamankan lokasi dan memeriksa sejumlah saksi yang ada di tempat kejadian. Selain dua korban tewas, kerusakan fisik yang terjadi termasuk pembakaran terhadap sejumlah kendaraan dan kios warga.

Penyidik telah menetapkan enam anggota polisi sebagai tersangka setelah menemukan bukti permulaan yang cukup terkait pengeroyokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Meski demikian, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, Kepala Divisi Humas Polri, menegaskan bahwa Polri akan tetap bertindak profesional dan transparan dalam menangani kasus ini, tanpa pandang bulu meskipun pelakunya adalah anggota kepolisian.

“Kami tidak mentolerir tindakan melanggar hukum. Penegakan hukum dilakukan secara objektif dan profesional,” ujar Brigjen Trunoyudo dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat malam, 12 Desember 2025. Ia juga menegaskan bahwa kasus ini akan diproses baik secara pidana maupun pelanggaran etik sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Polri.

Bagi banyak warga, tindakan cepat Polri dalam menindaklanjuti kasus ini menunjukkan komitmen serius untuk menjaga kepercayaan masyarakat. “Polisi yang seperti ini justru responsif dalam melindungi masyarakat,” kata @irwanmaulana6412, yang mewakili suara sebagian netizen yang mendukung penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan.

Baca Juga :  Israel Masuk Board of Peace, Pakar Ingatkan Risiko Diplomatik bagi Indonesia

Kasus ini pun semakin memperlihatkan pentingnya pemahaman dan penegakan aturan terkait keberadaan debt collector, yang selama ini sering mendapat sorotan atas praktik-praktik kekerasan yang mereka lakukan. Netizen berharap, dengan adanya penegakan hukum yang tegas, tindakan serupa tidak terulang kembali dan aparat kepolisian dapat menjadi pelindung yang sesungguhnya bagi masyarakat, sebagaimana diamanatkan dalam tugas mereka.

Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas adalah bahwa kasus ini menggambarkan dinamika yang sangat kompleks antara upaya menjaga ketertiban dan potensi penyalahgunaan kewenangan. Kasus ini akan menjadi bahan evaluasi bagi institusi kepolisian untuk terus memperbaiki diri dan menjaga integritas sebagai penjaga keamanan di tengah masyarakat.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :